Mirza Ghulam Ahmad Mengaku Nabi, Dihujat dan Dikagumi
Inspiring

Mirza Ghulam Ahmad Mengaku Nabi, Dihujat dan Dikagumi

3 Mins read

Mirza Ghulam Ahmad memiliki jutaan pengikut. Di berbagai penjuru dunia. Termasuk di Sintang, Kalimantan Barat. Yang beberapa bulan lalu masjidnya dibakar.

Padahal, slogan pengikutnya adalah love for all, hatred for none. Tapi mereka malah menjadi korban dari kebencian. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain.

Di Indonesia, angka pelanggaran terhadap Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) memang tinggi. Ada hampir 3000 pelanggaran sejak tahun 2007 hingga tahun 2020. 570 di antaranya ditujukan ke pengikut Ghulam, Ahmadiyah.

Mayoritas pelanggaran KBB itu terjadi di Jawa Barat. Angkanya lebih dari 50%. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari larangan ibadah, pembangunan rumah ibadah, pengurusan KTP, pemberangkatan haji, dan pengurusan surat nikah.

Diskriminasi itu muncul terutama pasca runtuhnya orde baru. Ketika kebebasan berekspresi atas nama demokrasi dibuka. Ternyata, kebebasan berekspresi itu hanya bagi kelompok tertentu saja. Tidak ada reformasi bagi pengikut Ghulam.

Sejak awal kemunculannya, Ghulam memang kontroversial. Ia lahir di Qadian pada tahun 13 Februari 1835. Di timur laut Amritsar. Tak jauh dari Punjab. Pengikutnya menganggap kalau Mirza merupakan Masih Mau’ud (Isa yang dijanjikan).

Banyak yang membencinya. Namun, ia tetap memiliki jutaan pengikut. Di 210 negara. Ia banyak mendorong perdamaian dan kerukunan antar agama. Mungkin lantaran ia kerap diserang oleh umat Islam. Umat yang seharusnya masih seagama dengannya. Banyak orang Islam yang menganggap bahwa Ghulam telah murtad.

Ia merupakan keturunan Mirza Hadi Beg, seorang bangsawan Kesultanan Mughal. Praktis, ia lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Mirza Ghulam Murtaza. Seorang dokter di Punjab. Sejak kecil, Mirza Ghulam Ahmad belajar dengan begitu tekun. Ia bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid untuk beribadah dan belajar.

Baca Juga  Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

Ia belajar Bahasa Arab, Bahasa Persia, Bahasa Inggris, dan juga kedokteran.

Ketika berusia 30 tahun, ia mengaku menerima wahyu dari Tuhan. Dari sinilah persoalan dimulai. Padahal, sebelumnya, ia begitu disenangi oleh banyak masyarakat India saat itu. Ia rajin berdebat tentang agama dengan orang-orang beragama lain. Terutama Kristen dan Hindu.

Saat itu, orang yang berhasil membela Islam dengan baik begitu disenangi oleh masyarakat. Seperti Zakir Naik hari ini. Tak butuh waktu lama, Mirza Ghulam Ahmad naik pamor. Berbagai perdebatannya disaksikan oleh banyak orang. Ia menjadi idola. Ia juga menulis di berbagai media massa.

Tak hanya mengidolakan, pengikut-pengikutnya juga memberikan banyak hal. Ia diberi banyak fasilitas.

Begitu mengaku menerima wahyu, ia banyak mendapatkan tentangan. Pengikutnya berbalik menghujat. Mirza Ghulam Ahmad juga menceritakan beberapa karomah yang ia alami. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai wali.

Salah satu sumber menyebut bahwa ia mengumumkan akan menerbitkan lima puluh jilid buku yang berisi perlawanan terhadap Kristen dan Hindu. Proyek tersebut disambut secara antusias oleh pengikutnya. Para pengikutnya kemudian memberikan berbagai sumbangan kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Sayangnya, proyek itu tak sesuai janji di awal. Buku pertama yang ia terbitkan berjudul Barahin Ahmadiyah. Terbit pada tahun 1880. Buku ini menceritakan tentang alam ghaib dan karomah penulisnya.

Buku kedua juga berisi hal yang sama. Berisi tentang karomah Mirza Ghulam Ahmad. Ditambah sanjungan dan pujian terhadap Inggris. Yang saat itu menjajah India. Bukan perlawanan terhadap Kristen dan Hindu seperti yang dijanjikan.

Pada tahun 1888, setelah mengaku mendapatkan wahyu, ia mengambil baiat dari pengikutnya. Baiat adalah sumpah setia. Baiat dilakukan di Kota Ludhiana. Diikuti oleh 40 orang. Peristiwa itu menandai lahirnya Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Baca Juga  Memasak Tugas Siapa: Istri, Suami, atau Koki?

Pada tahun 1891, ketika berusia 56 tahun, ia mengaku bahwa dirinya merupakan Imam Mahdi. Tak lama kemudian, ia kembali mengaku sebagai Al-Masih. Sepuluh tahun kemudian, ia mengaku sebagai nabi.

Ulama-ulama India pun berang. Mereka marah dengan klaim berbahaya itu. Dua ratus ulama India kemudian memvonis bahwa Ghulam Ahmad adalah seorang penipu. Ulama-ulama dari negara lain pun bersikap. Termasuk dari Arab Saudi.

Meskipun memiliki banyak penolakan, banyak pula pengikutnya yang tetap setia. Banyak yang tetap[ mengaguminya. Ahmadiyah terus mengalami perkembangan. Hingga merambah ke dunia internasional.

Dilansir dari laman resmi Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Ahmadiyah adalah gerakan kebangkitan dalam Islam yang menekankan ajaran pokok perdamaian, cinta, keadilan, dan kesucian hidup. Jamaah Ahmadiyah percaya bahwa Tuhan mengutus Mirza Ghulam Ahmad untuk mengakhiri peperangan agama, pertumpahan darah, dan menegakkan kembali akhlak, keadilan, dan perdamaian.

Hingga kini, Ahmadiyah telah memiliki 16 ribu masjid, 600 sekolah, dan 30 rumah sakit di seluruh dunia. Lajnah Imaillah Indonesia menjadi organisasi pendonor mata terbesar di Indonesia. Lajnah Imaillah Indonesia adalah organisasi saya Jamaah Ahmadiyah Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email
66 posts

About author
Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Articles
Related posts
Inspiring

Taqiyuddin An Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir, Penjual Ide Khilafah

3 Mins read
Namanya Taqiyuddin An Nabhani. Ia adalah salah satu tokoh Islam politik terbesar pasca runtuhnya Turki Utsmani. Ia mendirikan partai bernama Hizbut Tahrir….
Inspiring

Harun Yahya, Ilmuwan Penggila Wanita yang Dipenjara Seribu Tahun

3 Mins read
Siang itu, kami sekelas terpukau dengan sebuah video animasi tentang sel. Gerakan sel-sel di dalam tubuh digambarkan dengan apik. Seperti melihat kartun…
Inspiring

Peristirahatan Terakhir Sang Anak Baik, Emmeril Kahn Mumtadz

2 Mins read
Selama beberapa minggu terakhir, jagad dunia maya dipenuhi berita tentang Emmeril Kahn Mumtadz, yang akrab disapa Eril. Eril adalah putra sulung dari…

Tinggalkan Balasan