PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Membicarakan usaha dan hasil tak mesti tentang pekerjaan, pendidikan, ataupun masa depan. Tulisan ini penulis tujukan untuk para dokter, tenaga medis garda depan yang telah berusaha keras untuk melawan pandemi COVID-19.

Residen VS Dokter Muda

Beberapa minggu yang lalu, sekali lagi senior kami Residen PPDS Pediatri Universitas Airlangga meninggal gara-gara COVID-19. Kami dokter muda mengenang beliau sebagai sosok yang ramah, dan murah memberikan ilmunya.

Sebagai seorang dokter muda, penulis seringkali hanya bisa termangut-mangut ketika melihat senior bekerja. Kata orang awam, kerja sebagai dokter muda itu cukup berat. Harus bangun pagi, pergi ke rumah sakit, presentasi ini itu, mengelola pasien, atau jaga malam.

Ya, sesuai kapasitas penulis sebagai seorang dokter muda, itu cukup berat. Karena sebelumnya, di jenjang sebelum masuk rumah sakit atau preklinik, penulis hanya sekedar duduk di bangku kuliah dan mungkin paling berat hanyalah praktikum hal-hal yang sederhana. Tapi memang kehidupan di klinik atau dokter muda itu sungguh berbeda.

Tapi seberapapun sengsaranya kami. Itu tidak cukup berarti daripada senior kami, para residen. Ketika kami datang pukul tujuh pagi, mereka sudah selesai mengelola pasien. Ketika kami selesai di pukul tiga sore, mereka juga harus mengelola pasien lagi sampai waktu yang belum tentu mereka sendiri tahu. 

Apa selesai hanya dengan mengelola pasien pagi dan sore? Tentu tidak! Mereka harus menyiapkan bermacam-macam case report, journal reading, atau macam laporan lainnya. Belum lagi dengan tugas jaga. Kami dokter muda tugasnya cukup sederhana, “mengikuti apa kata residen”. Kami cukup pasang badan, dan menuruti apa yang beliau perintah. 

Coba Anda bayangkan, ketika ada pasien datang ke IGD, belum tentu satu dua yang datang. Senior kami harus memastikan dokumen pasien terkumpul dengan baik. Mereka menulis satu-persatu mulai dari identitas, keluhan utama, wawancara singkat, pemeriksaan fisik, sampai hasil pemeriksaan penunjang macam tes darah, tes fungsi ginjal, hati, dan lainnya. 

Apalagi kalau pasien harus terpasang kateter, sonde lambung, serta kabel-kabel untuk memeriksa fungsi vitalnya. Tentunya residen harus memastikan semua itu terpasang. 

Ah, apa daya kami para dokter muda. Paling banter juga mengantar pasien untuk foto radiologis macam X-ray atau CT Scan. Atau hanya sekedar mengingatkan perawat untuk memasang infus atau kateter. Cukup sederhana bukan?

Tugas jaga malam bukan hanya itu. Para residen juga harus menyiapkan powerpoint yang berisi laporan kasus pada jam jaganya. Untuk ditayangkan kepada residen lain dan konsulen pada besok pagi hari.

Tanggung Jawab

Tentunya beban datang bukan hanya dari rumah sakit, rumah pun demikan. Bagaimana kalau residen itu seorang suami? Harus membagi waktu antara rumah tangga dengan kehidupan rumah sakitnya. Kadang harus berpuasa berminggu-minggu hanya untuk sekedar bermain bersama buah hatinya. Paling krusial adalah bagaimana kehidupan sehari-hari tetap berjalan. Mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan. Ditambah mereka harus membayar UKT setiap semesternya. 

Bagaimana jika residen itu seorang perempuan? Harus tetap bisa mendidik anak walaupun dalam situasi pendidikan. Harus bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Coba bayangkan, bagaimana kalau residen itu hamil?

Belum tentu waktu pendidikan selesai seperti yang dibayangkan di awal. Seringkali para residen juga harus menambah masa studinya karena banyak hal. Mulai dari gagal ujian, kelalaian bertugas, atau hal-hal lain yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Lha memang siapa yang mau molor-molor sekolah? Sedangkan rata-rata sekolah spesialis itu kelar dalam 4-5 tahun. Sebagai tambahan, sekolah menjadi dokter umum, rata-rata menghabiskan waktu 6,5 sampai 7 tahun. 

COVID-19 dan Dokter

Kita berhenti sejenak dulu ya. Yang saudara-saudara baca itu tadi adalah kehidupan para residen ketika dunia berjalan dengan semestinya atau “Tanpa COVID-19.” Namun sekarang kondisinya berbeda. Mereka harus memikirkan semua itu sembari melawan Virus Corona! 

Kekhawatiran bukan hanya berasal dari ketakutan diri tertular. Lebih dari itu, mereka harus menahan penilaian masyarakat ke mereka. Mulai dari pengucilan, rasa tidak percaya, bahkan sampai dianggap sebagai sumber penularan. Hasilnya, sebagian besar dari mereka memilih tinggal di rumah sakit. Sembari menahan pertemuan dengan keluarganya.

Mereka juga percaya jika tindakan ini bisa turut menjaga lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Supaya tidak menambah resiko penularan. Sudah tidak dibayar, harus bekerja siang malam untuk misi kemanusiaan yang belum tahu kapan berakhirnya. Ditambah masyarakat yang mulai tidak bisa dikendalikan. 

Anda semua dan saya. Tentunya ketika masih berkuliah, dan kebetulan sedang terpuruk-puruknya oleh kegiatan perkuliahan atau sebab lain pasti sering bergumam bahwa “usaha tidak menghianati hasil”. Tetapi hasil dari usaha itu memerlukan satu syarat mutlak, bahwa kita tidak boleh gugur ketika berusaha mencapai hasil tersebut. Maksud “gugur” disini adalah kehilangan nyawa.

Rasanya badan ini seperti terkunglai lemas, melihat masyarakat sudah tidak ada takut-takutnya perihal virus ini. Mereka sudah berani pergi ke mall, bersepeda ramai-ramai, berkumpul di tempat umum. Bahkan ada yang dengan gagah berani mengambil jenazah COVID-19 ramai-ramai ke rumah sakit dengan dalih tidak terima jika jenazah dikuburkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Sebagai buntutnya, lagi-lagi para tenaga medis yang menjadi korban. 

Untuk masyarakat dan pemerintah, kami mohon untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi semua protokol kesehatannya. Mohon untuk tidak melakukan tindakan yang ceroboh. Kami terbatas, kami bisa tumbang.

Selamat jalan senior kami, kami sayang engkau

Baca Juga  Jihad Literasi ala Pramoedya

Editor: Sri/Nabhan

Share Artikel

contributor

Kelahiran Trenggalek Jawa Timur. Sekarang sedang menempuh Pendidikan Profesi di Fakultas Kedoteran Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan