Review

Puisi O, Ketuhanan, dan Pandemi di Bulan Syawal

3 Mins read

Tidak terasa bulan Syawal telah kita lalui sepanjang kurang lebih dua mingguan. Walaupun bagi beberapa orang hal ini menjadi  kesedihan yang mendalam karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga tercinta di kampung halaman. Kerisauan dan kerinduan akan kehidupan normal sebelum masa pandemi berlangsung ternyata juga tertuang di dalam puisi O karya Sutardji Calzoum Bachri.

Puisi O

Dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
Resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
Raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
Mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai                          

Siasisaku siasiakau siasiasia siabalau siarisau siakalian siasiasia
Waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswas
Duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
Oku okau okosong orindu okalian obolong orisau oKau O….

Puisi O ini meninggalkan banyak tanda tanya ketika membacanya untuk pertama kali. Pada pembahasan kali ini, kita akan mengulas lebih dalam makna yang tersirat di dalam puisi O karya Sutardji Calzoum Bachri.

Kerisauan

Di dalam puisi ini terdapat empat kata yang bisa kita coba pahami berdasarkan kemampuan inderawi yang kita miliki, yaitu kata ngiau, guru, bolong, dan gapai.

Bila mendengar kata ngiau pasti secara tidak langsung berkaitan dengan bunyi yang dihasilkan seekor kucing yang sedang lapar atau menginginkan sesuatu. Keterkaitan dengan masa pandemi saat ini yaitu kucing diibaratkan seluruh masyarakat sedang kesulitan mencari rezeki untuk bertahan hidup.

Selanjutnya pemaknaan kata guru. Makna secara inderawi guru merupakan seseorang yang mengajarkan kita tentang segala sesuatu, menularkan ilmu yang ia miliki, memberikan pelajaran di berbagai bidang, dan tentunya dihormati.

Kata guru bisa dicerminkan sebagai pejuang medis, para ulama, politisi, aparat dan orang-orang di berbagai bidang pemerintahan yang memberikan edukasi dan solusi kepada masyarakat. Namun, sesuai dengan kenyataan yang ada di dalam kehidupan tidak semua siswa mampu menghormati seorang guru dengan segala upayanya untuk menjadikan bangsa Indonesia lebih bermartabat.

Baca Juga  Shalat Tarawih: Tinjauan Sejarah dan Ushul Fikih

Sedangkan kata ketiga yang ditemukan di dalam puisi adalah kata bolong. Bolong memiliki makna sesuatu yang berbentuk bulat, tanpa batas. Ada makna ketuhanan di dalamnya, yakni Tuhan itu tidak memiliki ujung, tanpa batas. Bahkan angka yang paling awal yaitu angka 0 berbentuk bulat dan bolong. Hal ini juga menunjukkan bahwa Tuhan adalah awal mula dari segala sesuatu.

Terakhir yaitu kata gapai yang memiliki makna mencapai atau meraih sesuatu. Sedangkan untuk oposisi biner yang bersifat abstrak, bisa ditemukan pada kata kosong, kata kosong memberikan pemaknaan tentang kekosongan, kesepian, luas, nyaman, dan tidak  ada siapapun di sana. Suasana gelisah tergambar pada kata resah, risau, dan balau.

Suasana putus asa juga tergambar di dalam kata sia-sia. Kecemasan di dalam puisi ini juga terlihat pada kata ragu dan was-was. Perasaan sakit dan sedih tidak lupa terlihat pada kata duka, duhai dan ngilu. Seluruh kegelisahan di dalam puisi O, saat ini sedang kita alami. Kesakitan, kesedihan, putus asa dan juga kecemasan.

Bulan Syawal di Masa Pandemi

Sutardji Calzoum Bachri mencoba mengarahkan manusia untuk selalu mengingat Tuhan bagaimanapun keadaannya. Baik mutlak karena kesedihannya, kesehatannya, ataupun kegelisahan yang sedang dialami.

Kata Kau yang ada di akhir puisi ditulis dengan huruf kapital. Hal ini semakin mempertegas bahwa puisi ini mengandung pesimistis dan keresahan tentang hubungan makhluk dan sang pencipta. Puisi ini selaras dengan kondisi yang sedang dialami di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.

Kata ngiau, guru, bolong, dan gapai seolah-olah mencerminkan kehidupan kita di masa pandemi. Namun di awal puisi seolah-olah Sutardji Calzoum Bachri menyampaikan kita memiliki Tuhan dan harapan bahwa pandemi ini akan segera berakhir.

Baca Juga  Kulakan Hikmah dalam Beauty and The Bis

Untuk mengisi kegelisahan dan keresahan bulan Syawal di masa pandemi. Bisa kita hadapi dengan melakukan berbagai kebaikan, seperti berpuasa 6 hari di bulan Syawal, meningkatkan silaturahmi, serta melakukan ibadah sunah yang lainnya.

Di Indonesia terdapat berbagai cara dalam mengisi bulan Syawal. Contohnya tradisi kupatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa, tradisi Tellasen Petto yang dilakukan masyarakat Madura, tradisi Lopis Raksasa yang dilakukan masyarakat Pekalongan, dan masih banyak yang lainnya.

Sebenarnya jika diperhatikan, esensi dari berbagai tradisi bulan Syawal di Indonesia yaitu menjalin silaturahmi dan mendekatkan diri kepada sang pencipta. Tujuannya agar kita tidak lupa bahwa amalan selama bulan Ramadan harus tetap kita lakukan walaupun bulan Ramadan sendiri sudah berakhir. 

Namun saat ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukan berbagai tradisi di bulan Syawal secara langsung demi meminimalisir kemungkinan tertular Covid-19. Akhirnya, silaturahmi pun dapat dilakukan secara daring.

Karya sastra sendiri merupakan cerminan kenyataan yang berbentuk bunyi serta memiliki sifat estetis mendalam. Pada intinya, walaupun Puisi O karya Sutardji Calzoum Bachri dibuat jauh sebelum pandemi ini terjadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan wabah saat ini.

Tetapi karyanya berhasil menunjukkan religiusitas yang mendalam bagi kehidupan, serta memberikan pesan bahwa segala ketakutan akan teratasi ketika kita bergantung kepada sang Ilahi.

Editor: Rifqy N.A./Nabhan

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah
Articles
Related posts
Review

Kisah-Kisah Lucu Orang Madura di Tanah Suci

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Berbincang mengenai jamaah haji yang sedang menunaikan rukun Islam kelima, saya tiba-tiba teringat dengan sebuah buku yang…
Review

Menyingkap Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Kisah-kisah yang tertuang di dalam buku ini, Kisah-Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani, sama persis dengan judul…
Review

Suleymanli & Gulen, Wajah Komunitas Muslim yang Akomodatif dengan Nilai Barat

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pada abad ke-20, minoritas Muslim muncul di Eropa untuk mencari pekerjaan, perlindungan dari konflik dan perang, serta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *