Kepergian sosok ilmuwan, filolog, ulama, Prof. Siti Chamamah Soeratno sepekan yang lalu meninggalkan duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga besar Universitas Gadjah Mada dan warga Muhammadiyah, tetapi juga bagi para murid yang pernah belajar langsung kepada beliau. Bagi banyak orang, beliau dikenang sebagai akademisi, pakar sastra, dan guru besar yang melahirkan banyak ilmuwan. Namun bagi kami, beliau lebih dari itu. Beliau adalah seorang ibu sekaligus guru yang dengan sabar membentuk epistimologis kami sejak dini, menampakkan semangat cinta keilmuwan, dan menanamkan kepada kami way of life, bekal dalam memandang kehidupan. Sosok yang tegas dan disiplin ini berulang-ulang kali dalam bangku perkuliahan dengan lantang menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai hal dengan diksi yang sederhana namun membekas selamanya dalam benak kami.
Pertemuan pertama saya dengan Bu Cham (panggilan akrab kami kepada beliau) terjadi di ruang-ruang kuliah Kajian Timur Tengah UGM sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Kala itu, kami harus jujur pada diri kami masing-masing, kami merasa segan dengan beliau, karena beliau di mata kami adalah sosok yang tampak “besar”, bukan karena ketegasan tetapi wibawanya sebagai ilmuwan besar tampak dalam cara jalan, cara duduk, dan cara beliau menyampaikan ide-idenya. Kami sadar bahwa kami tampak ‘kerdil “ di hadapan ilmuwan yang mendedikasikan hidup sepenuhnya tidak hanya dalam dunia akademis tetapi juga organisasi Muhammadiyah.
Yang menarik, selama kuliah-kuliah sastra bersama beliau, konsep-konsep sastra yang rumit justru kerap kali nampak mudah dipahami ketika dijelaskan oleh beliau. Sebelum perkuliahan, beliau tampaknya benar-benar menyiapkan bahan dengan serius, karena kuliah tidak hanya disodori abstrak pemikiran yang kaku, tetapi juga buku-buku yang harus kami jadikan bahan lanjutan membaca, dengan diiringi penjelasan bagaimana teori itu menjadi aplikatif. Belakangan ketika kuliah nyaris penutupan, beliau menyampaikan penyesalannya karena baginya, buku-buku itu semestinya tidak disodorkan kepada mahasiswa, tetapi mahasiswa secara mandiri mencari buku-buku tersebut di perpustakaan. Disitulah kami belajar, ketulusan dan dedikasi seorang guru.
Tulisan ini saya buat untuk meminjam ungkapan Pramoedya Ananta Toer, “melawan lupa.“ Sebab ada banyak nasihat Bu Chamamah yang terus hidup dalam ingatan saya dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Perkataan bu Cham yang menjadi kenangan yang pertama adalah tentang kedisiplinan dalam belajar. Beliau pernah mengatakan, “Jangan menjadi orang yang terakhir. Datang terlambat, artinya “useless”, “humul khosirun” orang yang merugi. Meskipun itu tampaknya sebagai sebuah kelakar hingga kami semua di kelas nyaris tertawa terbahak-bahak, kalimat sederhana itu mendorong kami, bahwa untuk menjadi ilmuwan bukan hanya berkaitan dengan ketekunan dan rasionalitas, tetapi juga kedisiplinan dan datang awal merupakan bentuk “ikram” terhadap tidak hanya guru tetapi ilmu itu sendiri.
Kenangan selanjutnya adalah Bu Cham pernah menyampaikan sebuah sindiran yang sampai hari ini masih segar dalam ingatan saya. Menurut beliau, seorang ilmuwan semestinya lebih tertarik untuk membeli buku daripada deretan potongan harga di pusat perbelanjaan. Beliau pernah menyampaikan cerita bahwa ketika berkesempatan mengunjungi berbagai negara, yang dicarinya bukanlah barang-barang branded, melainkan buku-buku ilmiah. Buku-buku itu kemudian dibawa pulang agar dapat dibaca oleh mahasiswa di perpustakaan. Dari sini, kami belajar bahwa beliau sosok perempuan yang benar-benar gandrung akan keilmuwan.
Yang menjadi catatan mengagumkan, Bu Cham nyaris tidak pernah membanggakan pencapaiannya. Padahal beliau telah mengunjungi lebih dari tiga puluh negara. Beliau hanya bercerita, bahwa seabgai seorang “PNS”, mustahil baginya untuk mengelilingi dunia, ia tegaskan bahwa kendaraannya adalah ilmu. Pernah pula beliau menceritakan episode perjuangan beliau ketika melanjutkan studi di Prancis. Beliau pernah bercerita bahwa ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar untuk memperoleh pendidikan tinggi. Saat itu beliau harus meninggalkan putrinya yang masih kecil. Karena keterbatasan teknologi komunikasi pada masa itu, ketika kembali ke Indonesia, sang putri bahkan sempat tidak mengenali wajah ibunya. Intensi beliau dalam menyampaikan hal itu tentu bukan meraih simpati kami, tetapi merupakan pengingat kepada kami semua, bahwa keinginan yang besar selalu diiringi dengan pengorbanan yang besar pula.
Di sela-sela kuliah, Bu Cham hampir tidak pernah lupa menyelipkan kalimat yang sangat populer di kalangan kami dan menjadi semacam jargon: man jadda wajada. Yakni bagi beliau, tidak ada sesuatu yang mustahil selama seseorang bersungguh-sungguh memperjuangkannya. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi diucapkan berulang-ulang oleh seseorang yang telah membuktikannya sepanjang hidup. Ada satu pengalaman pribadi yang hingga kini masih membekas. Saat proses bimbingan tesis, saya beberapa kali mengirimkan pesan kepada beliau pada malam hari. Di luar dugaan, beliau hampir selalu membalas dengan cepat, meskipun waktu sudah larut. Saat itu usia beliau tidak lagi muda. Dari sikap sederhana itu saya belajar bahwa dedikasinya sebagai guru memang luar biasa.
Hal lain yang saya kagumi adalah cara beliau menjelaskan persoalan gender. Beliau tidak pernah memulai dengan teori-teori feminisme yang rumit. Sebaliknya, beliau mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: “ketika suami dan istri bangun tidur, siapa yang merapikan selimut atau tempat tidur?” Jawaban beliau juga sederhana: ini bukan soal tugas suami maupun istri, tetapi ini adalah tugas siapa yang sedang memiliki kesempatan melakukannya. Dari contoh kecil itulah kami memahami pemikiran beliau tentang konsep kesetaraan bahkan dalam tugas-tugas domestic rumah tangga.
Ada banyak kenangan, nasehat yang masih membekas dalam hati, ini hanyalah sekelumit saja yang bisa saya tulis, karena saya yakin samudra keilmuwan beliau masih sangat luas. Kini Bu Cham telah berpulang. Namun sosoknya tidak pernah redup di hati kami, para mahasiswanya. Ia tetap hidup dalam sanubari kami melalui teladan, integritas keilmuwan, dan ilmu-ilmu yang diwariskan kepada kami.


