Konsep Tauhid Imam al-Junaidi al-Baghdadi - IBTimes.ID
Kalam

Konsep Tauhid Imam al-Junaidi al-Baghdadi

4 Mins read

Iman kepada Allah berarti meyakini bahwa Allah Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya merupakan anugerah cinta dan kasih sayang-Nya kepada manusia. Mencintai Allah adalah keharusan mutlak, manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya sudah seharusnya mencintai-Nya dan merindukan pertemuan dengan-Nya. Setiap waktu yang dianugerahkan, dan setiap anugerah yang diberikan wajib disyukuri. Bentuk syukurnya ialah penghambaan dan ketaatan kepada-Nya. Banyak manusia yang berusaha memiliki hubungan kedekatan kepada-Nya, selain para Nabi. Sebut saja sufi yang terkenal di Baghdad, yaitu al-Junaid al-Baghdadi.

Mengenal Imam Al-Junaid Lebih Dekat

Mengenal lebih jauh Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, ia memiliki nama asli Abu al-Qasim al-Junaidi bin Muhammad bin al-Junaid al-Khazzaz al-Qawariri, lahir di Baghdad. Beberapa ulama menyatakan pendapat berbeda tentang tahun kelahirannya/ Ada yang menyatakan tahun 215 Hijriyyah dan tahun 210 Hijriyyah menurut pendapat lainnya. Ia tumbuh dan berkembang di Baghdad. Meski dilahirkan di Baghdad, ia adalah keturunan dari warga Nihawand (nenek moyangnya). Kota Nihawand merupakan daerah pegunungan yang keras, salah satu daerah Provinsi Jibal, Persia.

Sejak remaja ia diasuh oleh pamannya (dari garis ibunya) yaitu Sari as-Saqati, sebab ayahnya telah meninggal. Ia menempuh pendidikan di berbagai tempat. Awalnya ia belajar Fiqh dan Hadits kepada pamannya, kemudian ia pergi merantau untuk mendalami ilmu Fiqh dan Hadits di Majlis al-Harits al-Muhasibi. Setelah meguasai bidang ini, ia mengamalkan asketisme dan tekun beribadah. Melalui pengalaman itulah ia mengenal dan mendapat pengetahuan tentang tasawuf hingga menjadi sufi terkenal.

Al-Junaid berkata, “Aku mempelajari hukum Islam di madrasah yang punya wewenang dalam bidang Hadits semisal Madrasah Abu Ubaid dan Abu Tsaur, dan aku punya sanad dari al-Harits al-Muhasibi dan Sari bin Mughallas. Inilah yang membuat aku berhasil, sebab seluruh pengetahuan kita harus merujuk pada Alquran dan Hadits. Siapapun yang mempelajari Alquran dengan hatinya dan tidak belajar Hadits secara resmi, serta tidak memperlajari hukum Islam terlebih dahulu sebelum menenggelamkan diri dalam tasawuf. Maka, dia tidak berhak menjadi pemimpin.”

Baca Juga  Taat Hanya Kepada Allah, Bukan Suami!

Ia berusaha menyampaikan bahwa untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki basis pengetahuan tentang hukum Islam, belajar ilmu Hadits kepada Ustadz/Ustadzah yang sanad keilmuannya terpercaya. Ia pun juga berharap bahwa dalam belajar harus dengan hati. Setelah al-Junaid menguasai ilmu Hadits, ia belajar ilmu Fiqh, dan ilmu Kalam.

Konsep Tauhid Imam al-Junaid al-Baghdad

Tauhid kepada Allah ialah meyakini segala hal di dunia ini ialah kuasa Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan Maha Besar Allah atas segala firman-Nya. Dalam memahami makna tauhid, seseorang tidak akan mendapatkan jawaban yang puas. Sebab tauhid memiliki makna yang susah dijangkau oleh nalar manusia. Imam Al-Junaid berkata “Kata yang paling bermakna mengenai tauhid ialah perkataan Abu Bakar “Segala puji milik Allah yang telah memberikan kepada makhluknya ketidakmampuan mempelajari segala sesuatu tentang-Nya.”

Selain itu juga tauhid bagi Imam Al-Junaidi ditegaskan dalam perkataannya, “Tauhid ialah gagasan yang tidak bisa dijelaskan meskipun di dalamnya tercakup pengetahuan yang luas dan mendalam.”
Mengenal konsep tauhid Imam Junaid, bersumber dari perkataannya “Tauhid adalah pemisah antara yang dahulu dengan yang kini,” maksud dari perkataan tersebut tersirat beberapa makna, yaitu:

Pertama, memisahkan esensi yang kekal dari esensi yang memiliki asal mula. Maksudnya bersandar pada Esensi Allah dan mengabaikan esensi yang lain. Kedua, memisahkan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya dari seluruh sifat yang lain. Maksudnya bersandar pada Allah dan mengabaikan seluruh sifat yang lain. Ketiga, memisahkan perbuatan, maksudnya memisahkan perbuatan Allah dan mengabaikan seluruh perbuatan yang lain. (Ali Hassan Abdel-Kader: 2018)

Pendapat al-Junaid tentang tauhid mengundang perdebatan tokoh muslim lainnya untuk ikut berargumen. Ada pula yang mengutip pendapat-pendapat al-Junaid. Seperti Ibnu Taimiyah, ia mengatakan, “Apa yang dikatakan al-Junaid mengenai Yang Kekal dan ciptaan, merupakan petunjuk bagi banyak sufi agar tidak tersesat dalam kekeliruan yang menyesatkan.”

Baca Juga  Ibnu Kullab, Keluarga Al-Qattan yang Menolak Inlibrasi

Ibnu Arabi membantah perkataan al-Junaid, “Wahai al-Junaid siapakah yang bisa membedakan dua hal, kecuali dia sendiri bukan salah satunya.” Namun, Ibnu Taimiyah menanggapi komentar tersebut dan menyatakan bahwa Ibnu Arabi salah dan al-Junaid benar.

Tingkatan Para Muwahhidun

Selanjutnya, al-Junaid mengklasifikasikan tingkatan-tingkatan para Muwahhidun dalam perkataannya, “Ketahuilah bahwa tauhid memiliki empat tingkatan; Pertama tauhid orang-orang awam. Tingkatan kedua tauhid orang-orang yang menguasai pengetahuan agama. Kemudian tingkatan ketiga dan keempat tauhidnya orang-orang yang terpilih yang memiliki pengetahuan esoteris (ma’rifat).” Al-Junaid juga menggambarkan secara rinci maksud dari pengklsifikasian Muwahhidun ini, yaitu:

Pertama, Tauhid orang-orang awam, yaitu “terletak dalam penegasan mereka atas keesaan Allah dan penolakannya terhadap seluruh konsepsi tentang teman, musuh, sekutu, dam mempersamakan Allah. Namun, mereka tetap memiliki harapan dan ketakutan kepada daya-daya selain Allah.”

Kedua, Tauhid orang-orang tingkatan kedua ini menurut al-Junaid “ yaitu yang menguasai ilmu agama terkandung dalam penegasan atas keesaan Allah. Dalam penolakan terhadap bermacam-macam konsepsi tentang Allah, sekutu, musuh segala sesuatu yang menyerupai Allah yang dikombinasikan dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan sejauh berkaitan dengan yang kekal. Seluruh hal itu muncul dari harapan, ketakutan, dan hasrat mereka. Tauhid jenis ini memiliki ukuran kemanjuran tersendiri karena penegasan terhadap keesaan Allah telah dibuktikan secara umum.”

Ketiga, tauhid esoteris jenis pertama terkandung dalam penegasan terhadap keesaan Allah, pengabaian terhadap seluruh konsepsi tentang zat yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu yang dikombinasikan dengan melaksanakan setiap perintah Allah baik secara internal maupu eksternal. Kemudian, menghilangkan harapan dan ketakutan terhadap kekuatan lain selain Allah. Semua itu muncul dari gagasan yang berkaitan dengan kesadaran kehadiran Allah dalam dirinya dengan seruan Allah kepada dirinya, dan jawaban yang diberikannya kepada Allah.

Baca Juga  Bacalah Isi Fatwa MUI Terkait Covid-19

Keempat, tauhid esoteris jenis kedua “Tauhid ini terkandung dalam keberadaan tanpa individualitas di hadapan Allah, dan tanpa pula orang ketiga sebagai perantara. Ini merupakan tingkatan seorang hamba yang meraih wujud sejati keesaan Allah dan dalam wujud yang sejati dengan-Nya. Orang yang mencapai tingkatan ini akan kehilangan kesadaran dan perilakunya karena Allah melimpahinya dengan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.”

Kecintaan Tertinggi Seorang Hamba

Layaknya seorang di mabuk cinta, ia akan melakukan apapun untuk kekasihnya. Kecintaan kepada Allah seperti melakukan apapun sesuai kehendak-Nya. Imam Junaid mengatakan “Tindakan orang-orang yang memperlakukan kewajiban agama sebagai sesuatu yang tidak penting. Aku menganggapnya sebagai dosa yang mengerikan.” Para pencuri ataupun penzina bahkan memiliki kedudukan yang lebih baik ketimbang orang-orang yang berpandangan semacam itu. Seseorang yang mengetahui Allah akan menerima kewajiban-kewajiban Allah dan kemudian mengembalikannya kepada Allah. Seandainya aku hidup seribu tahun, sungguh sebutir debu pun aku tidak akan mengurangi kewajiban-kewajibanku kepada Allah.”

Editor: RF Wuland

Avatar
2 posts

About author
Pengurus Lembaga Sosial LAZ Al-Azhar Yogyakarta, seorang Alumni UIN Sunan Kalijaga.
Articles
Related posts
Kalam

Islam Liberal dan Islam Literal: Benci, tapi Rindu

4 Mins read
Islam Liberal dan Literal yang Saling Berhadapan Dalam sejarah dunia pemikiran Islam, kata liberal sering dihadapkan dengan kata literal. Pengutuban dua pola…
Kalam

Pemikiran Ibn Bajjah 3: Spirit dalam Pembentukan Perilaku Manusia

2 Mins read
Pemetaan Perilaku Manusia Selanjutnya, Ibn Bajjah mambahas tentang bentuk-bentuk spirit (syu’ar ruhaniyah) dalam hal perilaku manusia setelah ia mengkaji tentang pemetaan perilaku…
Kalam

Pemikiran Ibn Bajjah (2): Jiwa, Akal Ma’rifah, dan Akhlak

3 Mins read
Setelah penulis memaparkan salah satu pemikiran Ibn Bajjah di artikel sebelumnya yang bertajuk Konsep Metafisika Menurut Ibn Bajjah, dengan ini sangat penting…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa