Menaklukkan Jarak Absolut, Mendekatkan Jarak Relatif - IBTimes.ID
IrfaniTasawuf

Menaklukkan Jarak Absolut, Mendekatkan Jarak Relatif

4 Mins read

Jarak adalah salah satu konsep paling sederhana yang dibahas dalam ilmu geografi. Jarak satu tempat ke tempat lain menghasilkan ragam dampak yang kemudian dikupas lebih dalam lewat kajian geografi. Soal jarak ini, saya punya pengalaman tersendiri yang membuat pelajaran tentang konsep jarak relate banget dengan kehidupan saya.

Absolut dan Relatif

Suatu hari, pada mata kuliah Geografi Transportasi, dosen menjelaskan bahwa jarak secara umum terbagi menjadi dua. Jarak geografis atau jarak absolut adalah jarak yang diukur dengan satuan-satuan seperti meter, kilometer, mil, dan semacamnya. Misal, jarak Jogja-Jakarta adalah 560 kilometer, jarak ini merupakan jarak absolut.

Sementara itu, ada jarak relatif yang terkait dengan waktu dan biaya. Konsep ini menjelaskan bahwa jarak nggak semata-mata bisa dijelaskan lewat satuan kilometer. Jauhnya jarak menurut konsep ini terkait dengan waktu atau biaya yang lebih tinggi, nggak semata-mata karena bilangan kilometer.

Contoh dari penerapan jarak relatif dapat diterapkan pada perbandingan perjalanan Jogja-Pemalang dan Jogja-Surabaya. Jarak Jogja-Pemalang adalah 250km, sementara jarak Jogja-Surabaya adalah 325km.

Jarak absolut ke Surabaya lebih jauh sekitar 75km dibanding ke Pemalang, tetapi jika menggunakan kereta api, perjalanan menuju ke Surabaya dan ke Pemalang membutuhkan waktu yang mirip, sekitar 5 jam 30 menit. Dari segi biaya, harga tiket ke Pemalang 100 ribu rupiah, sementara ke Surabaya hanya 88 rIbu rupiah. Maka, jarak relatif dari Jogja ke Surabaya lebih dekat dibanding jarak relatif ke Pemalang.

Pada dasarnya, jarak relatif memang ditentukan waktu dan biaya. Namun, sebenarnya dalam hidup kita jarak relatif juga ditentukan hal-hal irasional yang melekat pada manusia.

Bapak dan Ibu Menaklukkan Jarak

Lebih dari satu dekade lalu, Bapak menempuh studi magister dan doktoral di UIN Sunan Kalijaga Jogja. Padahal saat itu Bapak berdomisili di Lampung dan mengajar di IAIN (saat ini UIN) Raden Intan Lampung. Kesulitan ini dilengkapi dengan anak yang masih kecil-kecil, juga istri yang mengurus anak sekaligus bekerja. Penghasilan pun sama sekali nggak bisa dikatakan cukup.

Baca Juga  Menghadirkan Suasana Pesantren di Rumah

Tapi dengan semua tantangan itu, Bapak justru melakukan hal yang luar biasa dalam menaklukkan jarak absolut. Membuat secara relatif jarak Lampung-Jogja terasa dekat. Menghadapi perbedaan jarak yang jauh, Bapak melakukan perjalanan pulang-pergi Lampung-Jogja satu bulan sekali saat S2 dan dua pekan sekali saat S3 menggunakan bus. Satu pekan dihabiskan untuk tinggal di Lampung sekaligus menyediakan waktu untuk perjalanan.

Perjalanan Lampung-Jogja sendiri saat itu menghabiskan waktu 22-26 jam, dua hari semalam. Bertahun-tahun kebiasaan ini dilakukan. Sampai Bapak hapal nama-nama kapal di penyeberangan Bakauheni-Merak. Mengerti perkembangan jalan Lampung-Jogja. Juga akrab dengan beberapa supir bus hingga saat ini ketika tak lagi sering ke Jogja.

Jarak absolut yang merepotkan juga ditaklukkan Bapak dan Ibu lewat komunikasi via telepon. Perihal komunikasi jadi tantangan tersendiri karena saat itu ponsel belum banyak digunakan apalagi oleh keluarga menengah ke bawah seperti kami. Hanya Bapak yang punya ponsel, sementara Ibu harus ke wartel jika ingin telponan dengan Bapak.

Momen sederhana ini saya ingat, karena untuk menuju ke wartel saat itu Ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil—termasuk saya sendiri—harus berjalan malam-malam, melewati jalan setapak di tengah semak belukar berbekal lampu senter. Lalu bertegur sapa dan bertukar kabar sekadarnya lewat sambungan telepon.

Irasionalitas Manusia

Saat gempa Jogja 2006 terjadi, Bapak sedang berada di Jogja. Untungnya Bapak selamat tanpa luka berarti. Aku yang masih kecil saat itu senang saja ketika mendapat cerita bahwa Bapak selamat, tapi tentu saja Ibu sangat khawatir ketika mendapat berita tentang gempa Jogja. Apalagi sambungan listrik maupun telepon sempat terputus.

Nggak lama setelah gempa, Bapak segera kembali ke Lampung. Namun jarak absolut yang kali ini ambil peran. Selama perjalanan, Bapak terbayang kengerian akibat gempa, bahkan sampai nggak bisa tidur selama perjalanan. Karena memang Bapak sempat bertemu dengan reruntuhan akibat gempa, juga korban jiwa yang berjatuhan saat di Jogja.

Baca Juga  Saat Buya Syafii Maarif Dirawat di PKU Gamping

Rangkaian perjuangan Bapak dalam studi ini menggambarkan betapa jarak relatif sangat ditentukan hal irasional yang melekat dalam hidup manusia. Kecintaan sekaligus tanggungjawab pada keluarga jadi salah satu motivasi yang membuat Bapak tetap kuat berjibaku dengan jarak Lampung-Jogja. Bertahun-tahun sejak memulai S2 hingga lulus S3. Dengan keadan ekonomi sampai tekanan mental yang membuat keadaan makin rumit.

Saya pun yakin, pertempuran melawan jarak absolut yang jauh—dan membuat jarak relatif terasa dekat—banyak dilakukan oleh manusia. Masih banyak cerita lain di luar sana tentang jarak relatif yang dekat meskipun secara absolut jauh.

Jarak Relatif yang Menentukan

Selain cerita pribadi dalam keluarga saya, jarak relatif yang sangat menentukan juga bisa kita temui dalam peristiwa sederhana. Teman-teman saya di kampus misalnya, yang bersedia menempuh jarak 30-40 kilometer setiap hari hanya untuk kuliah di pagi hari dan kembali ke rumah di sore/malam hari. Hal ini mereka lakukan karena tanggungjawab dan semangat untuk menuntut ilmu. Membuat jarak relatif terasa dekat meskipun secara absolut sangatlah jauh.

Begitu pula dengan teman-teman di organisasi. Selalu ada personalia organisasi di tingkat kota atau provinsi yang jauh rumahnya, bisa puluhan kilometer ditempuh dan berliter-liter bensin dihabiskan, tapi mereka bersedia datang saat acara dan rapat. Hal ini terjadi tak lain karena tanggungjawab, kecintaan, sekaligus pertemuan dengan teman yang membuat mereka bersedia bertarung dengan jarak.

Sebaliknya, ada pula bagian dari organisasi yang secara absolut nggak jauh-jauh amat lokasi tempat tinggal atau kampusnya. Namun ia jarang terlihat dalam rapat dan agenda organisasi. Benar, hal ini tak lain karena jarak secara absolut dekat, namun secara relatif jaraknya jauh. Jauh karena ketidaknyamanan, perbedaan pandangan, sampai kurangnya teman dan rasa tanggungjawab.

Baca Juga  Hal-hal Menarik dari Kepala Gundul

***

Lain lagi dengan hubungan inter-personal. Cerita Bapak dan Ibu saya tadi, juga cerita tentang orang-orang yang saling mencintai adalah gambaran bahwa jarak yang memisahkan bisa terasa dekat. Namun ada pula yang sebaliknya, contohnya saat dua orang yang tinggal dalam satu kota saling menghindari karena beragam alasan.

Alhasil yang terjadi adalah jarak absolut di antara mereka mungkin kurang dari lima kilometer, namun secara relatif jaraknya terasa seperti bumi dan matahari. Jangankan bertemu, sekadar memulai pesan pun tak sudi.

Jarak relatif selalu ambil peran pada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita. Sekaligus menegaskan bahwa jarak absolut bukan satu-satunya yang menentukan jauh-dekatnya jarak. Jarak relatif pula yang dapat menjelaskan bahwa ujaran “jauh di mata, dekat di hati” itu benar adanya.

Selamat menaklukan jarak absolut, menentukan jauh-dekatnya jarak relatif.

Avatar
12 posts

About author
Mahasiswa S1 Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM. Ketua PW IPM DI Yogyakarta Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan
Articles
Related posts
Irfani

Rifa’ah Al-Tahtawi: Pendidikan sebagai Kunci Modernisasi Mesir

4 Mins read
Pada periode awal Mesir, faktor-faktor yang mengancam terbengkalainya aspek pengetahuan disebabkan oleh kondisi sosial masyarakat Mesir terhadap Islam yang memudar secara signifikan….
Irfani

UPOAK: Cerita tentang Buya Pegiat Masyarakat

7 Mins read
Grup Whatsapp KERINCI HILIR BERSATU, 14 juli 2020. Sebuah status tiba-tiba menghentak pikiran dan perasaanku. Status itu berupa sebuah foto dokumen kertas…
Tasawuf

Ketika Seorang Sufi Mengancam Tuhan

2 Mins read
A Sufi mystic was once deep in meditation when he heard a voice say to him,“Shall I tell the people what I…

Tinggalkan Balasan