Masjid dan Pudarnya Tauhid Ekologis

 Masjid dan Pudarnya Tauhid Ekologis

Ilustrasi: Maxmanroe.com

Aku pernah iseng observasi kecil-kecilan. Masjid mana yang padat jamaah. Masjid dengan pendingin ruangan (AC) atau yang mengandalkan jendela dan kipas angin? Mulanya, kelihatan tidak ada bedanya. Orang-orang tetap shalat di masjid yang paling dekat rumah atau kantor. Kuanggap itu pertimbangan yang masuk akal. Orang memilih masjid berdasarkan mana yang paling dekat. Tapi di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk membesar, kriteria “masjid paling dekat” itu buyar. Sekarang, dalam radius 50 meter saja kadang ada dua hingga tiga masjid berdekatan. Masing-masing masjid punya layanan yang beda-beda. Dua yang paling populer adalah menyediakan makan siang gratis bagi jamaah dan berpendingin ruangan. Perut kenyang dan badan sejuk, ibadah makin khusyuk.

            Seingatku, masjid-masjid dulu tidak punya AC. Membayangkannya juga tidak. Para marbot masjid dulu urusan hariannya cuma kalau air sumur tiba-tiba kering atau pengeras suara masjid rusak. Jarang yang khawatir kalau masjid panas dan gerah. Kupikir ini pasti ada hubungannya dengan desain rata-rata arsitektur masjid sekarang yang tidak punya pekarangan, pohon, dan sejengkal pun tanah. Semua bagian pekarangan masjid disulap jadi parkir bersemen atau dimaksimalkan jadi selasar (apalagi menjelang bulan puasa). Masa kecilku kadang dihabiskan dengan memanjat pohon talok atau jambu di samping masjid.

            Aku menduga merangseknya AC sebagai kebutuhan dalam masjid ini sekedar kenyataan bahwa dunia makin panas. Bisa juga karena para jamaah sekarang yang rata-rata delapan jam bekerja di ruang ber-AC tidak tahan barang 30 menit pun tanpa AC. Tapi ternyata aku salah. Penyebab utamanya karena perusahaan-perusahaan penyedia AC menjual murah produknya dengan konsekuensi teknologi kurang ramah lingkungan. AC jadi murah tapi dengan akibat buruk lainnya. Pemerintah suka kalau AC laku (artinya ada pertumbuhan ekonomi dan investasi produk) dan kita memang didorong boros dengan energi.

             Menikmati shalat Jum’at di masjid tanpa AC membuatku tak fokus pada ceramah khatib. Pikiranku melayang ke satu pertanyaan. Kenapa orang Islam itu lamban banget dalam urusan ekologi. Entah sudah berapa shalat Jumat telah kulalui tanpa pernah satu kali pun si khatib bicara tentang perubahan iklim, pembakaran hutan, dan pentingnya memfatwa haram konglomerat penggali batubara. Pernah sih ada khatib yang bicara menyerempet lingkungan, misalnya ketika peristiwa tsunami Aceh atau erupsi Merapi. Selain itu, tidak ada lagi. Sayangnya, ketika khutbah mengenai air bah yang menelan 280.000 orang itu, yang disalahkan adalah alam. Maka, kita lebih mengenal ekologi dengan kosakata “bencana alam.”

Problem Teologis

Seorang pendeta sekaligus profesor teologi di Universitas Sanata Dharma pernah berbagi kegelisahan yang sama denganku. Dia bilang, penyebab mengapa orang beriman kurang respek pada lingkungan karena mereka menganggap Tuhan itu transenden. Beda dengan dokrin iman Katholik yang mempercayai Tuhan itu imanen dan transenden. Baik orang Islam dan Protestan, Tuhan dianggap “berada di luar” (transenden) dari eksistensi ciptaan. Itulah alasan mengapa dalam wacana keimanan atau teologi, alam itu dianggap bagian dari relasi kuasa dengan manusia. Tuhan tidak terlibat apapun dengan alam, dan membiarkan manusia bebas mengeksploitasi alam. Setelah kuingat-ingat, memang ada kesamaannya. Islam cuma punya konsep habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminnas (hubungan dengan sesama manusia).

Aku tidak bisa banyak berharap bahwa seorang khatib yang bacaannya terbatas pada fiqh-fiqh ibadah dan muamalahakan bicara tentang ancaman kepunahan terkini. Bukan salah si khatib kalau kita menimbang bahwa MUI (majelis ulama Indonesia) juga cuma memproduksi wacana rukyat versus hilal yang begitu-begitu saja saban mau Idul Fitri. Dalam satu tahun, cuma itu wacana Islam yang bisa menasional. Belum lagi, masalah qunut shubuh, ziarah kubur, dan semua kesyirikan serta bid’ah. Padahal, syirik paling bahaya sekarang ya orang lebih percaya pada ayat-ayat neoliberalisme ketimbang prinsip ekologi Islam yakni: amanah, ‘adl, dan mizan. Dan tidak ada bid’ah yang paling mengancam kita semua selain praktik ekonomi ekspantif.

Jamaah shalat Jum’at yang duduk mendengar khutbah di sampingku, seumuran si Greta Thunberg, seorang aktivis perubahan iklim asal Swedia yang sangat belia memulai aksi mogok masuk sekolah untuk perubahan iklim. Kubayangkan apakah anak-anak ini bisa jadi kayak si Greta? Itu tergantung pada jenis khutbah yang dia dengar saat ini. Kalau khutbah ini berkisah tentang mencairnya gunung es di kutub bumi atau ikan-ikan yang tewas karena laut tumpah oleh limbah, aku yakin itu pasti. Anak-anak ini juga bisa jadi seperti Greta andai seorang ulama tidak mau berkongsi dengan pengusaha tambang sekedar bersaing dalam pemilu. Sehingga si ulama jadi suri teladan yang mulia. Lagi-lagi, ini bukan salah si khatib atau takmir masjid. Bukankah ulama itu penerus warisan pengetahuan Nabi? Tahukah para ulama bahwa Nabi Muhammad mengatakan sengsaralah orang-orang yang ketika dibacakan ayat mengenai tanda di langit dan bumi tapi tidak mengerti maksudnya.

At-Tauhid fil Bi’atil Hayawiah

Buya Hamka dalam Pelajaran Agama Islam (1996:98) menjelaskan bahwa keyakinan tauhid kepada Allah juga mencakup penghormatan pada lingkungan. Terdapat tiga sifat Allah yang hanya bisa dipahami jika seorang muslim memuliakan alam, yakni sifat jamal (indah), jalal (agung), dan kamal (sempurna). Jadi, tauhid ekologi dapat dirumuskan sebagai pengakuan keimanan terhadap Allah yang diperantarai dengan sikap memuliakan alam. Sebab, alam merupakan keagungan yang ditampakkan oleh Allah sebagai kekuasaan-Nya. Seorang muslim yang mengimani Allah wajib memuliakan alam, sebab pada perubahan alam itulah ada tanda-tanda yang hendak ditunjukkan pada manusia. Banjir, gempa bumi, tsunami, angin badai, kemarau, suhu ekstrim, kepunahan, semuanya adalah tanda yang Allah tunjukkan supaya manusia sadar atas apa yang diperbuatnya. Maka, “sengsaralah orang-orang yang melihat tanda-tanda ini tapi tidak dipikirkan maksudnya.” Menurut Ibrahim Abdul-Matin dalam bukunya yang provokatif dan mengguncang, Greendeen, What Islam Teaches about Protecting the Planet (2010), prinsip fundamental dan radikal dari tauhid ekologi adalah doktrin bumi sebagai masjid. Tantangan terbesar dalam misi penyelamatan ekologi hari ini adalah membangkitkan kesadaran dan partisipasi bahwa umat beragama punya tanggungjawab yang sangat besar. Orang Islam terutama tidak boleh berpuas diri dengan amal ibadah sembari menunggu hari kiamat terjadi. Bumi ini memang sementara dan fana, tapi bukan berarti orang Islam santai saja dengan semua kerusakan alam. “Toh, bencana alamitu sunnatullah,” begitu kata seorang kawan. Aku katakan, “jadi, mengapa Nabi Muhammad berkata, tanamlah benih yang ada di tangan kendati kiamat di depan mata?” sergahku. Dia tak bisa menjawab, dan kaget ada hadits seperti itu. Sekian lama kita belajar Islam, dan sama sekali jarang yang memberitahu kita bahwa Islam sangat ramah lingkungan.

Editor: Yahya FR

Avatar

Fauzan Anwar Sandiah

Penggiat Rumah Baca Komunitas (RBK), Yogyakarta. Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Related post

2 Comments

    Avatar
  • I simply want to say I am all new to blogging and seriously loved your web page. Probably I’m planning to bookmark your blog . You actually have perfect posts. Many thanks for sharing with us your website page.

  • Avatar
  • A remarkable share, I just given this onto a coworker who was doing a little evaluation on this. And he in fact got me breakfast because I discovered it for him. smile. So let me rephrase that: Thnx for the treat! But yeah Thnkx for investing the time to review this, I feel strongly about it and also enjoy reading more on this topic. When possible, as you end up being expertise, would you mind upgrading your blog with more information? It is very valuable for me. Large thumb up for this article!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.