Menggagas Perpustakaan Pertanian

 Menggagas Perpustakaan Pertanian

Oleh: Nu’man Iskandar

Dewasa ini, kita masih akan dapat dengan mudah menjumpai petani, dengan pola dan cara bertani yang dilakukannya sama seperti pola dan cara yang dilakukannya tiga atau empat dekade yang lalu. Memang ada perubahan, tapi perubahannya tidaklah signifikan.

Pola Bertani

Modernisasi pola dan cara bertani memang terjadi, tapi hanya menyentuh wilayah peri-peri, cuma menjangkau pada ruang lingkup yang sangat terbatas. Utamanya lahir dari inisiatif pribadi yang mamang tertarik dan memiliki pengetahuan dan modal yang cukup untuk merubah pola dan cara bertani sehingga kemajuan pertanian bukan lahir dari sebuah gerakan bersama.

Pada sisi yang lain, hasil riset dan pelbagai penemuan terbaru teknologi pertanian demikian berkembang sangat pesat, baik dilakukan oleh lembaga/badan pemerintah, swasta maupun perguruan tinggi. Demikian juga penyebaran informasinya, terutama ditunjang oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang hampir tidak terbatas. Apa yang terjadi dibelahan dunia lain, akan mudah tersampai pada masyarakat kita dengan cepat.

Namun, mengapa masih ada gap antara pelbagai kemajuan pertanian tersebut dengan pola dan cara bertani yang dijalankan petani saat ini? Sehingga, pola dan cara bertani kita sering disebut tertinggal, dan kuno. Perkembangan pertanian kita seolah tidak tersentuh teknologi sama sekali. Bahasa gaulnya, “pola dan cara menanam padi petani kita, dari dulu ya begitu-begitu saja. Hasilnya, ya begitu-begitu saja. Pasca panen, ya begitu-begitu saja. Dari dulu ya begitu-itu”.

Perlu Terobosan Khusus

Jika demikian, tentu saja ada yang salah. Jujur, meski ada banyak faktor, tapi faktor utama adalah minimnya keberpihakan stakeholder otoritas kekuasaan terkait pertanian. Petani lebih banyak dijadikan komoditas politik, yang keberpihakannya sendiri masih sangat rendah. Kebanyakan, mereka membicarakan petani dan pengembangan pertanian dalam perspektif mereka, bukan dalam perspektif petani itu sendiri. Inilah yang menjadikan gap menganga begitu lebar.

Baca Juga  Saya Malu Menjadi Peneliti LIPI!

Untuk menjembatani masalah ini, perlu ada terobosan khusus. Salah satunya tentang perpustakaan khusus pertanian. Kebanyakan, perpustakaan-perpusakaan di daerah adalah perpustakaan yang bersifat umum. Untuk mempercepat transformasi di bidang pertanian, musti dibuat perpustakaan yang khusus membahas pertanian.

Bahkan bisa dibuat lebih spesifik lagi. Misal, di Kabupaten Kediri memiliki kekayaan alam mangga kepodang, maka bisa dibuat perpustakaan khusus mangga kepodang. Di daerah lain, jika unggulannya adalah sawit atau karet, bisa dibuat khusus perpustakaan sawit atau karet. Jagung, padi, kedelai atau komoditas pertanian lain, bisa dibuat khusus perpustakaannya.

Pintu Transformasi

Perpustakaan ini juga bisa menjadi jembatan berbagai pihak, sebagai pintu untuk melakukan transformasi pertanian. Tidak hanya buku, tetapi juga dalam bentuk audio visual. Namun demikian, desain perpustakaan juga haruslah didesain sedemikian rupa sehingga petani merasa nyaman belajar ditempat tersebut. Harus didesain secara nyaman, agar petani yang datang, serasa sebagaimana petani menggarap sawah dan ladangnya.

Jika ingin pertanian kita maju, maka peningkatkan kapasitas petani adalah keniscayaan. Dan perpustakaan pertanian adalah pintu transformasi…

*) Ketua Brutal

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *