Mbah Liem, Pendiri Pesantren Pancasila Sakti NKRI Harga Mati
Inspiring

Mbah Liem, Pendiri Pesantren Pancasila Sakti dan Pencetus Slogan NKRI Harga Mati

3 Mins read

“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho Negoro Kesatuan Republik Indonesia kaparingan aman, makmur, damai. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

Doa yang selalu diucapkan Mbah Liem setelah iqamat, sebelum shalat berjamaah.

Sepak terjang Pesantren dalam mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah begitu teruji. Pesantren menjadi tempat produksi ulama-ulama yang mengawal kesetiaan umat terhadap agama sekaligus negara. Pesantren juga mampu melahirkan intelektual dan cerdik cendekia yang mengawal arah kiblat bangsa.

Meskipun demikian, diakui atau tidak, pesantren juga menjadi salah satu inang bagi pemahaman keislaman yang kontraproduktif dan anti terhadap demokrasi. Munculnya kasus intoleransi dan radikal dari kalangan Islam menjadi setitik noda bagi perjalanan pesantren di Indonesia.

Salah satu pesantren yang dengan tegas mengambil posisi membela demokrasi dan pancasila adalah Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti. Pesantren tersebut terletak di Sumberejo, Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dilihat dari namanya saja, pesantren tersebut dengan jelas membela pancasila dan menyebutnya sebagai sesuatu yang sakti.

Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) didirikan oleh KH Muslim Rifai Imampuro atau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Liem pada tahun 1967. Mbah Liem lahir pada 24 April 1924 di Desa Pengging, Kelurahan Bendan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah.

Ayah Mbah Liem bernama R Bakri Teposumarto Bin khasan Minhaj, sedangkan ibunya adalah RAY Mursilah. Melalui sang ibu, nasabnya tersambun dengan Sunan Paku Buwono IV, Sunan Bagus yang memerintah Kasunanan Surakarta Hadiningrat tahun 1788-1820. Nama Imampuro yang melekat di belakang namanya adalah nama ayahanda ibunya (kakek), RMNg Imampuro.

Baca Juga  Sutarni Hadji Ali: Pendidikan Humanis dan Ekonomi Perempuan

Mbah Liem adalah ulama darah biru yang menanggalkan kebangsawannya untuk mengabdi kepada masyarakat dengan mendirikan pesantren. Selain memilih keluar dari keraton, ia juga tidak pernah masuk ke jajaran pengurus NU, baik di akar rumput maupun di tingkatan elit. Meskipun demikian, banyak tokoh-tokoh besar NU yang sangat hormat kepadanya. Bahkan, konon Mbah Liem adalah guru spiritual dari Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur sering menyebut Mbah Liem sebagai wali.

Pada tahun 1983, Gus Dur berkunjung ke kediaman Mbah Liem di Klaten. Namun waktu itu dia tidak diperkenankan masuk. Malah, Mbah Liem ingin mengantarkan Gus Dur untuk berziarah ke makam kakeknya, Kiai Hasyim Asy’ari.

Sesampainya di kompleks makam, Mbah Liem menasihati Gus Dur. Dia menasihati Gus Dur agar kelak menjadi pemimpin negara. Namun, Gus Dur ragu untuk menuruti permintaan tersebut. “Harus bisa. NU didirikan kakekmu Hasyim. Untuk apa, bertujuan apa, dan untuk siapa? Ya tidak lain sebagai jalan untuk mengatur negara!” serunya kepada Gus Dur.

Mendengar nasihat itu Gus Dur tak mampu menahan air mata. Di kemudian hari, ucapan Mbah Liem terbukti. Gus Dur menjadi presiden Republik Indonesia.

Gus Dur dan Mbah Liem berteman dengan baik sedari muda. Selain dihormati oleh Gus Dur, banyak tokoh-tokoh besar yang berkunjung ke Pesantren Pancasila Sakti. Mulai dari ulama, politisi, militer, hingga seniman. Beberapa politisi yang pernah berkunjung antara lain Megawati, Presiden Jokowi, dan Wapres Ma’ruf Amin. Di militer, salah satu orang yang pernah berkunjung adalah Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani. Sementara itu salah satu seniman yang turut berguru ke Mbah Liem adalah Iwan Fals. Selain orang-orang tersebut di atas, tentu masih banyak tokoh yang mengambil ilmu dari Mbah Liem.

Baca Juga  Rabi'ah Al-Adawiyah, Sufi Wanita yang Melegenda

Kunjungan Panglima Benny Moerdani ke Pesantren Pancasila Sakti meninggalkan cerita yang menarik. Dalam buku Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara karya Abdul Mun’im DZ, diceritakan bahwa ketika Panglima Benny Moerdani masuk ke Pesantren, Mbah Liem bersama seluruh santri meneriakkan yel-yel “NKRI Harga Mati!”, “NKRI Harga Mati!”, “NKRI Harga Mati!”, “Pancasila Jaya!”. Sejak saat itu, slogan NKRI Harga Mati menjadi slogan di berbagai tempat, baik di kalangan NU maupun di luar NU termasuk di TNI. Mbah Liemlah orang yang mencetuskan slogan tersebut.

Pada hari Kamis, 24 Mei 2012, kiai “nyentrik” itu mangkat. Hingga akhir hayatnya, ia tak henti-henti melakukan yang terbaik untuk Indonesia. Bahkan, wasiatnya pun dipenuhi dengan tanda kecintaan terhadap NKRI. Ia berwasiat agar jika nanti ia meninggal prosesi pemakamannya tidak dilakukan layaknya pemakaman seorang kiai besar NU, melainkan dengan prosesi seperti militer, ditandai dengan tembakan dan dipimpin langsung oleh TNI/Polri.

Selain itu, ia juga berwasiat agar makamnya dibuatkan Joglo Perdamaian yang dihiasi dengan warna merah putih. Ia menuliskan surat wasiat tentang perdamaian dan kerukunan. Wasiat itu bisa dijumpai di Joglo Perdamaian, di belakang Pesantren Pancasila Sakti.

Editor: Yusuf

Konten ini hasil kerja sama IBTimes dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi
395 posts

About author
IBTimes.ID - Cerdas Berislam. Media Islam Wasathiyah yang mencerahkan
Articles
Related posts
Inspiring

Siti Munjiyah, Perempuan Aisyiyah yang Menjadi Aktor CPPA dan Kongres Perempuan Pertama

3 Mins read
Pada awal abad ke-20, kasus prostitusi dan perdagangan anak pernah mencuat ke publik. Sejumlah tokoh pergerakan nasional yang prihatin menggalang kekuatan dari…
Inspiring

Jejak Haji Agus Salim di Muhammadiyah

5 Mins read
Nama kecilnya Mashudul Haq (pembela kebenaran). Ia dilahirkan dan tumbuh dari serpihan surga yang turun ke bumi, tepatnya Bukit Tinggi. Di Bukit…
Inspiring

Irfan Amalee Bersama Peacegen, Menyebarkan Damai dengan Cara Kreatif

4 Mins read
Irfan Amalee lahir di Bandung pada 28 Februari 1977. Di sana, Irfan kecil bertetangga dengan orang berlatar belakang Tionghoa, Flores, Batak, dan…

Tinggalkan Balasan