Oleh: Arif Yudistira*

 

Perkembangan dunia pendidikan Muhammadiyah tak bisa dipungkiri kian melesat. Ini bukan karena faktor menterinya dari kalangan Muhammadiyah. Ada satu gerakan kemajuan yang hendak disusun dari rahim sekolah. Lebih penting lagi, lewat sekolah, Muhammadiyah tegakkan Ideologi Bangsa.

Ribuan sekolah Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke sedang berbenah dan lari ke depan menjemput masa depan di dunia pendidikan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah dahulu sering mengalami kendala pahit yang tak lekas usai. Mereka terkendala ketua yayasan, keuangan, kurang dana, “tidak ada gedung”, “manajemen amburadul”, dan sebagainya.

Sekolah Muhammadiyah Bangun dari Tidur Panjang

Dalam 5 tahun terakhir, sekolah-sekolah Muhammadiyah telah bangun dari tidur yang panjang. Mereka telah belajar kesana-kemari, menata diri, dan terus melesat lari mengejar ketertinggalan. Munculnya program khusus yang menempel di belakang nama sekolah membuat masyarakat terpikat dan menjatuhkan pilihannya di sekolah Muhammadiyah.

Beberapa sekolah yang moncer dan tertata rapi bolehlah disebut seperti SD Muhammadiyah Program Khusus Kotta Barat. Munculnya SD Muh Kottabarat didasari oleh kerisauan belum munculnya sekolah Muhammadiyah yang mampu muncul di tengah perkotaan. Muhammad Ali, salah satu pendiri sekolah ini mengatakan bahwa Muhammadiyah harus mewarnai dunia pendidikan.

Berawal dari keresahan tersebut, akhirnya kelas menengah perkotaan percaya kepada SD Muh Kottabarat. Manajemen ditata, guru dilatih, fasilitas ditingkatkan. Akhirnya, Sd Muh Kotta Barat menjadi terdepan dalam lima tahun terakhir. SD ini menduduki peringkat terdepan dalam mata pelajaran UN.

Peringkat UN hanya salah satu penarik minat sebagai salah satu brand kemajuan sekolah Muhammadiyah. Tapi yang menjadi pembeda adalah bagaimana anak-anak ini dididik untuk berideologi Muhammadiyah dan berideologi kebangsaan. Melalui pendidikanlah, anak-anak kita dididik pertama kali dalam menyemai watak dan berbagai karakter lainnya.

Pada sekolah Muhammadiyah yang berkarakter global, mereka tak hanya menata menajemen, tetapi juga memanfaatkan betul bagaimana lingkungan global berperan penting dalam perkembangan anak didik kita. Tak heran, sekolah-sekolah itu mengadakan program yang tak hanya dalam skup lokal, tapi merambah ke kawasan internasional.

Anak-anak di usia sekolah dasar sudah merambah dan menginjakkan kaki di mancanegara. Mereka bukan hanya memiliki pandangan luas, tetapi juga belajar berinteraksi dengan orang baru. Belajar memahami perbedaan dan kebudayaan. Mereka belajar memahami oranglain dan toleransi. Pengalaman SD IT Muhammadiyah Al Kautsar misalnya anak-anak tinggal di Malaysia, mereka berinteraksi, ikut memahami budaya negara luar dan menyesuaikan diri dengan amat cepat. Ini adalah bagian dari kemajuan sekolah Muhammadiyah yang berwawasan kebangsaan bahkan internasional.

Lewat Sekolah, Muhammadiyah Tegakkan Ideologi Bangsa

Tak pelak lagi, sekolah Muhammadiyah secara langsung ikut berkontribusi menanamkan ideologi kebangsaan bagi anak-anak kita. Muhammadiyah sendiri secara sadar ikut serta menanamkan benih nasionalisme dan kebangsaan. Selain tokoh-tokohnya ikut berperan dalam mendirikan negara ini, Muhammadiyah sendiri selalu taat pada asas UUD 45 dan Pancasila.

Islam dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah islam yang keras dan juga penuh teror. Ini selalu ditanamkan di sekolah Muhammadiyah. Ideologi pemurnian (purifikasi) di sekolah Muhammadiyah tidak pernah bermasalah dengan asas kebangsaan. Karena itulah, di dalam praktik pendidikan utamanya di sekolah Muhammadiyah, jarang ada konflik yang berbau anti nasionalisme.

Jangan salah, di sekolah Islam sebelah, hormat bendera dianggap masalah dan meniru orang kafir. Di sekolah Muhammadiyah, ajaran dan didikan nasionalisme tak pernah surut. Mulai dari pembiasaan upacara, pengenalan Pancasila dan kewarganegaraan, sampai dengan sejarah para pahlawan diajarkan di sekolah Muhammadiyah. Tak pernah keluar dari koridor yang ditentukan pemerintah.

Sudah menjadi ciri khas sekolah Muhammadiyah, bahwa mereka perlu memiliki kurikulum khusus, namun tak meninggalkan kurikulum sekolah nasional. Dengan tetap memegang prinsip KH Ahmad Dahlan, bahwa ilmu itu harus disertai amal. Dan amal harus dilandasi dengan ilmu.

Jargon ini benar-benar meresap di sekolah Muhammadiyah yang berasaskan kemajuan. Apa hasilnya? SD Muhammadiyah Sapen misalnya, mereka sudah menunjukkan tanpa meninggalkan agama, sekolah mampu menciptakan kader bangsa bertaraf internasional melalui aneka kompetisi tingkat dunia.

Sekolah Muhammadiyah Penyemai Damai

Inilah peranan sekolah Muhammadiyah. Bukan hanya mendidik anak untuk cerdas lahiriah, tapi juga batiniah. Konsep pendidikan dan penanaman ideologi kebangsaan ini juga hadir di pondok pesantren Muhammadiyah. Di pondok pesantren Muhammadiyah, tak pernah ada indikasi terinfeksi paham radikal. Sebab di pesantren Muhammadiyah dididik oleh ulama intelektual.

Mereka para mudir bukanlah orang sembarangan. Bacaan yang luas, pergaulan yang luas menjadikan para pendidik di Pondok Pesantren Muhammadiyah begitu inklusif dan tak kaku. Islam yang dibawa Muhammadiyah dari dulu berwatak dialogis dan berkemajuan. Kiai Dahlan sendiri pernah mencontohkan saat ia berdialog dengan pastur tanpa menyinggung dan menyakiti. Muhammadiyah menekankan akal sebagai perangkat untuk praktik keagamaan. Agama tanpa akal, akan dinilai sebagai taklid buta yang tak bisa dikompromi.

Belum lagi, peranan sekolah Muhammadiyah dalam menyemai perdamaian. Di sekolah Muhammadiyah, hampir semua menerapkan ideologi perdamaian kepada anak didiknya. Sehingga ajaran teror dan kekerasan selalu ditolak di sekolah Muhammadiyah.

Dari situlah kita jarang menemukan, murid sekolah Muhammadiyah berteriak-teriak dan membawa bendera tauhid untuk menunjukkan ekspresi keberagamaan dan perlawanannya. Sebab Muhammadiyah menekankan pada amaliah, dan kerja kutural macam Kiai Dahlan.

Dalam konteks sekarang, hampir bisa dipastikan tak ada koruptor dari kalangan Muhammadiyah. Dari didikan mentalitas di sekolah Muhammadiyah, karakter itu terbentuk.

 

*) Kepala Sekolah SMK Citra Medika Sukoharjo, Pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda