Muhammad Abduh (8): Sang Mujaddid dan Karya-karya Monumentalnya - IBTimes.ID
Tarikh

Muhammad Abduh (8): Sang Mujaddid dan Karya-karya Monumentalnya

4 Mins read

Oleh: Djarnawi Hadikusuma

Menurut Muhammad Abduh, setiap ajaran agama dalam perjalanan masa tentu dikaburkan oleh pengaruh dan tambahan yang melekat kepadanya. Terutama ajaran yang mengenai i’tiqad dan ibadah, seperti apa yang terjadi kepada kebudayaan manusia yang selalu berkembang. Dengan hal yang demikian itu, maka ajaran yang asli semakin lama semakin tertutup oleh ajaran dan praktek ibadah tambahan itu.

Adanya kitab suci adalah menjadi pedoman atau pegangan untuk menilai dan membedakan ajaran asli dari yang tambahan. Selain itu kitab suci juga berfungsi untuk menilai apakah yang tambahan itu hanya merupakan pengembangan yang dianggap perlu berhubung perkembangan kondisi dan tidak keluar dari batas ajaran asli, ataukah memang merupakan tambahan baru yang menyimpang. Adanya penelitian terus-menerus sangat diperlukan bagi kebersihan agama itu daripada anggapan dan praktek yang tidak benar. Apabila penelitian semacam itu tidak ada, maka ajaran agama akan makin menyimpang dari keaslian dan kebenaran sehingga esensinya bukan lagi agama, melainkan kebudayaan semata-mata.

Seorang Mujaddid ialah orang yang mengadakan koreksi dan penelitian itu serta mengembalikan kepada ajaran yang asli. Setelah wafatnya seorang Mujaddid, penelitian yang telah dilakukan akan dilupakan orang pula selama perjalanan, maka diperlukan lagi datangnya Mujaddid lain yang melangsungkan penelitian Mujaddid sebelumnya.

Tiap berapa lama diperlukan adanya Mujaddid itu, tergantung kepada keadaan dan kondisi masyarakat di setiap tempat. Secara rata-rata agaknya memadailah setiap empat generasi memerlukan atau menjadi satu periode Mujaddid. Baiklah dikatakan bahwa empat generasi adalah satu abad. Dalam hal ini, pernah Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya Allah membangkitkan dalam umatku ini pada tiap pangkal seratus tahun, seorang yang membarui perkara agamanya.

Baca Juga  Al-Harits bin Kaldah: Dokter Non-Muslim di Masa Rasulullah

Dalam sabda Rasul tersebut tidak dikatakan akan datangnya Mujaddid tetapi ”orang yang akan membarui.” Dari sini kita dapat mengerti bahwa Rasul tidak menganggap adanya jabatan atau pangkat atau karunia Allah yang bernama Mujaddid. Tetapi kata-kata itu hanya diberikan oleh Rasyid Ridla untuk orang yang pekerjaannya membarui perkara agama. Sama halnya dengan nama Mu’allim bagi orang yang ”mengajarkan agama” atau nama ”Kiai” bagi orang yang mendalam ilmunya tentang agama.

Bahkan, Allah tidak pula memfirmankan kata-kata ”Mujaddid” dan tidak pula ”Yujaddidu.” Oleh sebab itu, tiap orang boleh menamakan seseorang Mujaddid jika ia memang menganggap bahwa orang itu melaksanakan pembaruan dan orang lain dapat mengingkarinya tanpa menerima akibat kufur. Dan setiap orang dapat pula mengaku Mujaddid jika memang merasa telah membarui perkara agama. Ringkasnya, dalam agama Islam memang terdapat orang yang dibangkitkan (bukan diutus) Allah menjadi orang yang membarui perkara agama (bukan dengan kata-kata Mujaddid) dan nama-namanya tidak ditentukan.

Berlainan dengan jabatan Nabi dan Rasul, namanya tersebut dalam Al-Qur’an, dan berakhir pada diri Muhammad Rasulullah. Maka kita wajib percaya kepada kenabian orang yang namanya tersebut itu dan kafirlah kita jika mengingkari, dan kafirlah pula apabila kita mengimankan orang yang mengaku nabi sesudah Muhammad SAW.

Rasyid Ridla menyebutkan beberapa nama ulama dan pemimpin yang dalam sejarahnya oleh kebanyakan umat Islam telah digelari Mujaddid tiap abad menurut hitungan tahun Hijriyah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah Mujaddid abad ke-2, Imam Ahmad bin Hanbal abad ke-3, Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari abad ke-4, Imam Abul Hamid Al-Ghazali abad ke-5, Imam Abu Muhammad bin Hazm untuk abad ke-6, Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qayim, adalah keduanya Mujaddid abad ke-7 dan awal abad ke-8. Juga di negeri-negeri lain lahir pula Mujaddid seperti Abi Ishaq As-Syatibi, pengarang kitab Al-Muwafaqat dan Al-I’tisham, di Andalus. Di India lahir pula Mujaddid Waliyullah Ad-Dahlawi dan Sayid Muhammad Shiddiq Khan. Di Turki ialah Maula Muhammad dan seterusnya di Saudi Arabia Muhammad bin Abdul Wahab di Nejed, di Yaman As-Syaukani dan Ibnul Wasir.

Baca Juga  Muhammad Abduh (5): Pertemuan dengan Filosof Herbert Spencer di Inggris

Demikian jugalah kita pun tidak dihalangi untuk menganggap seseorang menjadi Mujaddid, seperti KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan terserah bagi kita dan mereka untuk menganggap lainnya juga. Perkara Mujaddid ini tidak termasuk rukun atau syarat Iman dan Islam. Dan kita pun tidak harus setuju terhadap penilaian Rasyid Ridla tersebut.

Muhammad Abduh seorang yang amat teliti. Apa yang diceramahkan selalu dengan persiapan yang lengkap. Maka tidaklah mengherankan apabila kebanyakan kuliah dan ceramah Muhammad Abduh itu dalam keadaan siap untuk dibukukan. Di bawah ini disebutkan kitab-kitab karangannya.

  1. Al-Waridat, kitab yang pertama dikarangnya ketika masih menjadi mahasiswa Al-Azhar, menerangkan Ilmu Tauhid menurut segi Tasawuf yang dijiwai oleh pokok pikiran Jamaluddin Al-Afghani.
  2. Wahdatul Wujud, menerangkan paham segolongan ahli Tasawuf tentang kesatuan antara Tuhan dan makhluk, yakni bahwa alam ini adalah pengejawantahan Tuhan.
  3. Syarh Nahjil Balaghah, memuat kesusasteraan bahasa Arab yang berisi Tauhid dan kebesaran agama Islam.
  4. Falsafatul Ijtima’i wat Tarikh, disusun ketika memberi kuliah sejarah di Darul Ulum. Menguraikan Falsafah Sejarah dan perkembangan masyarakat.
  5. Syarh Bashairin Nashiriyah, uraian ringkasan tentang Ilmu Manthiq (logika) yang telah dikuliahkan di Al-Azhar dan diakui sebagai kitab terbaik dalam ilmu itu.
  6. Risalah At-Tauhid, uraian tentang Tauhid yang mendapat sambutan terbaik dari kalangan ulama Muslim dan dari kalangan agama lain. Menterinya telah dikuliahkan di Beirut, menerangkan bagaimana hendaknya manusia dapat mengenal Keesaan Tuhan dengan dalil-dalil rasional. Kitab ini tidak hanya dibaca oleh kaum Muslimin tetapi juga oleh orang-orang terpelajar Masehi. Kitab ini telah ditetapkan menjadi bahan kuliah di Al-Azhar.
  7. Al-Islam wa An-Nashraniyah ma’a Al-Ilmi wa Al-Madaniyah, yaitu tangkisan Abduh terhadap serangan Menteri Luar Negeri Prancis, Hanoyoux. Menteri ini mendakwa bahwa ajaran Islam itu menghambat kemajuan. Dalam kitabnya ini, ia memperbandingkan tanggapan kedua agama itu terhadap kemajuan serta membuktikan bahwa ajaran Islam lebih memperhatikan serta mendorong ke arah kemajuan daripada agama Masehi.
  8. Tafsir Surat Al-Ashri, yaitu tafsir yang mula-mula dikuliahkan di Al-Azhar kemudian diceramahkan kepada kaum Muslimin dan mahasiswa di Al-Jazair.
  9. Tafsir Juz Amma, Tafsir Al-Qur’an juz ke-30 ini diajarkan oleh Abduh di Madrasah Al-Khairiyah, isinya menghilangkan segala macam takhayul dan syirik yang mungkin menghinggapi kaum Muslimin.
  10. Tafsir Muhammad Abduh, tafsir ini disusun oleh Rasyid Ridla dari kuliah yang diberikan Abduh di Al-Azhar dan baru sampai juz ke-10. Setelah Abduh wafat, penafsiran diteruskan oleh Rasyid Ridla hingga juz ke-12. Mula-mula dimuat berturut-turut dalam majalah Al-Mannar kemudian dibukukan dengan nama Tafsir Al-Mannar. Pengaruh tafsir ini sangat besar bagi kebangkitan umat Islam sedunia.
Baca Juga  Tragedi Pembakaran Buku: Ingatan-ingatan yang Dimusnahkan

Demikian Muhammad Abduh menghabiskan usianya untuk berjuang dan membina umat Islam dalam bidang perjuangan kemerdekaan, bidang mental, sosial, dan pendidikan. Peninggalan buku-bukunya begitu tinggi nilainya untuk menjadi dorongan dan pedoman bagi kemajuan dan kebangkitan umat Islam dalam segala aspek kehidupan individual dan masyarakat. (Bersambung)

Sumber: buku Aliran Pembaharuan dalam Islam dari Jamaluddin Al-Afghani Sampai KHA Dahlan karya Djarnawi Hadikusuma. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat penyuntingan

Editor: Arif 

Avatar
1013 posts

About author
IBTimes.ID - Cerdas Berislam. Media Islam Wasathiyah yang mencerahkan
Articles
Related posts
Tarikh

Sejarah Kepanduan Hizbul Wathan

5 Mins read
Sejarah Hizbul Wathan Gagasan persatuan umat manusia, kemerdekaan, Islam berkemajuan, pemberdayaan, dan egalitarianisme adalah pilar-pilar filosofi gerakan Muhammadiyah yang turut menopang pembentukan…
Tarikh

Boedi Oetomo dan Muhammadiyah: Pelopor Nasionalisme Indonesia

5 Mins read
Sejak pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO), kaum intelektual bumiputra mulai tergugah. Kesadaran “nasionalisme” mulai tumbuh sejak mereka berinteraksi dengan bangsa-bangsa yang lain,…
Tarikh

Empat Hikmah Perang Badar yang Perlu Kita Ketahui

3 Mins read
Hikmah Perang Badar Hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah merupakan titik awal Islam mulai berkembang, saat itu kabilah-kabilah di Arab mulai memperhitungkan keberadaan…

Tinggalkan Balasan