Liberalisme sebagai Jalan Kemenangan Umat Islam

 Liberalisme sebagai Jalan Kemenangan Umat Islam

Ilustrasi: abroadship.org

Istilah liberalisme dalam islam seakan menjadi tabu untuk diperbincangkan. Belum lagi jika ditambah dengan adanya fatwa yang mengharamkan atau menyesatkannya. Kita tahu juga bahwa istilah ini dibawa oleh pihak oposisi Islam. Namun apa salahnya jika kita juga mempelajari liberalisme dan menjadikannya salah satu jalan menuju kemenangan umat Islam?

Kebebasan dan Liberalisasi

Dewasa ini, seperti yang diketahui banyak orang, kebebasan berpendapat adalah hak dari setiap Individu. Dari kebebasan berpendapat itu lah, border yang telah menjadi batas ketabuan agaknya perlahan memudar.

Terlebih di Indonesia sendiri, hal semacam itu juga diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28E ayat 3 yang bunyinya: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.

Menelisik tentang mosi kebebasan pendapat yang menjadikan “adanya” borderless dalam proses berpendapat setiap individu. Tentunya, hal ini saling berkaitan dengan salah satu topik pemikiran, yaitu liberalisasi. Maksud tambahan sasi dalam liberalisasi adalah sebuah proses menuju sesuatu. Secara kata, liberalisasi diambil dari kata liberate atau liberal.

Liberal sendiri adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat dan tradisi politik yang menekankan kepada kebebasan. Secara sifat yang hadir dari definisinya, liberal sangatlah menolak adanya batasan yang diberikan kepada individu, baik yang dilakukan oleh negara maupun agama.

Nilai Pokok Liberalisme

Liberal atau liberalisme sebagai pandangan menganut beberapa nilai pokok, yaitu: life, liberty, dan property. Turunan dari ketiga nilai pokok dalam liberalisme tersebut yang pertama adalah mengenai adanya kesempatan yang sama. Hold the basic equality of all human being adalah konsep jelas bahwa manusia diciptakan dengan kesempatan yang sama.

Oleh karena itu, relevan jika manusia memiliki hak yang sama di semua bidang kehidupan tanpa terkecuali. Baik di bidang politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk manusia mengembangkan dirinya semaksimal mungkin agar dapat kembali kepada masyarakat dan alam dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya, liberalisme juga menekankan kepada pengakuan terhadap persamaan hak manusia. Dalam liberalisme dijelaskan bahwa persamaan hak ini menyangkut kepada persamaan derajat dalam menyelesaikan suatu masalah dengan bebas menyampaikan pendapat. Treat the others reason equally adalah pokok untuk menjadi liberal yang baik, tanpa sekat, tanpa batas, dan tanpa melihat kelas.

Kemudian, konsep liberalisme mewajibkan negara berjalan selaras dengan berjalannya hukum atau rule of law, yang mana mewajikan negara untuk berorientasi kerakyatan. Fungsi negara adalah untuk membela hak individu dari setiap rakyatnya, karena dalam liberalisme sendiri yang menjadi pusat dari segala hal adalah individual atau the emphasis of individual. Maka, negara di sini difungsikan hanya sebagai mekanisme atau instrumen.

Paradoks Besar

Mengkaji liberalisme sendiri sebagai landasan pemikiran adalah sebuah paradoks besar. Walaupun liberalisme melandaskan kebebasan dengan sebebas-bebasnya, tetap saja liberalisme hadir dari pemikiran manusia yang tidak bebas dari jeratan pengaruh lingkungannya.

Setelahnya, dalam hemat penulis, rasanya kebebasan yang dihadirkan dari ideologi ini penuh pemaksaan dan pemusatan sepihak dengan embel-embel manusia dan persamaannya. Karena tidak ada jaminan afirmasi dari pihak terkait yang diasosiasikan sebagai yang terwakili.

Paradoks selanjutnya, sebenarnya liberalisme memberikan batas untuk menjadi tidak terbatas. Padahal dalam ranah kebutuhannya, manusia tetap memerlukan pegangan, dalam hal ini adalah cinta terhadap hal yang absolut seperti yang tertulis dalam buku The Art of Love karya Erich Fromm.

Hal ini lah yang dinegasikan dan tidak dipertimbangkan oleh liberalisme sebagai ideologi. Selain itu, tentu lah yang menjadi sebuah kepastian bahwa liberalisme mempunyai banyak kekurangan yang bisa disangsikan dan dikritisi, lagi-lagi yaitu liberalisme lahir dari pemikiran manusia yang terbatas.

Berbeda dengan Islam sebagai asas dan dasar pemikiran yang hadirnya dari Tuhan, Allah. Rasanya, Islam menjadi sebuah pokok yang lebih kuat dari ideologi manapun. Tesis ini hadir dikarenakan Islam dapat menjadi agama yang menyesuaikan kondisi masyarakat manapun tapi tidak lepas dari pegangan yang penting. Sehingga tidak terjadi paradoks dalam pelaksanaanya dan tetap mempertimbangkan manusia sebagai manusia.

Jalan Kemenangan Umat Islam

Secara harfiah, Islam berasal dari kata aslama yang berarti damai, tenteram, selamat dan menyerahkan diri. Walaupun definisi “menyerahkan diri” tercantum pada pengertiannya, namun bukan berarti Islam adalah agama yang membatasi umat muslim untuk berpikir dan bertindak.

Islam lebih jujur daripada liberalisme yang bermain di balik konsepnya yang bertabrakan. Hal ini dibuktikan dengan Islam adalah agama yang sangat dialektis ditinjau dari segi historis. M. Faisol Fatawi dalam Tafsir Sosiolinguistik menyatakan bahwa al-Quran sebagai kitab memiliki muatan teks yang sangat dialektis. Hal ini terjadi karena disesuaikan dengan konteks masyarakat Arab waktu itu yang sangat bebas.

Selanjutnya, Syamsul Wathani dalam jurnalnya yang berjudul Dialektika al-Quran dengan Pola Pikir Keberagaman Masyarakat Arab menuliskan dengan tegas bahwa pendekatan Islam kala itu sangatlah humanis dan melihat konteks dari masyarakat arab yang masih jahil dan ‘liberal’. Fokus utama dari dakwah Islam waktu itu adalah menghadirkan kesadaran lewat kebebasan berpikir tanpa mendiskreditkan “liberalisme”.

Dari pemaparan dan penguraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa liberalisme memang mempunyai narasi politik yang kuat, namun masih saja mempunyai kelemahan dan poin yang bisa disangsikan.

Sayangnya dalam hemat penulis, liberalisme belum bisa dilihat umat Islam sebagai hal yang perlu didalami dan dipelajari sebagai salah satu jalan menuju kemenangannya dengan memberikan konter narasi politik keumatan yang jelas. Kebanyakan umat Islam sekarang malah menjauh dan anti narasi-narasi liberalisme. Padahal berdasal yang telah dijelaskan di awal, liberalisme bisa menjadi peluang jalan kemenangan umat Islam.

Semoga dapat menjadi pelajaran bahwa umat Islam tidaklah boleh menjauh dari narasi oposisinya, melainkan harus mendalami hal tersebut untuk memberikan perlawanan yang lebih jelas. Salah satunya adalah dengan menjadikan liberalisme sebagai jalan menuju kemenangan.

Editor: Rifqy N.A./Nabhan

Satria Yudistira

Rausyn Fikr. Sedang dalam proses menuntut ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.