PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal itu dimaksudkan supaya manusia saling melengkapi satu sama lain. Dengan demikian, manusia diharapkan untuk saling membantu antar sesamanya. Sayangnya, masih banyak ditemukan manusia yang hanya melihat kelebihan seseorang tanpa mau melihat kekurangannya. Sehingga, tanpa disadari sikap semacam ini lambat laun akan memunculkan sifat iri.

Sifat Iri itu Manusiawi

Sifat iri sepertinya menjadi penyakit utama manusia di muka bumi. Bahkan, rasanya tidak mungkin ada seseorang yang tidak pernah atau memiliki merasa iri. Dengan tegas saya akan berkata “Itu merupakan hal yang mustahil.” Bukannya tanpa alasan, selama manusia memiliki mata, hati, dan otak, selama itu pula manusia akan membentuk sifat iri hati dalam dirinya.

Dapat dikatakan, sifat iri awalnya berasal dari kedua mata sendiri. Ketika melihat orang lain lebih mampu daripada kita. Kemudian, apa yang dilihat dari mata, akan ditransfer ke dalam otak. Selanjutnya, di dalam otak akan terbentuk pemikiran iri. Hingga akhirnya akan menuju ke hati. Sehingga hati menjadi tempat terakhir rasa iri terpendam, entah dalam waktu sebentar atau lama.

Saya masih ingat betul ketika duduk di bangku TK yang kala itu sudah memiliki sifat iri. Ini terjadi pada saat teman sekelas memiliki mainan baru. Dengan melihat mainan baru tersebut, tiba-tiba saja mulai muncul sifat iri untuk memiliki mainan yang lebih bagus daripada yang dimiliki oleh teman tersebut.

Kejadian iri lainnya yang saya rasakan atau mungkin juga pernah dialami oleh orang banyak, yaitu iri pada saat orang lain memiliki lebih dari apa yang kita punya. Baik itu dalam bentuk materi atau non-materi. Karena, orang tersebut secara tidak langsung akan lebih dipandang dan dihormati oleh banyak orang.

Baca Juga  Empat Hal untuk Keselamatan Seorang Muslim

Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa sifat iri merupakan hal yang manusiawi. Paling tidak pengalaman dari penulis di atas tadi dapat menyadarkan bahwa semua manusia bisa atau memiliki sifat iri, baik dari hal sepele sampai yang besar.

Terdapat suatu permasalahan tatkala rasa iri muncul secara berlebihan terhadap orang lain. Hingga tak jarang melakukan hal atau tindakan yang melanggar hukum, seperti kekerasan atau bahkan pembunuhan.

Hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh emosi yang tidak terkontrol. Lagi-lagi, semuanya kembali kepada diri sendiri. Apabila ditanggapi dengan baik, maka sifat iri tidak akan berubah menjadi sebuah bencana.

Cara Mencegah Sifat Iri

Sifat iri tidak selamanya berdampak buruk selama kita mampu mengontrolnya. Terdapat beberapa cara agar rasa iri dapat dicegah. Pertama, tidak memiliki sikap crab mentality atau mental kepiting. Istilah crab mentality sendiri diambil dari hewan kepiting, yang selalu menarik temannya ketika ingin keluar ke tempat lain. Analogi itu merupakan gambaran terhadap manusia ketika tidak senang melihat temannya yang ingin bergerak untuk melakukan perubahan diri.

Sikap semacam itu membuat seseorang bisa bertindak untuk melakukan berbagai cara agar temannya menjadi jatuh kembali ke tempat semula. Sebab, ia tidak ingin melihat temannya menjadi lebih sukses dibandingkan dirinya. Kedua, menemukan jati diri. Dengan menemukan jati diri, seseorang akan merasa lebih percaya diri dalam menjalani hidup sesuai dengan apa yang dimilikinya. Sebab, semua orang telah mempunyai potensinya masing-masing. Dengan mengetahui potensi yang dimiliki dapat membuat rasa minder menjadi hilang.

Ketiga, banyak mendalami berbagai ilmu. Ada pepatah yang mengatakan “Carilah ilmu sampai ke negeri China”. Pepatah itu memberikan sebuah gambaran, bahwa ilmu yang terdapat di alam semesta sangat luas. Dengan begitu, kita tidak boleh untuk merasa puas dengan ilmu yang dimiliki.

Baca Juga  Tafsir Akhlak terkait Covid-19

Namun, masih ada saja orang yang merasa puas diri dengan ilmu yang sudah dimilikinya. Kendati, dapat dikatakan ilmunya masih sebesar biji kedelai dan akhirnya menimbulkan sikap sombong.

Mawas Diri

Sebenarnya, sifat cepat puas diri dapat dikendalikan dengan menganggap kalau kita adalah orang paling bodoh di dunia. Dengan anggapan tersebut, minimal diri kita bisa menjadi sadar bahwa di atas langit masih ada langit. Sehingga, kita dapat melepas jubah kesombongan, demi bisa mempelajari ilmu baru yang belum dikuasai dan demi menghindari sebuah kedangkalan berpikir.

Keempat, berusaha lebih keras. Kerap kali masyarakat melakukan acara gibah bersama. Biasanya salah satu topik yang menjadi bahan gibah adalah nilai kebahagiaan yang dicapai oleh orang lain. Mislanya, tetangganya mampu membeli kendaraan baru atau mendapatkan jabatan tinggi.

Kita boleh saja membicarakan tetangga kita yang memiliki jabatan tinggi, rumah mewah, dan hartanya banyak. Asalkan jangan sampai membuat fitnah terhadap mereka. Kita semestinya harus menanamkan dalam jiwa kita, bahwasannya kita mampu seperti tetangga kita. Dengan membakar semangat di dalam diri, kita akan berusaha lebih keras lagi dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Bukankah Allah sudah mengatakan, Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya? Oleh sebab itu, jangan pernah berharap untuk mengubah hidup jika tidak diiringi dengan usaha.

Kelima, mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang selalu mendekatkan diri kepada pencipta-Nya akan mampu mengontrol dirinya. Ketika mendapatkan cobaan maka ia harus menjalaninya dengan tabah, begitupun ketika mendapatkan rezeki, jangan lupa untuk selalu bersyukur.

Itulah cara yang bisa dipakai agar terhindar dari bahaya sifat iri. Bukankah sebagai manusia ada baiknya untuk selalu bersikap mewawas diri, demi terhindar dari kerugian yang diakibatkan oleh tindakan sendiri.

Baca Juga  Jangan Ngaku Generasi Milenial Kalau Belum Melakukan Ini!

Editor: Nirwansyah

Share Artikel

contributor

Mahasiswa Sosiologi Unesa

Leave a Reply