Kristen Muhammadiyah: Sekolah di Muhammadiyah Lulus Tetap Kristen
Feature

Kristen Muhammadiyah: Sekolah di Muhammadiyah Lulus Tetap Kristen

3 Mins read

Muhammadiyah dikenal dengan trilogi gerakannya, yaitu healing (kesehatan), schooling (pendidikan), dan feeding (sosial). Menurut laman resmi Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah SD, SMP, dan SMA sederajat yang dimiliki oleh Muhammadiyah mencapai 3334. Namun, jumlah tersebut perlu dipastikan ulang.

Menurut sumber lain, SD, SMP, dan SMA sederajat Muhammadiyah mencapai 5519. Belum lagi jumlah TK yang dimiliki oleh Aisyiyah, salah satu organisasi sayap Muhammadiyah, yang jumlahnya mencapai 4623. Selain itu, di tingat perguruan tinggi, Muhammadiyah juga memiliki 172 perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut, konon, jumlahnya lebih banyak daripada perguruan tinggi milik negara di bawah Kemendikbud Ristek yang jumlahnya 122 dan di bawah Kemenag yang jumlahnya 97.

Menariknya, amal usaha di bidang pendidikan yang jumlahnya begitu besar tersebut tidak terpusat di kota-kota besar atau di Pulau Jawa saja. Ia tersebar di seluruh pelosok negeri, bahkan di daerah yang umat Islam menjadi minoritas.

Salah satu contoh yang gampang dilihat adalah adanya SD Muhammadiyah di pelosok Belitong yang dikisahkan oleh Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi. Dalam novel yang berbasis pada kisah nyata penulisnya tersebut, SD Muhammadiyah Gantong diceritakan sebagai sekolah yang menyelamatkan nasib anak-anak udik di pelosok Belitong, hingga bisa melahirkan seniman sekaliber Andrea Hirata. Jika tidak ada SD Muhammadiyah Gantong, maka 10 anak Laskar Pelangi tersebut tidak bisa bersekolah, karena jarak sekolah yang lain begitu jauh.

Di Indonesia Timur, Muhammadiyah juga memiliki beberapa sekolah dan perguruan tinggi. Empat Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang ada di Papua. Antara lain Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, STKIP Muhammadiyah Manokwari, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah Jayapura.

Baca Juga  Kiat Jitu Berfilsafat bagi Pemula

Di keempat kampus yang mayoritas mahasiswanya adalah non muslim tersebut, mahasiswa beragama Protestan dan Katolik diberikan pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, sekaligus mata kuliah agama masing-masing, dengan dosen dari agama tersebut. Bahkan, ada pastur yang ikut mengajar.

Menariknya, sama sekali tidak ada paksaan kepada mahasiswa non muslim untuk masuk Islam. Bahkan, Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong telah meluluskan seorang biarawati bernama Ermelinda A Hale pada tahun 2020. Biarawati asal Kupang tersebut mengakui bahwa kampus tempat ia belajar sangat menerapkan prinsip-prinsip toleransi, terutama kepada mahasiswa non muslim.

Mahasiswi asal Kupang tersebut mengaku sangat bersyukur karena berbeda agama bahkan berprofesi sebagai biarawati. Namun ia tidak merasa sendirian menempuh pendidikan di Unimuda Sorong. Ia mengaku senang karena di kampus ia saling mendukung dan membantu tanpa memandang agama.

“Saya memilih Unimuda Sorong karena di sekitar sini hanya Unimuda Sorong yang punya Prodi Pendidikan SD. Itu sudah atas izin dari Pimpinan Tarekat kami. Biar begitu banyak suku agama, di sana ada rasa saling menghormati dan saling mendukung. Begitu nampak persatuan di Unimuda,” imbuhnya.

Di kampus tersebut, imbuhnya, ada ruang yang disebut Rumah Multikultural. Ruang tersebut digunakan untuk belajar dan membagikan pengalaman keberagaan. Menariknya, mahasiswa yang akan masuk ke ruang tersebut harus bersama-sama dengan orang yang berbeda suku.

Selain Ermelinda, kampus Unimuda Sorong juga telah meluluskan banyak pendeta. Pada tahun 2020, terdapat 2000 mahasiswa yang diterima di Unimuda, dan 79% di antaranya adalah non muslim dan Orang Asli Papua. Penerimaan 2000 mahasiswa tersebut merupakan angka penerimaan tertinggi di Provinsi Papua Barat.

Selain di Papua, Muhammadiyah juga memiliki dua perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mayoritas mahasiswa beragama Kristen, yaitu Universitas Muhammadiyah Kupang dan IKIP Muhammadiyah Maumere. Di kampus tersebut, mahasiswa yang mayoritas beragama Kristen Protestan dan Katolik wajib mempelajari Al-Islam dan Kemuhammadiyah (AIK) untuk memberi pemahaman yang benar tentang Islam. Selain itu, di kampus tersebut juga mempunyai dosen tidak tetap non muslim dan pastur yang ikut mengajar.

Baca Juga  Melampaui Kartini (2): Siti Walidah, Perintis Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Di jenjang sekolah menengah, puluhan sekolah Muhammadiyah tersebar di berbagai daerah Indonesia timur. Di Papua saja ada 10 sekolah Muhammadiyah mulai dari SD hingga SMA. Di Papua Barat, ada 21 sekolah. Maluku Utara ada 38 sekolah, Maluku ada 29, NTT ada 15, dan Bali ada 13 sekolah.

Menariknya, seluruh amal usaha pendidikan Muhammadiyah di daerah mayoritas Kristen – Katolik tersebut tidak pernah memaksa siswa atau mahasiswa untuk masuk agama Islam. Bahkan, kendati di sebagian pendidikan mereka diwajibkan belajar AIK, mereka tetap diberikan pelajaran agama sesuai agama masing-masing, oleh guru yang juga berasal dari agama masing-masing.

Sehingga, umat Kristiani dan umat Katolik tetap bebas menjalankan agama meskipun di lingkungan Muhammadiyah. Siswi dan mahasiswi pun tidak diwajibkan untuk memakai jilbab. Rasa tenggang rasa yang tinggi inilah yang membuat lembaga pendidikan Muhammadiyah diminati oleh masyarakat setempat.

Siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi tersebut, di kalangan Muhammadiyah, sering disebut dengan istilah Krismuha atau Kristen Muhammadiyah. Di kalangan Muhammadiyah juga masyhur cerita bagaimana mereka, orang-orang non muslim tersebut dengan sukarela menyanyikan Mars Muhammadiyah di kegiatan seremonial. Padahal, di dalam lagu Mars Muhammadiyah jelas terdapat lirik: “Ya Allah Tuhan Rabbiku, Muhammad junjunganku, Al Islam agamaku, Muhammadiyah gerakanku.”

Interaksi Muhammadiyah dengan agama lain ini tentu menjadi bukti kedewasaan berpikir dan rasa toleransi Muhammadiyah. Jika dianalogikan sebagai manusia, manusia dewasa tidak akan canggung bergaul dengan orang lain, sekalipun dengan orang yang berbeda. Penerimaan warga setempat yang non muslim juga menjadi bukti bahwa Muhammadiyah sanggup bergaul dengan agama lain dengan dewasa, elegan, dan penuh rasa toleransi.

Para pelajar yang memilih lembaga pendidikan Muhammadiyah telah dengan suka rela menjadi Kristen Muhammadiyah, sebagaimana mereka rela menyanyikan lagu Mars Muhammadiyah kendati tetap memegang teguh identitas sebagai non muslim.

Baca Juga  Kemiskinan Melayu: Ratu Adil di Zaman Edan

Reporter: Yusuf

Konten ini hasil kerja sama IBTimes dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi
400 posts

About author
IBTimes.ID - Cerdas Berislam. Media Islam Wasathiyah yang mencerahkan
Articles
Related posts
Feature

Praktik Toleransi Otentik: Pengalaman Keluarga Prawoto Mangkusasmito

2 Mins read
“Pengorbanan dan kepemimpinannya selama hidupnya tidak sia-sia. Kejujuran, kesederhanaan hidup, tawakal, dan kegigihannya dalam mempertahankan prinsip benar-benar telah menjiwai perjuangan Kemerdekaan kita….
Feature

Alasan Tidak Ada Wali di Muhammadiyah!

4 Mins read
Pada satu waktu, saya mengajak teman saya ikut kajian di Muhammadiyah secara luring (sebelum pandemi Covid-19). Kebetulan yang mengisi kajian adalah seorang…
Feature

Filsyahwat: Ejekan Ustadz Menolak Filsafat, padahal Dia Sendiri Menafsir Al-Quran dengan Syahwat

3 Mins read
Ejekan Terhadap Filsafat – Malam itu saya menghadiri pengajian di musholla kampung. Sebuah pengajian rutin yang diadakan secara bergilir dari satu kampung…

Tinggalkan Balasan