Oleh: Rio Estetika*

Mengulas tentang sosok perempuan inspiratif. Berikut kisah perjalanan Mifrahah Niatun, “Srikandi Aisyiyah” Karangturi. Perempuan kelahiran Karanganyar, 4 Agustus 1955 silam ini menjadi sosok pengemban dakwah yang komitmen dan konsisten.

Melalui organisasi otonom Muhammadiyah, bernama Aisyiyah. Ia menjadi ujung tombak perubahan kaum perempuan di kampungnya,  Desa Karangturi, Gondangrejo, Karanganyar.

Bu Rohah, adalah sapaan akrab Mifrahah Niatun oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Beliau menjadi teladan dan inspirasi perempuan-perempuan di desanya. Kiprah Bu Rohah semakin menegaskan bahwa perempuan memiliki peranan penting selain tugas domestik.

Bersama teman-temannya Bu Rohah berusaha sekuat tenaga untuk mencerdaskan perempuan-perempuan di kampungnya. Agar memiliki pemahaman agama Islam yang baik serta tahu peran dan fungsinya sebagai perempuan.

Perjalanan dakwah Bu Rohah bukanlah tanpa liku. Bu Rohah mengawalinya dari PKK Desa dengan mengadakan program pengajian khusus wanita bernama, “Al-Hidayah”. Namun, pengajian tersebut pada akhirnya kandas.

***

Sekilas Bu Rohah menceritakan kondisi yang melatar belakangi beliau mengambil peran dakwah di kampungnya. Kaum wanita saat itu belum memiliki kesadaran akan hidup beragama yang lurus. Islam hanya dijadikan sebagai simbol dan rutinitas ibadah yang bermakna sempit.

Mereka hanya mengenal sholat, puasa, dan rutinitas ibadah lain yang bersifat dhohir atau yang tampak saja. Namun dalam segi nilai-nilai ajaran Islam yang lainnya seperti akidah, akhlak, dan muamalah belum terterapkan secara sempurna atau menyeluruh.

Kondisi masyarakat saat itu juga masih kental dengan adat istiadat Jawa seperti ritual-ritual yang tidak sesuai dengan syariat Islam seperti Gugon Tuhon, tahayyul, bid’ah, dan khurofat. Selain itu kaum wanita masih banyak yang buta huruf Al-Quran.

Kondisi tersebut menjadi keprihatinan yang besar bagi Bu Rohah dan mendorongnya mengajak kaum wanita di Desa Karangturi untuk maju bersama. Khususnya dalam bidang penguasaan llmu agama Islam.

***

Bu Rohah mengambil inisiatif untuk membangkitkan kembali pengajian “Al-Hidayah”. Sempat ada keraguan di antara teman-teman Bu Rohah. “Opo yo iso, lha wong pengajian sing teko yo gur iku-iku wae” (Apa ya bisa, yang datang kajian orang-orangnya itu-itu saja?), kata Bu Rohah menirukan ucapan temannya.

Mbuh sepira wae sing teko pengajian tetep mlaku, sing teko loro utowo sijipun pengajian mlaku. Sithik-sithik sing penting konsisten” (Entahlah yang datang berapapun pengajian tetap berlangsung. Yang datang dua atau bahkan satu pengajian harus berjalan. Sedikit demi sedikit yang penting konsisten), tegas Bu Rohah menceritakan salah satu tantangan dakwahnya.

Secara resmi Ranting Aisyiyah berdiri pada pada hari Jumat, 19 Mei 2002 sekaligus melaksanakan pembentukan pengurus periode pertama yaitu periode 2002-2007. Struktur organisasi yang terbentuk pertama kali terdiri atas pimpinan dan anggota bidang. Adapun susunan pengurus Pimpinan Ranting Aisyiyah Karangturi meliputi; Ketua: Mifrahah (selaku pendiri Ranting Aisyiyah Karangturi), Wakil Ketua: Sri Lestari, Sekertaris I: Harti, Sekertaris II: Hj. Parwanti, Bendahara I: Ngatiyem, dan Bendahara II: Sri Kusmiati.

Membesarkan Ranting Aisyiyah

Bu Rohah mengajak teman-temannya untuk bergerak maju meninggalkan kejumudan dan ketertinggalan  kaum perempuan di desanya. Bu Rohah memanfaatkan Ranting Aisyiyah sebagai media gerakan dakwah perempuan yang apik.

Mengemas lingkungan yang sejalan dengan kebutuhan serta memberikan ruang kepada perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya secara positif tanpa beban dan tekanan. Pendekatan interpersonal dan kultural adalah strategi jitu untuk mengajak teman-temannya berjuang.

“Dakwah iku ora iso dewekan, ora perlu akeh sing penting koe due kanca sing mbok percaya iso ngewangi lan nyemangati” (Dakwah itu tidak bisa sendirian, tidak perlu orang banyak yang penting kamu punya teman yang dapat dipercaya dan member semangat), kata Bu Rohah.

Maka, benarlah selama memimpin Ranting Aisyiyah, Bu Rohah selalu menggunakan pendekatan personal untuk menarik simpati teman-temannya agar mau ikut serta berjuang di jalan dakwah yang ia rintis.

***

Menempatkan tema-temannya bukan sebagai anak buah, melainkan partner berjuang bersama sejalan dengan kemampuan masing-masing.

Berkat kerja keras dan kerjasama yang solid di bawah pimpinan Bu Rohah, Ranting Aisyiyah Karangturi kini berkembang menjadi organisasi perempuan yang diperhitungkan di Desa Karangturi.

Mereka telah mampu memberdayakan kaum perempuan di sana dengan kegiatan-kegiatan positif yang membangun. Pendidikan anak usia dini, kajian intensif, dompet kemanusiaan, TPA Ibu-ibu, kewirausahaan, adalah sebagian kecil agenda Ranting Aisyiyah Karangturi dalam usaha mencerdaskan kaum perempuan dan menyadarkan bahwa tugas perempuan tidak hanya berakhir pada wilayah domestik saja.

Bu Rohah pernah ditanya salah satu kawannya,”Awake dewe ngaji butuh biaya lhah iki seko ngendi? Transport ustadz pie, snack pie?” (Kita mengaji butuh biaya dari mana? Transport ustadz bagaimana? Snack bagaimana?) Menjawab pertanyaan itu, Bu Rohah mengawalinya dengan sedekah dirinya sendiri.

Beliau menanggung akomodasi ustadz dan menyediakan snack untuk kajian. Dengan begitu jamaah yang lainnya tergerak hatinya untuk ikut bersedekah menanggung biaya kajian bersama itu.

***

Bagi Bu Rohah, finansial dalam dakwah itu bisa dicari dan Allah pasti memberikan jalan keluar. Bu Rohah berpandangan bahwa harta itu jangan sampai ditumpuk-tumpuk dan harus ada yang digunakan untuk kehidupan umat. “Nek awake dewe dakwah masalah sedekah, awake dewe kudu menehi tuladha sing tenanan supoyo wong sing didakwahi iku ngeh, terus melu-melu sedekah karo infaq, kata Bu Rohah dengan sangat antusias. (Kalau kita berdakwah tentang sedekah, kita harus memberikan contoh keteladanan supaya orang yang kita dakwahi itu yakin dan mau ikut bersedekah).

Kini di usia 64 tahun Bu Rohah masih mengemban misi dakwahnya. Semangatnya tak pernah nampak surut. Ujian, tempaan, dan rintangan telah banyak ia lalui, namun baginya dakwah tak mengenal kata usai atau hanya sekedar “cukup”.

Selama nafas mengalun, tanggung jawab dakwah masih tetap melekat. Kini semangat dakwah Bu Rohah tengah diwariskan kepada anak-anak putri di kampungnya terutama kepada putrinya, Zakiyyah Nurul Lathifah yang juga giat terjun ke medan dakwah seperti Bu Rohah.

 

*Guru SD Muhammadiyah 14 Surakarta

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda