Kisah Kiai Dahlan Masuk Boedi Oetomo

 Kisah Kiai Dahlan Masuk Boedi Oetomo

Oleh: Mu’tasimbillah Al-Ghozi

Pada tahun 1908,di kota Yogyakarta berdiri perserikatan nasional yang bernama Boedi Oetomo (BO). Sebuah organisasi cabang dari Boedi Oetomo yang didirikan oleh Soetomo dan kawan-kawan di Jakarta. Di Yogyakarta, perserikatan ini dibangun dan dipimpin olah dr Wahidin Soedirohoesodo. Anggotanya terdiri para terpelajar di antaranya murid dan guru Sekolah Gubermen Belanda. Tujuannya adalah memajukan soal pendidikan.

Sebuah Pertemuan

Mendengar kabar itu, Kiai Dahlan gembira hatinya dan ingin mengetahui lebih dalam tentang perserikatan ini. Sayang di saat itu tak seorang pun pengurus BO yang dikenalnya. Untunglah ada seorang yang dekat dengan dr Wahidin bernama Mas Joyosoemarto. Mas Joyo ini mempunyai kenalan dan famili yang tinggal di Kauman, lagi pula sering ditengoknya.

Mendengar ini, Kiai berpesan kepada keluarga itu untuk menyampaikan hasrat beliau bertemu dengan Mas Joyosumarto. Pesan itu terlaksana ketika pada hari Ahad Pak Joyo bertamu pada Kiai.

“Saudara siapa dan dari mana?”

“Saya Joyosumarto dari Dagen.”

“Oh, jadi saudara yang bernama Mas Joyosumarto” Kiai sangat gembira. “Alhamdulillah, sudah lama saya ingin bertemu dan sangat mengharap kedatangan Mas Joyo.”

“Ya, saya memang kemari untuk memenuhi kehendak Kiai. Dan barang kali ada kepentingan, apakah kepentingannya itu?”

Lalu, disampaikan keinginan Kiai Dahlan untuk mengetahui lebih dalam tentang BO. Mas Joyo menyanggupi untuk mempertemukan Kiai dengan pengurus BO cabang Yogyakarta.

Kiai Dahlan Masuk BO

Pertemuan dengan Mas Joyo itu sangat mempengaruhi pikiran Kiai. Dipikirkan apa yang akan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ajaran dan pesantrennya. Tetapi juga berakibat lain, perhatian beliau berkurang kepada murid dan pesantrennya. Hingga banyak muridnya yang meninggalkannya.

Pengurus BO telah memberitahukan kesediaan mereka menerima Kiai dalam suatu pertemuan yang akan diadakan di rumah dr Wahidin di Ketandan, Yogyakarta. Dan kedatangan Kiai disambut sebagai kawan sendiri, dengan ramah-tamah sehingga hilanglah rasa canggung dan malu di hati Kiai. Setelah dua tiga kali ikut menghadiri rapat BO, makin jelas dan terang pengertian Kiai tentang organisasi ini. Akhirnya, Kiai menyatakan rasa hatinya untuk masuk ke dalam BO dan sanggup memikul tugas sesuai dengan keahliannya.

Baca Juga  Ash-Shinf, Gerakan Kaum Buruh Pertama dalam Sejarah Umat Islam

Kiai ikut dalam kepengurusan di samping juga terus memberikan dakwah di dalam BO. Ternyata dakwah tentang Islam ini dapat diterima dan dimengerti oleh anggota pengurus. Lebih lanjut dakwahnya diperluas kepada anggota yang lain, bahkan akhirnya untuk memberi dakwah kepada para siswa sekolah guru (waktu itu disebut Sekolah Raja) pemerintah Belanda. Kepala sekolah itu, Raden Budiharja, tidak keberatan asal pengajian tersebut diadakan di luar jam sekolah kepada para murid yang berminat. Dan itu pun akan dibicarakan dahulu dengan Inspektur kepala. Dan ternyata itu pun berhasil.

Sumber: artikel “Peristiwa Kelahiran Muhammadiyah” karya Mu’tasimbillah Al-Ghazi

(Suara Muhammadiyah No 3/Th ke-57/1977). Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat penyuntingan

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *