Rekreasi Intelektual: Membaca Pemikiran KH Muchtar Adam - IBTimes.ID
Ulama

Rekreasi Intelektual: Membaca Pemikiran KH Muchtar Adam

3 Mins read

“Assafaru madrasatun kabiratun, perjalanan itu adalah sekolah yang sangat besar manfaatnya”

Ungkapan di atas sering diungkapkan oleh KH Muchtar Adam, pimpinan pondok pesantren Babussalam Bandung. Beliau sangat aktif memberikan kajian-kajian tafsir Al-Qur’an lewat media sosial. Beliau sangat intens melakukan perjalanan safari dakwah di berbagai daerah di Indonesia.

Beliau juga seorang Kyai yang sangat produktif di dunia tulis menulis. Sudah banyak buku yang beliau hasilkan utamanya buku yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan perbandingan mazhab.

Pada tahun 1997, kami dengan teman teman dari pendidikan kader ulama Sulsel yang dipimpin oleh Dr Ahmad M Sewang, mengunjungi pesantren KH Muchtar Adam di Dago Bandung. Beliau yang langsung menjemput kami di stasiun kereta, Muchtar Adam adalah seorang Kyai yang tawadhu dan sangat luas wawasan keilmuannya.

Beliau menerima kami dengan sangat ramah dan penuh persaudaraan. Kami nginap di pesantren Beliau selama dua hari. Dan beliau memberikan wejangan kepada kami tentang perkembangan pemikiran Islam dalam konteks keindonesiaan dan dunia internasional.

Kesuksesan KH Muchtar Adam

KH Muchtar Adam bukan hanya sukses dalam membina pesantren Babussalam, yang sudah terbuka cabangnya di berbagai daerah Indonesia, tetapi Beliau adalah seorang yang sangat cinta terhadap ilmu.

Ini terbukti dengan banyaknya buku karangannya yang sudah diterbitkan. Beliau juga seorang Kyai yang sangat aktif dalam berdakwah. Beberapa kali saya ikuti ceramahnya setiap datang ke Makassar. Beliau pernah diundang untuk memberikan kuliah umum di pengkaderan ulama (PKU) Sulsel.

Beliau waktu itu mengupas salah satu buku kumpulan tulisan yang diterbitkan oleh Mizan, yakni “Ijtihad dalam Sorotan”. Di antara penulis dalam buku tersebut, adalah Prof Ibrahim Hosen, yang Bapak dari Prof Nadirsyah Hosen, Prof Harun Nasution, Quraish Shihab, Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Syafi’i Maarif, Haidar Bagir, dan KH Muchtar Adam.

Baca Juga  Muhammad Abduh: Salafisme Progresif dan Gagasan Pembaruan Islam

Kyai yang Intelek

Beliau model Kyai yang intelektual, dan intelektual yang Kyai. Beliau dalam berbagai ceramahnya selalu memanfaatkan momentum dalam setiap perjalanannya untuk memanfaatkan kesempatan untuk memperdalam keilmuannya. Dalam setiap kunjungannya keluar negeri, tidak pernah alpa untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan keilmuan dan makam-makam para ulama terdahulu.

Dalam setiap kunjungannya selalu memanfaatkan waktu untuk menuangkan dalam bentuk tulisan yang menghasilkan sebuah buku. Kebanyakan buku Beliau terbit dari hasil perjalanan intelektual.

Inti Agama adalah Ma’rifatullah

Salah satu juga ungkapan Beliau yang sering disampaikan adalah, bahwa “Inti dari agama adalah ma’rifatullah, inti dari ma’rifatullah adalah akhlak, inti dari akhlak adalah silaturrahim dan inti dari silaturrahim adalah idkhalussurur ‘ala qalbi mukmin, memasukkan rasa bahagia ke hati saudara kita”.

Ini bukan cuma diungkapkan lewat kata kata. Tapi beliau juga sangat konsisten menjalankan ungkapan ini. Itulah sebabnya salah satu buku beliau yang masuk dalam kategori best seller yakni buku “Ma’rifatullah”. Buku ini mencoba mengupas tentang membangun kecerdasan spritual, intelektual, emosional sosial dan akhlak karimah.

Inilah buku masterpiece dari Kyai Muchtar Adam. Rangkuman dari pemikiran beliau tertuang dalam buku ini. Bahwa Puncak kebahagiaan dan ketenangan seorang muslim adalah pada saat ia tidak lagi mengalami konflik batin, tidak merasa cemas, dan tidak lagi dihantui rasa takut serta was-was.

Dalam keadaan ini, hati seseorang akan bening, hidupnya menjadi Indah, tenang tanpa rasa takut, rezeki dan usahanyapun akan penuh berkat. Sebuah cara untuk mencapai keadaan tadi adalah melalui ma’rifatullah.

Secara sederhana, ma’rifatullah adalah mengenal Allah atau merasakan kehadirannya. Dengan ma’rifatullah tidak ada lagi celah dan kesempatan bagi kita untuk berbohong, berlaku curang, serta melakukan maksiat. Keguncangan jiwa seperti susah tidur, depresi, dan stress pun dapat teratasi.

Baca Juga  Khabib, Petarung Sejati yang Berbakti pada Orang Tua

Dalam buku ini KH Muchtar Adam mencoba mengantar untuk menuju ma’rifatullah dengan mengamalkan keistimewaan dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan secara sistematis kita akan dibimbing menuju ma’rifatullah melalui metode akal, asmaul husna, dan ibadah.

Buku ini sangat layak untuk dikaji oleh siapapun tanpa membeda bedakan latar belakangnya.

Ukhuwah antar Mazhab

Salah satu juga yang menjadi buah pemikiran yang sering disampaikan oleh KH Muchtar Adam adalah ukhuwah antar mazhab. Sebagaimana yang dipraktikan oleh tokoh tokoh mazhab, mereka sangat saling menghargai pendapat masing-masing, seperti yang pernah diungkapkan oleh Imam Abu Hanifah yang mengatakan, “Laula sanatani lahalaka Nu’man”, seandainya tidak pernah sama sama Imam Ja’far selama dua tahun maka celakalah Abu Hanifah “.

Itulah adalah salah bentuk penghargaan intelektual dari Abu hanifah terhadap Imam Ja’far Sadiq. Betapa ukhuwah intelektual yang harus dikedepankan. Bukan menganggap mazhab saya lah yang paling benar.

Pernah juga suatu ketika, cerita Prof Ahmad M Sewang sewaktu dialog akhir tahun kemarin di Immim di hadapan para muballigh se kota Makassar. Beliau mengatakan bahwa kita harus mencontoh Buya Hamka tentang toleransi dalam bermazhab, ketika Buya Hamka berkunjung ke Makassar dan dipersilahkan untuk menjadi Imam salat Subuh di salah satu masjid di kota Makassar. Sebelum salat dimulai Beliau bertanya kepada jamaah mesjid, apakah disini pakai qunut?

Karena di mesjid itu jamaahnya pakai qunut, maka Buya Hamka memakai qunut dalam salat subuh. Padahal, Beliau tidak pakai qunut kalau salat subuh. Itulah bentuk toleransi yang dikedepankan dalam beragama. Sepanjang berbeda dalam hal furu’iyyah, yang harus kita kedepankan adalah mazhab ukhuwah.

Itu juga yang dicoba diwariskan oleh KH Muchtar Adam dalam mengimplementasikan mazhab pemikirannya. Beliau sangat mengedepankan mazhab ukhuwah dalam beragama. Bahwa ber-ma’rifah itu adalah menerjemahkan bahasa tauhid dalam ranah kemanusiaan (Bumi Pambusuang, 07 Juli 2021).

Baca Juga  Djindar Tamimy (2): Pokok-pokok Pengertian Agama Islam

Editor: Rozy

Avatar
26 posts

About author
Kepala Madrasah Aliyah Nuhiyah Pambusuang, Sulawesi Barat.
Articles
Related posts
Ulama

Syekh Zakaria, Anak Yatim yang Bersemangat Mencari Ilmu

4 Mins read
Nama lengkapnya adalah Zainuddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari al-Khazraji as-Sunaiki al-Qahiri al-Azhari asy-Syafi’i, atau yang kerap…
Ulama

Abbas Ibn Firnas: Sang Penerbang Pertama dari Andalusia

2 Mins read
Abbas Ibn Firnas – Dunia mungkin mencatat Wright bersaudara sebagai penemu pesawat terbang. Tetapi, jauh sebelum itu, terdapat tokoh lain yang menemukan…
Ulama

At-Thabaqat al-Kubra Karya Ibnu Sa’d: Rujukan Historiografi Islam Awal

3 Mins read
Asal Muasal Kitab at-Thabaqat al-Kubra at-Thabaqat al-Kubra – Ibn Sa’d, 168-230 H/ 784-845 M, adalah salah satu pelopor penulisan biografi dalam literatur…

Tinggalkan Balasan