PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Toleransi merupakan hal yang tetap dibutuhkan demi berjalannya transformasi sosial sepanjang sejarah umat. Bahkan sejarah membuktikan bahwa agama merupakan dobrakan moral atas kungkungan yang ketat dari pandangan yang dominan yang berwatak menindas.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh Islam dengan dobrakannya atas ketidakadilan wawasan hidup jahiliah yang dianut mayoritas bangsa Arab di zamannya. Manusia ditempatkan pada martabat yang tinggi dan merupakan karunia pemberian tuhan kepadanya, bukan pemberian manusia lain dan bukan pula pemberian negara atau superioritas lainnya.

Al-Quran menjelaskan hal ini secara tegas untuk memperkuat prinsip kemuliaan martabat manusia yang dinyatakan dengan ungkapan yang mutlaq, yaitu Bani adam. Kemuliaan martabat manusia mencakup seluruh umat manusia tanpa kecuali.

***

Jaminan terhadap perlindungan harkat dan martabat manusia datang dan berasal dari Allah SWT dari sifat Rahman dan Rahim-Nya. Implikasi yang terkandung dari prinsip ini adalah bahwa tunduk dan hormat pada kekuasaan Allah SWT haruslah sekaligus berarti menghormati jaminan dan ketentuan Allah SWT yang dalam hal lain ini berarti menghormati dan mengakui martabat setiap manusia.

Tidaklah mungkin seseorang dapat mengaku menghormati kekuasaan Allah SWT apabila dalam kenyataan ia tetap merendahkan martabat manusia dalam berbagai bentuknya. Dalam kaitan ini, Islam dengan ajaran tauhidnya, memberikan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan. Islam mentolerir perbedaan keyakinan dan keimanan, tanpa harus memakasakan keyakinan dan keimanan terhadap orang lain. Dengan kata lain, Islam melalui ajarannya memiliki pandangan universal yang berlaku untuk seluruh umat manusia.

Tetapi melihat kondisi yang sekarang krisis terjadi di mana mana. Beberapa negara bahkan dilanda kemiskinan karena keadaan ekonomi yang kian merosot dikarenakan banyak faktor terutama adanya wabah COVID-19 yang sangat amat membuat hampir semua negara mengalami resesi termasuk negara kita Indonesia.

Baca Juga  Kiprah Muhammadiyah dalam Pendidikan

Hal ini adalah hal yang sangat amat serius karena benar-benar menyerang sektor ekonomi dunia, maka ini disini kita harus bergerak bersama, melawan bersama wabah yang amat sangat berbahaya bagi umat di dunia ini, kita butuh satu kunci untuk bisa menghentikannya yaitu toleransi.

Pentingnya toleransi dalam menangani krisis seperti ini ialah adanya sikap saling bahu membahu untuk memberikan bantuan berupa dana baik itu uang, perihal kesehatan maupun bantuan kemanusiaan lainnya untuk meringankan beban ekonomi negara-negara yang terkena krisis terutama Indonesia karena COVID-19 ini.

Hubungan Humanisme dan Agama

Saya mengambil satu contoh yaitu kisah toleransi inspiratif muncul di tengah upaya relawan memerangi penyebaran COVID-19 di kota Palu. Upaya keras yang dilakukan dengan menyingkirkan perbedaan agama dan mengedepankan kemanusiaan. Upaya yang tengah dilakukan Zulfa Ningsih Lestari, perempuan berhijab yang wara-wiri di gereja itu, melakukan penyemprotan disinfektan untuk menekan penyebaran Virus SARS-CoV-2. 

Perempuan muda itu bergegas turun begitu mobil bak terbuka yang membawa mereka parkir di halaman Gereja Kebangunan Kalam Allah Jemaat Palu, di Jalan Pattimura, Palu, pada akhir pekan lalu. Setelah mengenakan masker dan pelindung diri lain, bersama relawan lainnya dia ikut mensterilkan tempat ibadah umat Kristiani itu termasuk sekolah taman kanak-kanak yang ada di kompleks gereja. Sebelumnya, pada Sabtu pagi, 21 Maret 2020, penyemprotan juga telah dilakukan perempuan itu bersama timnya di salah satu masjid di Kota Palu.

Zulfa Ningsih Lestari namanya, sejak COVID-19 menyerang sejumlah daerah, bersama relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Tengah lainnya berinisiatif mengambil peran sebagai penyemprot disinfektan untuk mencegah virus Virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 itu singgah di tempat-tempat publik di Kota Palu. Dan Zulfa memilih tempat ibadah, seperti gereja dan masjid sebagai lokasi sterilisasinya.

Baca Juga  Empat Ciri Masyarakat Madani Menurut Nurcholish Madjid

Setiap harinya, perempuan lulusan Universitas Tadulako itu bergabung bersama 3 relawan ACT lainnya mendatangi tempat-tempat yang meminta dilakukan penyemprotan. Saban hari, 3 sampai 5 titik disambangi Zulfa. Zulfa tampak mencolok dalam setiap aksi kemanusiaannya itu. Selain karena di dalam timnya dia satu-satunya perempuan, pilihannya untuk tetap mengenakan jilbab dan tanpa canggung di dalam gereja juga memberi pesan damai yang kuat di tengah kegelisahan orang-orang akan meluasnya pandemi COVID-19

“Ini soal kemanusiaan. Siapa pun dan darimana pun yang meminta bantuan ke kami, selagi bisa pasti kami bantu,” kata Zulfa yang juga anggota Remaja Islam Masjid (Risma) Desa Binangga, Sigi itu

***

Kini, di tengah semakin meluasnya penyebaran virus tersebut di Indonesia, Zulfa dan timnya tetap rutin menyinggahi rumah-rumah ibadah di Palu untuk melakukan penyemprotan. Tanpa pandang asal-usul, agama, suku, dan golongan lainnya.

 Dari sini kita bisa melihat betapa jiwa kemanusiaan wanita yang bernama zulfa ( 22 ) sangat besar dia tidak peduli asal-usul, agama, suku, dan golongan lainnya. Dia hanya selalu ingin untuk maju demi kemanusiaan itulah yang disebut dengan toleransi dalam impact yang besar dan dia dengan tim nya berpendapat bahwa Kemanusiaan yang Mengalahkan Perbedaan. Itulah indahnya toleransi dalam suasana krisis seperti ini.

Editor: Wulan

Share Artikel

contributor

Hamba allah yang berharap masuk surganya dan rindu dengan surganya.

Tinggalkan Balasan