back to top
Senin, Agustus 10, 2026

Ketakutan Berpendapat dan Pendidikan yang Membelenggu

Lihat Lainnya

Banyak di antara kita dibesarkan dalam sebuah sistem pendidikan yang mengikuti satu jenis metode. Guru memberikan penjelasan, siswa mencatat, dan kemudian ujian datang di mana yang perlu dilakukan hanyalah mengulang apa yang sudah dihafal. Pola ini berlangsung bertahun-tahun, dimulai dari sekolah dasar hingga universitas, hingga banyak orang menjadi ahli dalam menjawab soal-soal pilihan ganda. Namun tiba-tiba terdiam ketika dosen mengajukan pertanyaan, “apa pendapatmu?”

Ketika Sekolah Lebih Menghargai Jawaban daripada Proses Berpikir

Keadaan ini bukan suatu kebetulan, dan jelas bukan hanya kesalahan individu. Paulo Freire, seorang pemikir dan pendidik asal Brasil, menganalisis pola ini dengan cermat dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed (1970). Freire menyebut sistem pendidikan seperti ini sebagai konsep pendidikan bank. Dalam framework ini, siswa dianggap sebagai rekening tanpa isi yang terus-menerus perlu diisi oleh guru. Siswa dipandang sebagai entitas pasif yang hanya berfungsi untuk menerima, menyimpan, dan kemudian mengeluarkan apa yang sudah ditransfer.

Freire menerangkan bahwa dalam sistem semacam ini, semakin banyak informasi yang diisi ke dalam diri siswa. Semakin dianggap sukses proses pendidikan itu. Namun, metode seperti ini sebenarnya berisiko mengekang kemampuan berpikir kritis. Siswa tidak pernah diajak untuk mempertanyakan, menghubungkan, atau membentuk pemahamannya sendiri tentang suatu isu. Yang terjadi hanyalah pergerakan informasi satu arah, dari mereka yang dianggap berpengetahuan kepada mereka yang dianggap kurang berpengetahuan.

Kritik Freire ini sangat relevan ketika kita melihat kondisi pendidikan di Indonesia. Selama beberapa dekade, sistem penilaian pembelajaran di berbagai tingkatan pendidikan masih mengandalkan ujian dengan jawaban tunggal yang dinyatakan benar. Sedangkan kesempatan untuk mengargumentasikan pendapat terbatas. Ujian yang mengharuskan jawaban persis seperti yang tertera di buku, tugas menghafal rumus tanpa memahami asal-usulnya, dan budaya “yang penting jawabannya benar” tanpa mempertanyakan proses berpikir. Semua ini menciptakan kebiasaan yang lebih mendahulukan ketaatan pada jawaban standar daripada keberanian untuk berpikir secara berbeda.

Baca Juga:  Dukung Pendidikan, Lazismu dan PermataBank Syariah Berikan Santunan Guru Honorer

Pendidikan sebagai Ruang untuk Bertanya dan Berpikir

Data juga menunjukkan hasil yang serupa. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa mayoritas siswa Indonesia berusia 15 tahun masih berada di bawah tingkat kompetensi minimum. Dengan proporsi yang cukup signifikan pada kemampuan matematika, membaca, dan sains. Hasil ini menunjukkan bahwa banyak siswa di Indonesia belum terbiasa menganalisis informasi secara mendalam.

Apalagi menyusun argumen berdasarkan apa yang mereka pelajari. Meskipun Kementerian Pendidikan melaporkan adanya peningkatan peringkat dibanding survei sebelumnya. Pencapaian tersebut lebih mencerminkan ketahanan sistem pendidikan di tengah dampak pandemi. Bukan tanda bahwa metode pendidikan yang ditentang Freire telah benar-benar berubah.

Dampak dari hal ini baru terasa belakangan ini, terutama saat seseorang memasuki lingkungan yang menuntut opini pribadi. Seperti diskusi kelompok, forum akademis, dunia kerja, bahkan sekadar debat mengenai isu sosial di media sosial. Banyak orang tiba-tiba merasakan kurangnya percaya diri untuk menyampaikan pendapat. Takut membuat kesalahan, atau bahkan mengalami kesulitan dalam menentukan pendirian mereka terhadap suatu masalah. Bukan karena tidak memiliki kemampuan berpikir, melainkan karena selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar dilatih untuk melakukannya secara mandiri.

Sebagai solusi, Freire memperkenalkan gagasan yang ia sebut pendidikan berbasis masalah atau problem-posing education. Pendekatan ini tidak menjadikan siswa sebagai tempat yang hampa. Melainkan mendorong siswa dan guru untuk duduk setara, sama-sama mengajukan pertanyaan tentang kenyataan yang mereka hadapi. Guru tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Tetapi sebagai mitra yang mendukung siswa untuk menemukan pemahaman mereka sendiri melalui proses yang oleh Freire disebut conscientização. Yang artinya kesadaran kritis terhadap dunia yang dijalani sehari-hari.

Baca Juga:  Humanisme Religius: Paradigma Masa Depan Pendidikan Islam

Merdeka Belajar, Merdeka Berpikir

Meskipun konsep ini tampak sederhana, dampaknya cukup signifikan bagi perkembangan pendidikan di masa depan. Siswa yang terbiasa untuk mempertanyakan, dan tidak hanya menghafal. Akan lebih siap menghadapi masalah yang tidak akan mereka temukan dalam buku pelajaran manapun. Karena kehidupan sehari-hari jarang memberikan pilihan jawaban yang jelas seperti A, B, C, D, atau E. Keterampilan ini juga semakin penting di tengah arus informasi digital yang deras. Di mana individu tidak hanya dituntut untuk mengetahui banyak hal. Tetapi juga mampu memilah, mengevaluasi, dan bersikap terhadap informasi dengan cara yang mandiri.

Ini tidak berarti sistem pendidikan yang ada saat ini sepenuhnya salah. Menghafal masih memiliki perannya, terutama untuk hal-hal dasar yang memang harus diingat sebagai pondasi pengetahuan. Namun, jika seluruh proses belajar hanya terfokus pada penghafalan, tanpa ada ajakan untuk bertanya, mengkritik, atau menghubungkan dengan realitas. Di situlah pendidikan berisiko kehilangan salah satu tujuan terpentingnya, yaitu membentuk individu yang berani berpikir secara independen. Bukan hanya orang yang pandai mengingat.

Sebagian usaha untuk melakukan perbaikan sebenarnya telah mulai dilakukan. Contohnya melalui Kurikulum Merdeka yang secara jelas mendorong pembelajaran berbasis proyek dan penguatan karakter pelajar Pancasila. Termasuk kemampuan berpikir kritis. Namun, perubahan pada kurikulum yang hanya tertulis tidak serta-merta mengubah pola belajar yang telah mengakar selama bertahun-tahun.

Baca Juga:  Rohmah, Mimpi Masa Depan Anak yang Lebih Beradab

Para pengajar yang terbiasa dengan metode satu arah. Ruang kelas yang dipenuhi banyak siswa, serta tekanan untuk mencapai nilai ujian standar. Semua itu menjadi tantangan tersendiri untuk mewujudkan semangat pendidikan problem-posing yang dicetuskan oleh Freire, bukan hanya terhenti pada dokumen kebijakan.

Masalah ini pada akhirnya bukan hanya soal teknik pengajaran di kelas. Tetapi juga berhubungan dengan tipe individu seperti apa yang ingin dibentuk oleh sistem pendidikan. Freire mengingatkan kita bahwa pendidikan sejatinya bukan alat untuk menundukkan pemikiran agar patuh. Melainkan sarana untuk membebaskan pikiran manusia dari ketergantungan kepada pihak lain. Jadi, jika suatu saat kita masih merasakan ketegangan ketika diminta untuk menyampaikan pendapat pribadi. Barangkali itu bukan menunjukkan kurangnya kecerdasan. Melainkan menunjukkan bahwa selama ini kita lebih sering diminta untuk mengisi jawaban ketimbang untuk mengajukan pertanyaan.

Editor: Anas

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru