Pesan Islam Cinta Sang Habib Muda - IBTimes.ID %
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pesan Islam Cinta Sang Habib Muda

4 Mins read

Belum lama ini, tepatnya pada tanggal 10 November 2020, Habib Rizieq Shihab baru saja pulang ke tanah air. Dalam kepulangannya itu, hadir pula massa yang begitu besar, datang untuk menjemput beliau di bandara Soekarno-Hatta. Riuh ramai, sesak, berhimpitan, sungguh banyak sekali massa yang hadir kala itu. Mengabaikan protokol kesehatan, seolah lupa kalau kita masih ada di masa pandemi Covid-19.

Tepat setelah kepulangannya, Habib Rizieq mengadakan kegiatan di berbagai acara, dengan massa yang juga sangat besar, mulai dari peringatan Maulid Nabi hingga pernikahan anaknya. Dalam beberapa pertemuan itu sang Habib berorasi dan menyampaikan beberapa statemen yang cukup kontroversial, dan menghadirkan keresahan bagi saya pribadi.

Mulai dari perkataan “Lonte” saat mengisi ceramah hingga ancaman pemenggalan kepala bagi para penghina Nabi Muhammad sebagaimana yang terjadi di Perancis. Sungguh menghadirkan keresahan bagi saya pribadi. Saya menghormati beliau sebagai Ulama’ dan sekaligus sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw, namun jujur saya tidak bisa terima isi ceramah yang ia sampaikan.

Bagaimana Islam bisa terlihat segarang itu. Islam yang saya tahu, turun untuk menyempurnakan akhlak, seolah menjadi begitu menakutkan dan mengerikan. Mungkin saya saja yang salah memahami maksud beliau. Tapi ketika mendengar kata Habib saya menjadi teringat nama seorang Habib yang juga sedang popular, khususnya bagi anak-anak muda.

Beliau adalah Habib Husein Ja’far Al-Haddar. Satu platform Islam yang ia bawa seolah mengena di hati saya, yaitu Islam Cinta. Yang bagi saya jauh lebih menenangkan hati, jauh lebih membawa keindahan Islam daripada platform Islam marah dan garang yang selama ini dilihat oleh dunia.

Mengenal Habib Ja’far

Untuk penikmat konten-konten Youtube milik MLI sudah pasti mengenal sosok ini. Habib Ja’far juga mendapat banyak sekali julukan, seperti The Protector, The Middle Man, The Light in The Darknes, Rompi Level 3, dan berbagai julukan lainnya yang merujuk pada permaianan PUBG Mobile.

Baca Juga  KH Mas Mansur (2): Protes Kaum Muda Jelang Kongres Muhammadiyah ke-26

Sang Habib lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada 32 tahun silam. Ia pernah menjadi santri di salah satu pesantren di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengambil jurusan Akidah dan Filsafat, lalu meneruskan program magister di jurusan Tafsir Hadits.

Habib Ja’far ini memiliki berbagai akun media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram dan youtube yang ia manfaatkan sebagai media dakwahnya di kalangan anak muda. Akun Youtubenya bernama Jeda Nulis dibuat pada tahun 2018. Video pertama dalam akun tersebut adalah “Menjadi Muslim Moderat Bagaiamana Sih?” sudah ditonton sebanyak 14.070 kali. Semenjak itu Habib Ja’far rutin untuk mebuat konten di kanal Youtubenya tersebut.

Pesan-Pesan Habib

Kata-kata sang Habib yang masih terngiang di kepala saya adalah “Cinta tidak mempunyai agama, tapi setiap agama memiliki ajaran tentang cinta.” Perkataan itu sekaligus menjelaskan positioning sang Habib dalam memahami Islam, yaitu Islam Cinta. Dalam video di kanal Youtube Habib Ja’far yang berjudul Berdakwah ala Nabi, Habib Ja’far menjelaskan tentang betapa luhurnya ajaran Islam yang banyak diilhami oleh nilai-nilai cinta.

Misalnya, Habib Ja’far mencontohkan ketika dulu sebelum Islam datang wanita hanya dianggap sebagai barang, sebagai objek yang diperlakukan tidak manusiawi, lalu Islam hadir dan mengangkat kedudukan wanita hingga ia setara dengan laki-laki sebagai sesama manusia. Lalu bagaiaman Islam telah mengangkat derajat seorang Bilal bin Rabbah seorang kaum minoritas kulit hitam di tengah-tengah mayoitas Arab, yang awalnya hanya seorang budak menjadi seorang Muadzin (penyeru untuk shalat).

Betapa inklusifnya Islam, dan betapa luhur Islam di masa-masa hidup Nabi. Namun sekarang berbalik justru Islam seolah menjadi sangat ekslusif, paling benar, menggunakan kekerasan dan menyebarkan ketakutan. Islam yang awalnya disebarkan dengan cinta, kini justru dibela dengan amuk dan marah.

Baca Juga  Mengenang Abdullah Idrus, Sastrawan Kemanusiaan Generasi 45

Bagi Habib, menanamkan cinta dalam keberagamaan itu merupakan hal yang penting. Misal tentang kata-kata beliau tentang pembenci dan pecinta, “Pembenci memikir yang dibenci. Maka hidupnya suram. Pecinta memikirkan yang dicinta. Maka hidupnya selalu cerah.” Sehingga dalam berislam yang terpenting adalah kecintaan kita pada Allah dan Nabi Muhammad Saw. Bukan sibuk mencari musuh, atau mencari sasaran amarah sehingga melalaikan kita dari mengingat Allah dan bershalawat kepada Nabi.

Islam adalah agama cinta yang memiliki komitmen tinggi pada pembentukan akhlak. Karena akhlak adalah cerminan dari rasa cinta yang bersemayam di hati kita. Menurut Habib Husein Ja’far akhlak yang paling utama adalah akhlak kepada orang yang tidak berakhlak. Justru dengan akhlak kita itulah, bisa jadi washilah bagi turunnya hidayah kepada orang-orang yang awalnya belum mengenal Islam.

Seperti ketika Nabi diludahi dan dibenci oleh orang-orang Kafir Quraish, Nabi tidak pernah balas meludah, atau membalas kebencian dengan rasa benci pula. Hal itu harus dicontoh oleh Umat Islam di Indonesia. Walaupun dirinya mayoritas bukan berarti punya hak untuk menindas orang lain, mengucilkan atau memperlakukan umat minoritas dengan tidak adil atau meminta privilege lebih kepada umat non-Islam. Sebaliknya Islam sebagai agama mayoritas harus mampu mengayomi seluruh umat beragam di Indonesia.

Habib Ja’far juga memiliki pandangan yang juga sangat menyejukkan tentang Jihad. Jika biasanya jihad disamakan dengan terorisme, atau setidaknya jihad dimaknai dengan aksi-aksi demo, persekusi dan aksi-aksi anarkis lainnya, maka Habib Ja’far memberikan makna yang berbeda.

Kata Habib ja’far: “Jihad kita tidak usah muluk-muluk, sederhana dan harian tapi penting dan pahalanya dahsyat. Senyum pada orang lain, jangan menyela antrian, ucapkan salam saat bertemu orang dan bilang hati-hati serta mendoakan saat hendak pergi, memaafkan orang lain ketika hendak tidur, telepon atau doakan orang tua.”

Baca Juga  Melampaui Kartini (1): Rahmah El-Yunusiyah, Mewujudkan Kesetaraan Perempuan Lewat Pendidikan

Selain itu Habib juga banyak memberi keteladanan bagi kita semua tentang bagaimana hidup bertoleransi. Dapat dilihat dari berbagai videonya yang memperlihatkan beliau saling berbincang dengan tokoh-tokoh non-Islam dan juga beberapa pemuka agama yang berbeda keyakinan dengannya. Sosok seperti Coki Pardede, yang terang-terang mengaku agnostik, dapat dengan ringan, saling berbagi pandangannya dengan Habib. Pun juga dengan tokoh agama lain seperti kepada Pendeta Yerry pattinasarani, yang juga dapat berdiskusi tentang berbagai hal.

Tidak hanya dengan tokoh Nasrani, Habib juga pernah berdiskusi dengan penanut agama Buddha yaitu bapak Hong Tjhin. Bagi Habib Ja’far berdiskusi dengan pemuka agama lain tidak menjadikan iman kita lemah, justru sebaliknya kita bisa saling mengenal, dan menemukan titik temu, common platform yang bisa dijadikan sebagai pedoman kita dalam hidup bermasyarakt. Bagi Habib Ja’far, titik temu itu adalah cinta.

Editor: Yusuf

Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (2): Telaah Atas Hadith dan Sejarahnya

7 Mins read
Sebelum membahas telaah Asad ke atas hadith dan sejarahnya, telah dibahas latar belakang seorang Muhammad Asad. Asad yang mendalam terhadap hadith sebenarnya…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Sayyid Qutb: Ideologi Radikal itu Jahiliyah Modern!

3 Mins read
Sayyid Qutb dikenal sebagai tokoh modern Islam yang sangat kontroversial dengan berbagai macam pemikirannya yang kritis dan mendalam. Sehingga, banyak orang di…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (1): Anugerah Eropa Kepada Islam

5 Mins read
Tulisan ini menyorot fikrah hadith Muhammad Asad (1900-1992) dan kontribusinya dalam pemahaman hadith kontemporer. Ia membincangkan kefahaman asas tentang hadith yang dirumuskan…

Tinggalkan Balasan