Konsep Menjaga Kebersihan Menurut Islam - IBTimes.ID
Akhlak

Konsep Menjaga Kebersihan Menurut Islam

3 Mins read

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi hidup sehat. Karenanya, Islam juga mengajarkan pada pemeluknya untuk menjaga kesehatan. Ajaran tentang menjaga kesehatan bermuara kepada bagaimana umat muslim menjaga kebersihan itu. Di antaranya berdasarkan hadis yang cukup populer, yaitu:

“Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: Suci itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim) 

Akan tetapi, ketidaktahuan dan ketidakpedulianlah yang menjadikan hadirnya berbagai macam problematika, terutama kepada menjaga kesehatan. Salah satunya terkait tentang bagaimana sehat itu penting, dengan Islam memerintahkan umat manusia untuk menjaga kebersihan.

Kebersihan dalam Islam

Kebersihan adalah salah satu bagian penting di dalam Islam. Keber­sihan, kesehatan, dan kesucian merupakan bagian dari kesempurnaan nikmat yang dibe­rikan Allah kepada hambaNya. Karena bersih merupakan modal awal dari hidup sehat, yang mana kesehatan merupakan nikmat yang tidak ternilai harganya.

Allah berfirman dalam hal ini, “Allah tidak ingin menjadikan kamu susah, tetapi Dia ingin menyucikan kamu dan me­nyem­purnakan nikmatNya kepadamu semo­ga kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)

Sangat jelas dikatakan bahwa kebersihan dan kesucian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Oleh sebab itu, orang yang tidak menjaga kebersihan, kesehatan, dan kesucian, sama dengan telah mengabaikan sebagian dari nilai keimanan. Sehingga, dia belum terma­suk orang yang betul-betul beriman secara keseluruhan.

Di tengah situasi pandemi Covid-19, kesehatan menjadi sangat mahal harganya. Ini dapat dilihat dengan pola-pola hidup bersih dan sehat yang senantiasa digencarkan oleh pemerintah, dari cuci tangan pakai sabun, berolahraga, mengonsumsi makanan yang bergizi, hingga tren gowes pun tidak kalah populer menjadikan orang-orang berbondong-bondong beli sepeda. Semua ini dalam rangka membentuk manusia yang sehat.

Baca Juga  Djindar Tamimy (2): Pokok-pokok Pengertian Agama Islam

Namun, kebersihan amat erat kaitannya dengan kesehatan. Ketika seseorang peduli dan tanggap akan kebersihan, maka kesehatannya pun akan terjaga pula. Agama kita yaitu Islam, sungguh luar biasa dalam memberikan perhatian terhadap persoalan kesehatan. Karena kesehatan merupakan salah satu unsur penunjang utama keimanan dan dalam melaksanakan berbagai hal, baik itu bekerja maupun dalam pelaksanaan aktivitas ibadah kepada Allah Swt.

Kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Tentang Pentingnya Hidup Bersih

Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua buah kuburan, lalu berkata:

“Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar, melainkan karena dia tidak cebok dari kencingnya, sedangkan yang lain karena suka mengadu domba.”

Lalu beliau mengambil pelepah kurma basah, dan membelahnya menjadi dua dan masing-masing ditancapkannya di dua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kenapa kau lakukan itu?” 

Beliau bersabda: “Semoga diringankan siksa keduanya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Hukhari, Kitab Al Wudhu Bab Maa Jaa fi Ghuslil Baul, Juz. 1, Hal. 365, no hadis. 211)

Dari kisah tersebut, sudah jelas bahwa persoalan keimanan seorang muslim sangat dipengaruhi bagaimana seseorang tersebut menjalankan kebersihan yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, mari kita kembalikan kuatnya keimanan kita dengan cara kembali menjalankan kebersihan diri kita dan lingkungan sekitar kita, serta sarana pencegahan penyebaran virus Corona. Beberapa cara yang mungkin bisa kita lakukan, antara lain sebagai berikut:

Cara Menjaga Kebersihan Diri Menurut Islam

Pertama, menjaga kebersihan diri. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersihkanlah jasad-jasad ini semoga Allah membersihkan kalian, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam suatau malam dalam keadaan suci melainkan seorang malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimutnya, tidaklah dia bergerak pada suatu waktu dari malam melainkan malaikat itu berdoa: “Wahai Allah, ampunilah untuk hamba-Mu sesungguhnya dia tidur malam dalam keadaan suci.” (HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 3936)

Baca Juga  Bagaimana Cara Memilih Guru? Ini Nasihat Syaikh Az-Zarnuji

Kedua, menghilangkan kotoran, bakteri dan kuman dengan memotong kuku, menghabiskan bulu ketiak, bulu kemaluan, berkhitan, menipiskan kumis. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah ada lima atau lima perkara dari fitrah; berkhitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, mencuci tangan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke bejana sampai dia membasuhnya tiga kali, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui dimanakah tangannya bermalam.” (HR. Muslim)

Keempat, menjaga pola dan tata cara makan.

Al Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang manusia mengisi sebuah tempat yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi seorang manusia beberapa suapan yang menegakkan punggungnya, dan jika hawa nafsunya mengalahkan manusia, maka 1/3 untuk makan dan 1/3 untuk minum dan 1/3 untuk bernafas.” HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2265.

Kelima, membagi minuman atau bernafas ketika minum. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernafas ketika minum sebanyak tiga kali, beliau bersabda: “Sesungguhnya ini lebih Arwa (menghilangkan haus), Abra (melepaskan penyakit) , Amra”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Bernafas ketika minum artinya adalah: ketika minum beliau bernafas, kemudian minum lagi kemudian bernafas kemudian minum lagi dan bernafasnya dilakukan diluar tempat minumnya.

Keenam, menutup tempat makanan dan minuman yang terisi. Jabir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah tempat-tempat makanan, tempat-tempat minuman karena sesungguhnya di dalam setahun ada sebuah malam yang turun di dalamnya wabah penyakit tidak dia melewati sebuah tempat makanan atau minuman yang tidak tertutup, atau tidak ada penghalang di atasnya melainkan turun di dalamnya dari wabah penyakit tersebut.” (HR. Muslim).

Baca Juga  Memaknai New Normal Pasca Ramadhan

Editor: Zahra

Avatar
1 posts

About author
Aktif mengajar di MAN 2 Banyumas [] Sekertaris Bidang Pendidikan dan Kader PDPM Banyumas
Articles
    Related posts
    Akhlak

    Taubat Nasuha untuk Revolusi Akhlak

    3 Mins read
    Sedang ramai orang bahas kata ‘revolusi akhlak’ yang akan dilakukan seorang tokoh agama sekembalinya ke Indonesia. Di sudut lain, ada yang melihat…
    Akhlak

    Kado Langit untuk Guru: Kemuliaan para Pendidik

    3 Mins read
    Biasanya, para guru mendapatkan kado yang bermacam-macam dari anak didiknya. Ada yang memberi hadiah berupa sabun, roti, baju, peniti emas, hingga ada…
    Akhlak

    Kiat Sukses dengan Selalu Melibatkan Allah SWT

    3 Mins read
    Menginginkan sesuatu atau bercita-cita mewujudkannya adalah hal yang umum dirasakan setiap manusia. Untuk mencapai hal tersebut harus dengan rasa sabar, ikhlas disertai doa…

    Tinggalkan Balasan