PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Sebelum membahas hakikat puasa wajib maupun sunnah, izinkan penulis bercerita suatu kejadian. Malam hari, seorang anak menyampaikan kepada ibunya bahwa ia ingin melaksanakan puasa sunnah pada hari senin. Si ibu amat senang mendengar hal itu, lalu beliau menambahi:

“Sekalian puasa main hp seharian ya mas?“

Sembari si ibu menunjukkan reward berupa bintang di kalender sebagai tanda bahwa anak laki-lakinya bisa puasa sunnah sekaligus puasa untuk tidak bermain hp beberapa waktu lalu. Si anak menganggukkan kepala sambil memamerkan senyum manisnya, lalu segera pergi ke kamar dan tidur.

Contoh di atas merupakan cerita singkat dan sederhana bagaimana seorang anak berpuasa tak sekadar menahan lapar dan haus, namun juga menahan diri untuk meninggalkan hal-hal sia-sia.

Definisi dan Hakikat Puasa

Dalam tinjauan fiqih, puasa  sunnah maupun wajib secara etimologi adalah al imsak yang berarti menahan. Sedang secara terminologi puasa adalah menahan makan, dan minum, serta berhubungan suami istri dari terbit hingga terbenamnya matahari.

Ditinjau dari dua definisi di atas, bahwa substansi puasa ialah menahan dan membelenggu segala nafsu individu yang dapat merusak individu itu sendiri maupun tatanan moral sosial masyarakat tertentu.

Puasa dalam artian ini tak hanya menyentuh aspek ritual semata, tetapi juga dikaitkan dengan nilai-nilai yang berlandaskan pada spirit kemanusiaan. Arti puasa tak lagi sempit hanya mencakup pahala, dosa, surga, dan neraka. Puasa memiliki dimensi sosial, semula bersifat teosentris menjadi antroposentris.

Anomali Orang Berpuasa

Dewasa ini, kata puasa hanya dijadikan ajang ritual dari seorang hamba kepada Allah. Salah satu definisi puasa yang tujuan awalnya sebagai pembelengguan atas hawa nafsu menjadi tereduksi. Titik fokus berpuasa hanya pada soal makan, minum, dan permasalahan seks di siang hari.

Baca Juga  Manfaat Kesehatan di Balik Sunnah Berbuka dengan Kurma

Ketika berpuasa, seseorang sibuk menahan lapar dan dahaga, namun dirinya masih sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Tidak hanya itu, puasa yang ia jalankan juga digunakan sebagai ajang untuk bermalas-malasan dari pagi hingga sore hari.

Ritual puasa hanya dijadikan tameng atau kedok pribadi untuk mencari citra juga pujian di mata manusia, sembari mengharap pahala dan kasih sayang dari Allah SWT, padahal jauh-jauh hari Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Banyak di antara orang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.” (H.R Ibnu Majah)

Penulis menyadari bahwa prediksi Rasulullah menjadi bukti sahih akan maraknya orang-orang berpuasa, namun kehilangan akan esensi. Dampaknya, orang-orang akan mengabaikan aspek hilir daripada hulu dalam berpuasa. Mereka juga akan cenderung memperdebatkan tata cara (kaifiyah) daripada mengungkap rahasia (asraar) puasa.

Hakikat Puasa di Era Milenial

Menyingkap tabir hakikat akan suatu ibadah, terutama puasa bukan saja tugas para sufi, melainkan juga tugas setiap manusia karena dia telah diberikan akal dan hati untuk berfikir serta mengungkap tabir bukan saja dalam urusan fiqih, tetapi juga urusan keagamaan secara umum.

Dengan akal dan hati, tak ayal manusia dijuluki sebagai ulul albab dan ulul abshar. Kedua gelar tersebut setidaknya memberikan motivasi bagi manusia untuk senantiasa mengungkap tabir atas segala makna yang terkandung dalam ibadah, khususnya puasa.

Di bawah ini, setidaknya terdapat beberapa macam puasa sebagai representasi dari kata al imsak yang dikontekstualisasikan dengan situasi dan kondisi. Adapun macam puasa tersebut ialah:

Pertama, puasa bagi seorang ibu rumah tangga ialah menahan diri untuk tidak bergosip saat orang lain memiliki mobil baru.

Kedua, puasa bagi seorang guru ialah bersabar atas segala macam tingkah laku dan kemampuan murid saat melaksanakan proses belajar-mengajar di kelas.

Baca Juga  Pengalaman Mengenali Islam, Ibadah, dan Keikhlasan

Ketiga, puasa bagi seorang murid ialah dengan menahan rasa malas agar senantiasa belajar dengan giat guna mengejar cita-citanya.

Keempat, puasa bagi seorang suami adalah menahan diri untuk tidak memberikan nafkah haram kepada anak dan istri, sekaligus menahan keluarga dari segala sesuatu yang bisa menjauhkan dari Allah SWT.

Kelima, puasa bagi istri adalah menahan diri untuk tidak menuntut suami dengan segala macam nafkah di luar kemampuannya.

Keenam, puasa bagi orang miskin ialah menahan diri untuk tidak mencuri, merampok, dan mengambil  barang orang lain yang bukan haknya, meski ia benar-benar menginginkannya.

Ketujuh, puasa bagi orang kaya adalah dengan menahan diri untuk tidak sombong atas harta yang dimilikinya.

Kedelapan, puasa bagi seorang pedagang ialah dengan menahan diri untuk tidak berdusta ketika  menjual dagangannya demi mendapat keuntungan berlipat ganda.

Kesembilan, puasa bagi seorang pembeli ialah dengan menahan diri untuk tidak menyakiti penjual ketika sedang melakukan proses tawar-menawar barang.

***

Sembilan contoh di atas merupakan esensi sekaligus dimensi moral yang terkandung dalam ibadah puasa. Tentunya, masih banyak lagi hakikat-hakikat lain yang bisa diambil dari makna puasa, seperti puasa mengajarkan kesetaraan antara satu orang dengan orang lain tanpa memandang harta, suku, dan ras.

Merupakan tugas kita bersama menangkap hakikat ibadah-ibadah, lalu kita amalkan dan aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari agar jangan sampai berhenti pada ranah teologis semata, melainkan juga merambah dalam kehidupan sosial. Wallahu A’lam  

Editor: Wulan
Share Artikel

Penyuluh Agama Islam Non Fungsional KUA Selomerto dan Pengajar di MI Muhammadiyah Kertek Wonosobo

Leave a Reply