Menyoal Kemuhammadiyahan UAH - IBTimes.ID
Perspektif

Menyoal Kemuhammadiyahan UAH

2 Mins read

Oleh: Noor Chozin Agham*

Ketika mendengar nama Ustaz Adi Hidayat yang dikenal dengan inisial UAH sebagai kader Muhammadiyah, alumni Pesantren Darul Arqam Garut, yang juga pernah memberi (jadi narasumber) pengajian di PP Muhammadiyah Jakarta, saya dan mungkin semua warga Muhammadiyah merasa senang dan bangga. Mungkin, baru pada kepemimpinan era Prof. Haedar muncul da’i Muhammadiyah sekaligus da’i medsos yang sangat dikenal.

Selama ini, mubaligh atau da’i Muhammadiyah hanya dikenal sebagai da’i atau mubaligh kandang, hanya beredar dari dan ke daerah intern Muhammadiyah. Tokoh-tokoh seperti Buya Hamka dan Pak AR, mulanya juga begitu, dari dan ke cabang atau daerah intern Muhammadiyah. UAH ternyata beda, saya sendiri mendengar keberadaan beliau, dari medsos, yang memang luar biasa ketika membahas nasab KH Ahmad Dahlan yang ternyata masih ada keturunan dari Nabi Muhammad Saw.

Kemuhammadiyahan UAH

Ketika persoalan lama, yaitu soal Salafi dan Wahabi muncul lagi ke permukaan, hingga banyak pengamat interen Muhammadiyah menolak jika Muhammadiyah dikaitkan atau dimasukkan sebagai golongan salafiyah apalagi wahabiyah, ternyata bersamaan dengan itu muncul pula video ceramah UAH soal salaf, salafi, dan salafiyah ini. Mengejutkan sekali, dalam ceramah UAH terselip kalimat, mustahil ada ulama yang bukan salafi di negeri ini.

Artinya, dalam pandangan UAH, para Ulama Muhammadiyah pun, termasuk dirinya adalah salafi. Ini karena, pengertian Salafi yang dikemukakan UAH, sama dengan banyak pengertian yang beredar, yaitu sebagai ulama salafus shalih, ulama salaf yang shalih, yang secara nasab keulamaannya dimulai dari para sahabat, kemudian tabi’in, tabiuttabi’in dan seterusnya, yang dengan begitu dipahami bahwa tidak ada seorang Ulama pun yang dalam mendapatkan ilmunya tidak melalui (wasilah) para Ulama salaf itu tadi. “Mustahil, dan tidak mungkin”, begitu penegasan UAH.

Masih menurut UAH, bahwa Salaf-Salafi-Salafiyah itu bukan aliran (mazhab), dan bukan pula organisasi. Dengan kata lain, tidak ada mazhab salafi, dan tidak ada organisasi salafi. Sampai di sini, saya bersimpulan, UAH itu ternyata termasuk kategori MuSa atau MurSal, yang kemuhammadiyahannya masih patut untuk dipertanyakan tetapi juga tidak patut dijawab selain MuSa dan atau MurSal itu tadi. Musa, Muhammadiyah Salafi. MurSal, Muhammadiyah rasa Salafi.

Baca Juga  Rumah Sakit Ternyata Bisa "Sakit"

Keduanya, bukan termasuk Muhammadiyah yang sesungguhnya. Karena, Muhammadiyah yang sesungguhnya, jelas, bukan salafi, dan bukan pula wahabi. Ilmu para ulama Muhammadiyah, benar, banyak yang diperoleh dari para ulama salafi tadi. Tetapi tidak berarti ulama Muhammadiyah tersebut mengikuti gurunya. Ulama Muhammadiyah, bisa belajar pada ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah atau Hanbaliyah, tetapi tidak lantas jadi pengikut para ulama mazhab tersebut.

*) Penulis buku “Teologi Muhammadiyah dan Penyelewengannya” dan Buku “Islam Berkemajuan Gaya Muhammadiyah”. Dosen UMT dan UHAMKA.

Editor: Nabhan

Avatar
6 posts

About author
Noor Chozin Agham, dosen UHAMKA dan UMT Indonesia, Penulis Buku : ISLAM BERKEMAJUAN gaya MUHAMMADIYAH - Telaah terhadap Akidah, Akhlak, Ibadah, dan Mu'amalah Duniawiyah - UHAMKA Press, 2015
Articles
Related posts
Perspektif

Kesamaan Gagasan Merebut Tafsir Lies Marcoes dengan Putusan Tarjih Muhammadiyah

5 Mins read
Lies Marcoes Merebut Tafsir Lies Marcoes – Lies Marcoes adalah salah satu nama yang wajib diketahui bagi peneliti atau minimal orang yang…
Perspektif

Idulfitri Tak Harus Mudik

3 Mins read
Idulfitri Tak Harus Mudik Apakah saat Idulfitri kita harus mudik, beli baju baru, dan makan enak? Tentu saja saat Idulfitri kita tak…
Perspektif

Baju Baru di Hari Raya, Seremonial atau Cermin Spiritual?

3 Mins read
Baju Baru Hari Raya – Syawal 1442 Hijriyah telah datang, masih dengan suasana pandemi dan terbatas untuk silaturahmi. Kita sering mengalami, segala…

Tinggalkan Balasan