Mengenal Nama Lain Manusia dalam Al-Qur'an - IBTimes.ID
Tafsir

Mengenal Nama Lain Manusia dalam Al-Qur’an

4 Mins read

“Siapa yang mengenal dirinya (manusia), mengenal Tuhannya”

Demikian bunyi sebuah adagium yang terkenal. Hal ini selain memberi sinyal bahwa terdapat rahasia penciptaan yang luar biasa dalam diri manusia. Ia sejatinya juga memberitahukan bahwa Tuhan itu sedemikian dekat, sehingga tak usah kau cari jauh-jauh. Cukup kenali dirimu, sebagai makhluk nan lemah, niscaya akan kau temukan Tuhan itu.

Banyak yang menyadari hal itu kemudian melakukan usaha untuk mengenal dirinya (manusia). Bila menilik sejarah, usaha ini telah dilakukan ribuan tahun. Sejak zaman Nabi Adam, para bijak yunani, hingga kini di masa para ilmuwan sosial modern. ‘Apakah hakikat manusia itu?’ selalu menjadi pertanyaan besar yang coba mereka jawab.

Dalam wahyu Al-Qur’an sendiri manusia disebut dalam berbagai nama. Jika kita jeli melihat, maka akan ditemukan bahwa pada setiap penamaan itu ada makna yang berbeda-beda. Sehingga masing-masing mewakili satu karakter, sifat atau ciri yang khas dari diri manusia.

Mengenal diri (manusia) melalui masing-masing nama itu seperti menyusun satu demi satu kepingan jati diri manusia. Pengungkapan makna tiap kata atau nama manusia itu seperti menyusuri sebuah jalan yang pasti menuju pengetahuan akan siapa manusia sesungguhnya.

Mengenal Nama-Nama Manusia dalam Al-Qur’an

Pertama, Al-Basyar

Tuhan menyebut manusia sebanyak 35 kali menggunakan kata Al-Basyar. Ia sejatinya bermakna ‘kulit’ dengan maksud untuk menunjukkan manusia sebagai makhluk biologis. Bahwa manusia adalah kesatuan dari hubungan kompleks antara organ, otot dan tulang-belulang yang dibungkus kulit.

Sebab itu, ayat-ayat terkait biasanya membahas mengenai kemampuan dan fitur-fitur pada tubuh manusia yang terkait dengan kapasitas manusia untuk bertumbuh dan berkembang biak. Contoh penyebutan ini terdapat di ayat ke-20, Q.S. Ar-Rum [30];

Baca Juga  Nabi Yusuf dan Zulaikha: Cinta Pakai Akal atau Pakai Nafsu?

Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.”

Pemaknaan lain yang dapat diambil dari kata Al-Basyar adalah bahwa manusia memiliki unsur yang bersifat material, yang hidup dan terikat pada dunia yang juga bersifat material. Maka, kehadiran manusia di muka bumi adalah untuk menciptakan perubahan yang bersifat material sebagai konsekuensi dari tubuhnya yang material.

Jika sekedar material, maka manusia tidak ada bedanya dengan benda-benda mati. Yang Tuhan beri tubuh material namun diam, mati, tak bergerak. Sebab itu, tentu saja manusia juga memiliki unsur lain yang bersifat halus, spiritual, yang membuat keunggulan manusia ketimbang yang lain. Hal itu diisyaratkan dari nama berikutnya.

***

Kedua, Al-Insan

Berbeda dengan Al-Basyar yang menunjuk pada sisi biologis-material manusia, maka Al-Insan mendefinisikan totalitas antara jiwa-badan, batiniyah-lahiriyah. Bahwa manusia bukan sekedar mesin yang diisi program, melainkan nyawa, ruh, yang berkesadaran dan mengarahkan manusia kepada perilaku yang dikehendakinya.

Al-Insan juga seringkali mengandung demonstrasi atas kapasitas kognitif dan atau pengetahuan khusus yang dimiliki manusia, yang menjadikan mereka makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna;

“(Allah) Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (Q.S. Ar-Rahman [55], 1-4).

Sebab keunggulan manusia itu, maka manusia dibebani misi dan jabatan selaku khalifah di muka bumi. Diharapkan bahwa dengan kelebihan mereka, manusia dapat menjalankan tugas untuk mengelola alam semesta dengan penuh tanggung jawab dan menghadirkan manfaat dan rahmat.

Unsur batin itu mempengaruhi unsur fisik manusia. Maka menjadi misi pula bagi manusia untuk mengembangkan aspek batin itu melalui pendidikan atau aktivitas olah jiwa yang lain. Tentu, hal itu dilakukan tanpa melupakan yang material dan yang berada di luar diri manusia. Sebabnya jelas, bahwa manusia bukan makhlus individualis yang diciptakan untuk dirinya sendiri, melainkan juga alam semesta.

Baca Juga  Kesan Mendalam Al-Qur’an Ketika Membahas Perempuan

Adapun kata Al-Insan disebutkan Tuhan sebanyak 65 kali di dalam Al-Qur’an. Penyebutan ini lebih sering ketimbang kata Al- Basyar. Akan tetapi, ada kata yang lebih sering Tuhan gunakan untuk menyebut manusia hingga 243 kali. Kata itu adalah An-Nas.

***

Ketiga, An-Nas

Pada kata An-Nas ini, Tuhan cenderung membahas terkait nilai-nilai moral universal kemanusiaan. Pun Tuhan seolah-olah sedang berbicara secara inklusif kepada semua kelompok manusia, pada sepanjang zaman dan semua bentang geografis. Salah satu firman Tuhan mengenai itu misalnya pada ayat ke 13, QS. Al Hujurat [49];

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Penyebutan manusia dengan kata An-Nas seperti ayat di atas, juga menunjukkan hakikat manusia selaku makhluk sosial yang hidup saling berdampingan dan saling membutuhkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia memiliki tugas untuk membangun suatu peradaban yang bercirikan kemanusiaan dan kesetaraan.

Persatuan di antara manusia merupakan sesuatu yang wajib untuk memastikan pertumbuhan peradaban. Berbeda halnya ketika manusia masih hidup terpisah tanpa mengetahui hakikat bahwa satu sama lain adalah sama. Ketika itu konflik hingga perang, menjadi hal yang lumrah. Akibatnya, peradaban manusia tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Sedangkan hari ini, dapat diamati suatu kemajuan yang signifikan karena kolaborasi apik dari manusia tanpa melihat suku, agama dan latarbelakang apapun. Demikian itu akan lebih indah dan sesuai dengan kehendak Tuhan kala manusia bisa menciptakan suatu dunia tanpa perang, tanpa tumpah darah.

Baca Juga  Kritik: Manusia sebagai Makhluk Multidimensi

Menyusun Kepingan Diri Manusia

Setelah menguraikan makna tiap-tiap kata di atas, pastinya akan muncul pertanyaan berikut: bagaimana memahami manusia secara utuh? Setidaknya dapat ditangkap tiga pesan penting dari setiap nama yang berjalin berkelindan dan mendefinisikan manusia secara holistik.

Pertama, manusia adalah makhluk yang memiliki unsur material dan juga mendapat rizki dari Tuhan dalam dunia yang bersifat material. Mereka harus memahami bahwa dengan begitu merupakan tugas mereka untuk melestarikan keseimbangan alam semesta dan menciptakan perubahan atau kemajuan yang bersifat material pula.

Kedua, manusia memiliki potensi kognitif yang luar biasa. Di sini menjadi timbul urgensi untuk melaksanakan atau menciptakan pendidikan publik berkualitas sebagai usaha mengasah potensi kognitif itu hingga kepada titik optimal. Harapannya sudah tentu agar manusia dapat lebih efektif menjalankan tugas kekhalifahan di muka bumi.

Ketiga, manusia adalah makhluk sosial-kolektif. Ini yang sering terlewatkan, adanya dualitas hakikat penciptaan mereka sebagai mahluk kolektif dan misi spiritual untuk bekerja berdampingan selaku saudara dalam kemanusiaan. Manusia sering mengabaikan ini karena merasa bahwa pesan Tuhan hanya ditujukan secara khusus kepada satu atau dua golongan dari mereka.

Sebenarnya ketiga hal itu telah menjadi teladan para nabi dan rasul. Mereka adalah manusia paripurna yang memanfaatkan keunggulan akal mereka untuk menciptakan transformasi sosial. Suatu transformasi yang dilakukan secara demokratis melalui persatuan manusia dalam visi membangun kehidupan berkeadaban.

Editor: Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
18 posts

About author
Dosen Fakultas Psikologi UMM dan Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
Articles
Related posts
Tafsir

Ternyata Makna Lafaz Azar Pada QS. Al-An’am: 74 Bukan Bapak Nabi Ibrahim!

4 Mins read
Pembahasan mengenai apakah bapak dari Nabi Ibrahim adalah seorang musyrik sudah menjadi pembahasan panjang sampai saat ini. Para ulama Al-Qur’an mencoba mencari…
Tafsir

Bagaimana Jika Teori Logosentrisme Diterapkan dalam Al-Qur’an?

5 Mins read
Logosentrisme adalah istilah yang diciptakan oleh filosof Jerman Ludwig Klages pada tahun 1920-an. Hal ini mengacu pada tradisi ilmu pengetahuan barat dan…
Tafsir

Orang yang Boros (Tabzir) itu Sedang Mengamalkan Tradisi Jahiliyah

4 Mins read
Pada realitas zaman sekarang, masyarakat dalam berbelanja tidak lagi bemotivasi untuk memenuhi kebutuhan asasiah yang diperlukan, melainkan untuk memperoleh identitas. Hal ini…

Tinggalkan Balasan