Oleh : Nur Azis Hidayatulloh*

 

Melanggar lalu lintas, apa yang tersirat dalam pikiran kita ketika menangkap kalimat tersebut? Tentu pelanggaran menjadi sebuah realitas hidup kita yang sering ditemukan. Kesadaran akan pentingnya mematuhi peraturan sungguh menjadi pekerjaan rumah yang selalu jadi problem jalan raya kita. Seolah nilai-nilai yang selama ini diajarkan di bangku kelas tidak tergambarkan dalam laku kehidupan jalanan kita. Selain itu, perlu dilakukan pertimbangan untuk mengakhiri pendidikan “budak pabrik”.

Menggambarkan kesuksesan belajar dalam lingkup pendidikan, bisa kita ukur dengan kepatuhan akan aturan yang ada di lalu lintas. Mengapa lalu lintas, karena di sanalah beragam watak, karakter, pangkat dan tingkatan sosial masyarakat berada. Dari kalangan bawah sampai para pejabat yang notabene berpendidikan tinggi.

Menakar Pendidikan dari Etika Jalanan

Mengukur sejauh mana keberhasilan pendidikan kita dalam menghasilkan kualitas para manusia yang menghargai sebuah aturan bersama dalam berkehidupan. Aturan yang secara sederhana dibuat atas dasar kebersamaan untuk menciptakan ketertiban dalam berlalu lintas. Secara tidak sadar memberikan pelajaran secara realitas kehidupan; bahan ajar, materi soal dan jawaban sekaligus dalam lingkup jalanan.

Pendidikan kita masih amat belum baik, terlihat dari pola dalam pendidikan kita. Kalangan terdidik banyak yang hanya menjadi “budak pabrik” dan kehilangan jati diri “manusia yang merdeka dan kreatif”. Pola pikir warisan kolonial Belanda ini tidak lepas dari wajah pendidikan kita yang masih belum berubah dalam alurnya, meskipun kurikulum terus mengalami perombakan.

Namun, dalam pola pikir masih menetap dalam alam bawah sadar dan diwariskan turun-temurun. Menjadikan pendidikan hanya sebagai pencetak tenaga siap pakai dan menihilkan sikap kritis merupakan tinggalan dari masa penjajahan Belanda.

Menakar Pendidikan dari Jalanan

Memikirkan konsep pendidikan sudah dijelaskan oleh berbagai para tokoh kita. Beragam implementasi akar tradisi pendidikan dalam kebudayaan kita sudah sejak lama dimasukkan. Tapi, kondisi dan kualitas manusia kita masih belum berubah seiring dengan perbaikan kurikulum yang terus berubah. Akankah semua kurikulum yang saat ini digunakan akan merubah manusia serba “robot”?

Kita sama-sama menyaksikan bahwa negara sibuk dengan arus perubahan dunia yang serba cepat dan kompetitif. Kita mengekor dengan beragam kondisi berbagai dunia yang sudah memasukkan konsep “pabrik” dalam pendidikannya. Beragam bentuk akses sudah merambah ke dunia serba teknologi dan informasi.

Era industri 4.0 menjadikan kita latah akan pengkondisian beragam kekinian yang harus kita ikuti. Akankah kondisi zaman yang serba canggih ini akan merubah arah pendidikan kita, yang sejatinya berakar dari kebudayaan nusantara.

Berawal dari studi kasus jalanan, kondisi kita dalam berlalu lintas tak seindah apa yang kita kira. Masih banyaknya manusia-manusia yang tidak mengedepankan hidup seorang Homo sapiens yang kita kenal sangat menghargai orang lain dan hidup saling berdampingan. Beragam keegoisan manusia terangkum dalam jalanan karena disitu kita bisa melihat seberapa berpendidikan-kah kita dalam menghargai hak orang lain.

Di jalan raya, kita bisa mengetahui setiap individu dalam berinteraksi antar sesama pengguna jalan, terkhusus dalam hal penggunaan hak jalan. Nilai yang ada ketika kita di jalan raya seperti budaya tertib, disiplin, sabar, dan mampu dalam menahan diri ketika jalanan sedang ramai.

Selain melatih kedewasaan dalam berkendara, nilai-nilai dalam hidup yang selama ini dipelajari di bangku sekolah akan terekam menjadi laku hidup di jalan raya. Ketika menghadapi kemacetan semestinya menunggu dengan kesabaran. Begitupun dengan pengguna jalan kaki di zebra cross bisa saling menghargai dengan segala kondisi.

Nilai karakter ini menjadi buah bibir kalangan pendidikan yang sering dibicarakan dalam bangku kelas. Melihat kualitas pendidikan karakter kita bisa dengan melihat kondisi jalan raya yang bersatunya semua status sosial didalamnya. Tidak dengan kurungan kelas yang secara teori saja ketika pembelajaran. Karena karakter tidak jauh dari kehidupan kita, bisa jadi di jalan raya yang setiap hari kita ada didalamnya.

Mengakhiri Pendidikan “Budak Pabrik”

Kita harus meluruskan cara pandang kita dalam menilai sejauh mana pendidikan nasional berjalan, akankah mencetak manusia serba cepat secara “pabrik” atau mencetak manusia yang berkebudayaan tinggi. Manusia yang menghargai nilai, dibanding dengan manusia yang mengejar nilai.

Abad 21 telah kita jalani, akankah proses latah dalam memasukkan konsep “pabrik” menjadi kunci untuk memenangkan zaman saat ini. Kita harus segera berbenah, terkhusus dalam memandang pendidikan yang kita harapkan. Pendidikan yang bisa membentuk manusia yang berjiwa luhur, berbudaya dan bisa memberikan nilai karakter dalam hidupnya.

Kita membutuhkan pendidikan yang mengajarkan etiket dalam berkehidupan, bukan hanya teori pelajaran. Sekolah sebagai lingkup formalitas membatasi sekat siswa sebagai manusia utuh dengan manusia serba butuh, yakni manusia yang dibentuk seperti pekerja. Tujuan etiket dalam pendidikan kita sebagai bentuk hubungan baik manusia dengan lingkunganya.

Pendidikan harus secara utuh memberikan wadah siswa dalam eksplorasi nilai secara mandiri. Bukan tersekat dengan formalitas yang ada saat ini, memberikan keluasan siswa dalam mencari nilai karakter yang bisa saja mereka temukan di jalan raya. Juga merambah ke ranah sistem, mengakhiri pendidikan “buruh pabrik”.

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda