Kiai Dahlan: Ulama Puritan Modernis yang Inklusif - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kiai Dahlan: Ulama Puritan Modernis yang Inklusif

5 Mins read

Bagaimana paham KHA. Dahlan hendaknya menjadi pegangan pokok bagi kader penerus Muhammadiyah. Demikian pula keteguhan Kiai Dahlan dalam memperjuangkan Islam dapat menjadi pedoman dan perhatian kita bersama, umat Islam di Indonesia.

Kiai Dahlan, Ulama yang Berbeda

Beliau mempunyai keistimewaan terhadap rasa takut tentang adanya bahaya besar, yang di sebut dalam al-Qur’an pada surat an-Naba’. Sehingga kata-kata yang keluar dari beliau nampak ketika memberikan pelajaran 7 falsafah dan 17 kelompok ayat al-Qur’an. Ketika di akhir usianya, saat beliau sakit, nampak beliau sedang dalam sifat raja’, yaitu mengharap-harap rahmat Tuhan.

KHR Hadjid dalam bukunya Pelajaran KH A Dahlan edisi PDF 2018 mengatakan : “Seumpama para ulama saya gambarkan sebagai tentara, dan kitab-kitab yang tersimpan dalam perpustakaan dan toko-toko kitab saya gambarkan sebagai senjata-senjata yang tersimpan dalam gudang. Maka Kiai Ahmad Dahlan adalah ibarat salah satu tentara itu yang tahu betul bagaimana menggunakan bermacam-macam senjata itu menurut sebagaimana mestinya”.

Kiai Dahlan Mengkritik Teologi Pasrah

Situasi umat Islam era KH A Dahlan ketika dijajah oleh Belanda, ada beberapa perilaku umat Islam yang tidak tepat. Walaupun, tahun-tahun itu awal akan kebangkitan Islam, dengan adanya tokoh-tokoh pembaharu Islam. Beberapa tokoh pembaharu Islam tersebut nantinya akan menjadi inspirasi KH A Dahlan.

Sebagian umat Islam banyak memakai Teologi Pasrah, misalnya, “Ya, mau bagaimana lagi kalau yang kuasa berkehendak Negara kita dijajah ya sudah dijajah saja”. Sehingga dengan teologi pasrah ini menjadi kebiasaan untuk menyelesaikan masalah dengan jalur supranatural.

Kiai Dahlan mengkritik teologi pasrah, kalau kita seperti ini terus kapan kita merdeka dan maju. Kiai Dahlan belajar dengan non-Muslim dengan melihat orang Belanda kalau sakit pergi ke Dokter. Sedangkan orang pribumi kalau sedang sakit ini diobati lewat jalur mistik.

Dari sini Kiai Dahlan membuat gagasan kenapa orang pribumi menggunakan teologi pasrah, kuncinya berasal dari kurangnya ilmu. Ketika itu orang tidak bisa menaklukkan laut, takut dengan laut. Kalau kita tahu ilmunya maka kita bisa menaklukkan laut dengan kapal. Jangankan laut, udara pun sekarang sudah ditaklukkan dengan pesawat.

Kiai Dahlan mengingatkan ada beberapa hal yang baik dari penjajah Belanda, tidak semua tradisi Belanda itu buruk. Meskipun kalau persoalan menjajah sudah pasti buruk. Kalau semua hal dari Belanda dianggap buruk, maka akan ada hal-hal yang baik untuk di contoh akan terlewatkan.

Baca Juga  Pesan Kiai Dahlan: Menyampaikan Agama Tidak Boleh dengan Hawa Nafsu

Pemikiran KH A Dahlan yang Inklusif

Kiai Dahlan heran dengan kebanyakan orang yang merasa benar dengan pemikiranya masing-masing. Umat non-Muslim merasa bahwa yang beragama Islam akan celaka, sebaliknya umat Islam merasa bahwa yang selain Islam akan celaka.

Kiai Dahlan prihatin dengan hal itu maka beliau memberikan saran agar para pemimpin agama itu saling musyawarah dengan golongan lain di luar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar itu dan manakah sesungguhnya yang salah itu.

Bahkan di umat Islam sendiri juga timbul pemikiran yang merasa benar sendiri. Misalnya, golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah dengan golongan yang lain terdapat perbedaan pendapat. Tiap golongan sampai pada perseorangan, mereka menganggap bahwa dirinya yang benar dan sudah benar, kemudian menyalahkan kepada lainnya.

Dalam pelajaran ketiga KH. A Dahlan, manusia itu di lahirkan dalam keadaan suci hatinya, lingkungan yang akan mengisi pengetahuan yang akan membentuk pola berfikirnya. Kalau diibaratkan manusia sebagai botol, siapa saja boleh mengisi dengan isi sembarangan.

***

Apa saja yang telah dimiliki dari keyakinan dan perbuatannya menjadi kesenangan dan kepuasan, dan selanjutnya menjadi keyakinan. Kemudian menganggap bahwa hanya itu yang benar. Bilamana ada hal yang berbeda dengan keyakinan dirinya, maka hal itu dianggapnya salah.

Manusia itu sekali-kali perlu mendengarkan ucapan dari orang lain, jangan sampai menolak dari pihak lain. Dari pengetahuan yang masuk disaring dipikir ulang agar bisa membedakan mana yang benar dan yang kurang baik.

Manusia perlu mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Manusia yang tahu caranya mencuri, tidak dapat disebut sebagai pencuri kecuali kalau memang benar-benar dia itu mencuri. Dan orang Islam pun yang tahu seluk-beluk agama Kristen juga tidak lalu menjadi Kristen, kecuali kalau memang mengamalkannya.

Apa saja seperti pengetahuan, kepercayaan, yang kau miliki, jangan tergesa-gesa diputus sendiri, lalu dianggap benar. Hendaklah dipikir dahulu dan dikoreksi, apakah sungguh sudah benar. Manusia belum memperoleh barang haq, sebab masih bodoh akan apa sebenarnya barang yang haq, atau sebab menolak barang yang haq, karena yang membawa barang yang haq itu dianggap musuh atau bodoh.

Ketika diangkat menjadi Khatib Masjid Gede Kauman, dalam kesempatan pertama khutbah di masjid itu, Kiai Dahlan menyinggung soal kemudahan yang diberikan agama. ‘’Merahmati itu artinya melindungi, mengayomi, membuat damai, tidak mengekang atau membuat takut umat, atau membuat rumit dan berat kehidupan Muslim dengan upacara-upacara dan sesajen yang tidak pada tempatnya,’’ ujar Kiai Dahlan.

Baca Juga  Abdul Mu'ti: Iso Rumongso bukan Rumongso Iso

Tapi, untuk perayaan grebeg yang dianggap sebagai bagian dari dakwah Islam Kiai Dahlan tak mengkritiknya. Untuk menyampaikan pandangannya, Kiai Dahlan memilih tak bertatap muka dengan Sultan, karenanya beliau bertemu di ruang gelap dalam buku Purifying the Faith: The Muhammadijah Movement in Indonesian Islam, JL Peacock, 1992. (Priyantono Oemar : Keluwesan Sang Pencerah, Republika, 2010 )

Muhammadiyah Membendung Kristenisasi

Kesadaran dan respon Kiai Dahlan terhadap kristenisasi untuk memperingatkan kaum muslimin akan melakukan pergerakan dan jangan hanya diam. Kiai Ahmad Dahlan juga mengingatkan bahwa meskipun Islam tidak akan pernah lenyap dari muka bumi, kemungkinan Islam lenyap di Indonesia tetap terbuka. (Alwi Shihab, Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen Di Indonesia, Bandung: Mizan, 1998, hlm. 143)

Teologi Surah al-Ma’un yang menyerukan agar cinta dan kasih sayang tercerminkan dalam aksi-aksi konkret dan penekannya agar ajaran-ajaran al-Quran ini diterapkan dalam berbagai proyek pengembangan masyarakat, telah memperkukuh keputusannya untuk secara tegas berkompetisi, bahkan terkadang konfrontasi, dengan kegiatan misi Kristen.

Kiai Dahlan dalam menandingi misi kristen, maka Muhammadiyah perlu mendirikan lembaga- lembaga sosial seperti mendirikan sekolah, panti asuhan, klinik, di seluruh Indonesia. Strategi Ahmad Dahlan memunculkan tudingan dari banyak kalangan bahwa Muhammadiyah adalah “Kristen Alus” atau “Kristen Putih”, sebagaimana dikemukakan Buya Ahmad Syafii Maarif (Citra Muhammadiyah sebagai Gerakan Anti Misi Kristen Indonesia, Jurnal Tajdida, 2011).

***

Ada tiga variabel lain yang dipertimbangkan Kiai Ahmad Dahlan untuk menggerakkan Muhammadiyah dalam merespon misi Kristen ini, yaitu: pertama, “Ordonansi Guru” oleh pemerintah kolonial Belanda. Melalui ordonansi ini pemerintah Belanda berharap dapat melakukan pengawasan terhadap aneka kegiatan guru dan murid di sekolah agama-agama, dengan membatasi gerakan guru-guru agama dan umumnya untuk menghambat kemajuan Islam.

Kedua, pelanggaran pemerintah Belanda terhadap kebudayaan lokal. Pada tahun 1919 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan dekrit yang mengakibatkan penerapan hukum adat. Akibatnya, kaum Muslim khususnya merasa sakit hati, namun tidak ada yang bisa dilakukan mereka terkecuali memobilisasi usaha-usaha untuk mengadakan perlawanan terhadap rezim kolonial yang ingin mendukung dan memajukan aturan-aturan hukum yang diilhami oleh agama Kristen.

Baca Juga  Apakah Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemunduran?

Dan, ketiga, pembentukan freemasonry. Tujuan utama lembaga ini adalah membantu para anggota dan masyarakat luas. Lembaga ini berusaha menghimpun dana dalam bentuk sumbangan yang terorganisasi untuk mendirikan berbagai sarana pendidikan dan sosial. Hal yang dicermati oleh masyarakat Muslim pada saat itu adalah bahwa lembaga Freemasonry Indonesia digerakkan oleh orang-orang Kristen yang sadar diri dan sangat peduli kepada penyebaran Injil.

Akibatnya, kaum Muslim mulai merasakan munculnya bahwa yang dihadapi Islam adalah sebuah situasi yang memberi peluang pada terjadinya upaya Kristenisasi di Indonesia. Menjawab situasi ini, lahirlah gagasan mendirikan Muhammadiyah. Dengan demikian, pendirian Muhammadiyah juga tidak terlepas dari reaksi terhadap keberadaan dan perkembangan pesat Freemasonry. (Alwi Shihab, Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Bandung: Mizan, 1998, hlm 146)

Reaksi Muhammadiyah dan Citra Puritanisme

Peran Muhammadiyah dalam keagamaan di Indonesia adalah sebagai pembendung misi kristenisasi, hal itu juga terjadi pada internal Muhammadiyah dengan misi pemurnian Islam. Pada akhirnya berdampak pada menguatnya citra puritanisme bagi organisasi keagamaan yang hingga kini memiliki pengaruh dan peran penting di Indonesia.

Citra puritanisme dan citra anti misi kristenisasi ini berjalan dari awal pendirian Muhammadiyah, walaupun ini tidak selelu relevan. Kiai Dahlan dapat bersikap toleran kepada kelompok Kristen, juga kelompok agama lainnya. Padahal, kecenderungan para pemuka Islam dan organisasi Islam lainnya lebih memilih cara konfrontatif kepada kelompok Kristen dan pemerintah kolonial Belanda (Alwi Shihab, Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen Di Indonesia, Bandung: Mizan, 1998, hlm. 111). Hal ini digambarkan oleh sikap-sikap Kiai Dahlan yang membendung misi kristenisasi dengan cara membangun masyarakat Islam, bukan secara langsung melawan kristenisasi itu sendiri.

Sikap toleransi terhadap kelompok Kristen dan kegiatan misionaris maupun kesediaannya untuk kerjasama yang kreatif dan harmonis dengan pemerintah Belanda pada saat awal-awal dibentuknya Muhammadiyah, menurut Shihab, tidak terlepas dari pendekatan yang realistis dari Ahmad Dahlan sendiri. Selain itu, Kiai Dahlan juga dikenal dapat bersahabat dengan siapapun demi nilai-nilai kemanusiaan universal.

Editor: Nabhan

Avatar
13 posts

About author
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nusantara Bekasi | Warga Muhammadiyah
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan

6 Mins read
Pembahasan pada bagian sebelumnya telah menyinggung beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat. Selain itu, diulas pula pendapat Jalaludin Rakhmat tentang peran agama di era…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kang Jalal, Kyai Sufistik yang Cerdas Intelektual dan Moral

3 Mins read
Dunia pemikiran Islam Indonesia kembali terguncang dengan kembalinya kehadirat Tuhan seorang pemikir Islam garda depan, cendekiawan yang sufistik Dr KH Jalaluddin Rakhmat….

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa