Muhammadiyah: Bumikan Islam, Sinari Zaman, Rahmati Alam

 Muhammadiyah: Bumikan Islam, Sinari Zaman, Rahmati Alam

ilustrasi: Eramadani

Bumikan Islam

Muhammadiyah lahir 107 tahun lalu di Kauman, Ahmad Dahlan membangun spirit memurnikan ajaran Islam yang dimana saat itu masih dipengaruhi hal-hal yang bersifat tahayul, bid’ah, dan khurafat.

Dari Kauman, sinar dakwah Muhammadiyah memancar keseluruh penjuru negeri, bahkan saat ini sudah merambah keberbagai negara. Lewat amal usaha yang biasa di sebut AUM (Amal Usaha Muhammadiyah), Muhammadiyah membumikan ajaran Islam dengan penerapan atau pengamalan dari ayat Al-Qur’an.

Jika dilihat dari historisnya, Muhammadiyah berdiri juga atas landasan dari surat Ali Imran ayat 104 yang artinya “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dari ayat itulah, KH. Ahmad Dahlan menggagas ide untuk membuat sekelompok golongan yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan misi gerakan dakwah Islam dengan pengamalan Al-Qur’an dalam bentuk nyata, yang bernama Muhammadiyah.

Jika mengingat sejarah, KH. Ahmad Dahlan pernah membuat murid-muridnya bertanya-tanya saat memberi pelajaran tafsir. Ketika menafsirkan surat Al-Ma’un, secara berulang-ulang tanpa diteruskan dengan surat-surat yang lain.

KH. Ahmad Dahlan sebenarnya sedang menguji kepekaan batin para muridnya dalam memahami Al-Quran, apakah sekadar untuk dibaca saja atau dengan pengamalan nyata.

Barulah para santri beliau baru memahami, bahwa Al-Quran tidak saja menyangkut dimensi kognitif, tetapi sekaligus sebagai pedoman bagi aksi sosial. Mulailah para murid itu mencari orang-orang miskin dan anak yatim di sekitar Yogyakarta untuk disantuni dan diperhatikan.

Amal Usaha Muhammadiyah

Maka, berdirinya panti-panti asuhan dan Rumah Sakit, PKU tahun 1923 adalah salah satu pengamalan dari surat Al Ma’un sebagai perwujudan dari aksi sosial yang nyata. Hingga di usianya yang ke 107 tahun ini, ada 457 Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP, dan lain-lain.

Ada 318 panti asuhan, santunan, asuhan keluarga, dan lainnya yang tersebar diseluruh Indonesia. (Sumber data: http://m.muhammadiyah.or.id/en/content-8-det-amal-usaha.html)

Wujud nyata Muhammadiyah dalam membumikan ajaran Islam bukan sampai disitu saja, melalui amal usaha yang dimiliki, Muhammadiyah juga mempunyai 54 panti jompo dan 82 tempat rehabilitasi disabilitas, serta 71 Sekolah Luar Biasa (SLB).

Dari berbagai AUM di bidang sosial inilah, Muhammadiyah meneruskan warisan KH. Ahmad Dahlan untuk mengamalkan surat Al Ma’un sehingga menjadi ciri khas organisasi yang kini dipimpin oleh Prof. Haedar Nashir tersebut.

Pendidikan juga merupakan tempat dakwah Muhammadiyah yang khas, di mana hampir di berbagai wilayah dan daerah, dakwah Muhammadiyah banyak bertempat di perguruan Muhammadiyah. Jika ditotal, jumlah AUM dalam bidang pendidikan sejumlah 10.381 dengan rincian 4.623 TK dan TPQ, 2.604 SD/I, 1.772 SMP/MTs, 1.143 SMA/MA/SMK, 67 Pondok Pesantren, dan 172 Perguruan Tinggi.

Jika ditambah dengan SLB yang jumlahnya 71 tersebut, maka total lembaga pendidikan Muhammadiyah berjumlah 10.452. Sungguh jumlah yang tidak sedikit dan sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan tanah air. Kualitasnya pun tidak diragukan, bahkan pendidikan Muhammadiyah kini sudah merambah ke luar negeri.

Bahkan banyak kader Muhammadiyah yang menjadi Pahlawan Nasional, salah satunya Jenderal Sudirman kader Hizbul Wathan yang menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama. Peran Muhammadiyah dalam bidang pendidikan merupakan perwujudan dari Amar ma’ruf nahi mungkar, dimana membangun pendidikan merupakan membangun peradaban manusia.

Gerak langkah Muhammadiyah dalam membumikan Islam bukan hanya melalui pendidikan dan sosial saja, masjid dan mushalla pun menjadi tempat dakwah Muhammadiyah terutama di akar rumput (ranting). Tercatat ada 6.118 masjid dan 5.080 mushalla milik Muhammadiyah, yang dimana kedua AUM tersebut menjadi tempat sentral dakwah.

Di dalam AUM, tak jarang kita menemukan perpustakaan, yang pastinya menjadi salah satu gerakan literasi dalam Muhammadiyah. Apalagi banyak sekali media baik cetak maupun daring (online) yang dimiliki atau dikembangkan oleh kader Muhammadiyah. (Sumber data: http://m.muhammadiyah.or.id/en/content-8-det-amal-usaha.html)

Muhammadiyah Sinari Zaman

Muhammadiyah mampu menjadi suluh peradaban dan kemanusiaan bagi negeri, banyak kader-kader yang lahir dan berkiprah untuk Indonesia diberbagai bidang. Seiring berkembangnya zaman, Muhammadiyah yang sedari awal telah memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.

Di antaranya merubah arah kiblat, mendirikan madrasah dengan memakai bangku, hingga sampai saat ini banyak gerakan Muhammadiyah, baik gerakan tajdid dan praktis yang sangat berdampak langsung di masyarakat.

Bidang keagamaan, pendidikan, dan kemasyarakatan/sosial menjadi hal yang akrab dengan kegiatan dakwah Muhammadiyah. Langkah modernisasi yang dipadukan dengan ajaran Islami membuat gerak langkah Muhammadiyah mudah diterima oleh masyarakat dari zaman ke zaman.

Sehingga Sang Surya Muhammadiyah mampu berkembang sesuai keadaan di masanya, tak terkecuali di era digital sekarang ini. Muhammadiyah pun hadir dengan dakwah digital pula, banyak kita jumpai dakwah Muhammadiyah media daring, video youtube, ataupun media sosial lainnya melalui gambar ilustrasi, ataupun artikel.

Tajdid Muhammadiyah kini mengarah pada model dan penerapan literasi digital, peresmian berbagai AUM juga banyak dilakukan melalui teknologi. Ini merupakan bukti bahwa Muhammadiyah selalu memancarkan sinarnya diberbagai zaman dan mengikuti perkembangannya pula. Muhammadiyah bukan hanya membangun insfraktruktur fisik, tapi juga spiritual dan psikologis.

Amal Usaha Muhammadiyah merupakan aset yang tak ternilai harganya, bukan ternilai secara materil, namun dari berbagai AUM itu lah lahir kader-kader, tokoh, serta ulama yang mampu memberikan pencerahan dan juga berkontribusi besar bagi bangsa ini.

***

Karena AUM bukan hanya menghidupi Muhammadiyah, namun juga menghidupkan dakwah Muhammadiyah, dan juga bangsa. Di bidang kesehatan, 457 AUM yang tersebar di Indonesia mampu membantu dan sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Kualitas dan integritas sistem managemen pengelolaanlah yang membuat AUM berhasil menjawab kegelisahan umat. Bidang ekonomi dan keuangan, juga turut serta mewarnai dakwah Muhammadiyah, semua kebanyakkan dikelola oleh akar rumput Muhammadiyah, yakni Ranting.

Ranting yang menjadi ujung tombak dakwah Muhammadiyah, mampu menjalankan tugasnya dengan pastinya berbagai tantangan. Semuanya kembali kepada niat awal, yakni melayani umat. Sesuai dengan pesan KH. Ahmad Dahlan “Tidak penting siapa kita, yang terpenting bagaimana kita terhadap umat,“.

Dari AUM-AUM tadi, banyak muncul gerakan-gerakan yang melayani dan bermanfaat terhadap masyarakat. Misalnya MDMC, Lazismu dan lainnya yang turut langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sesuatu yang dijalani dengan niat mengharap ridho Ilahi, pasti akan mendapatkan balasan yang baik.

Terbukti dari berbagai penghargaan yang diterima oleh berbagai AUM yang ada dan juga gerakan sosial lainnya seperti MDMC dan Lazismu. Namun, bagi Muhammadiyah pastinya penghargaan terbesar adalah kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan kualitas yang di miliki oleh Amal Usaha Muhammadiyah tersebut.

Rahmati Alam

Agama Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya yang memeluknya, namun juga yang tidak mengimaninya. “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia,” (QS. Al Anbiya: 107).

Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam, maka dengan demikian Islam pun menjadi rahmat bagi semesta. Semangat Muhammadiyah pula didasari demikian, di mana banyak sekali Amal Usaha Muhammadiyah yang menjadi tempat bagi mereka yang bukan anggota atau simpatisan Muhammadiyah, begitu pula yang beragama lain.

Gerakan dakwah Muhammadiyah melalui AUM banyak dirasakan manfaatnya oleh saudara kita yang non muslim. Kita bisa menengok di bagian timur Indonesia, bukan hanya di bidang pendidikan, tapi juga kesehatan, sosial dan AUM yang lain.

Tanpa perlu mengklaim paling toleransi, Muhammadiyah mewujudkan makna toleransinya dengan nyata. Membumikan dakwah Islam dengan toleransi, dilakukan Muhammadiyah melalui AUM yang dimiliki, khususnya di Indonesia timur.

Mayoritas mereka merupakan non muslim namun belajar di sekolah Muhammadiyah, bahkan ada Kampung Muhammadiyah di Warmon Kokoda, Papua Barat.

Melalui sejumlah amal usaha itulah Muhammadiyah menunjukkan karakter mengabdi dan memberi di seluruh penjuru negeri. Semua itu terjadi karena Muhammadiyah sejak awal berdiri terkenal dengan ajaran mengenai teologi ta’awun atau tolong-menolong (the theology of al-Ma’unism).

Teologi inilah yang mendorong warga Persyarikatan Muhammadiyah mempraktikkan ajaran agama Islam melalui amal sosial (a faith with action), kewelasasihan (filantropisme), voluntarisme, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan sedikit bicara banyak bekerja.

Muhammadiyah bak oase di tanah Cendrawasih, gerakan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan mudah diterima dan memberi manfaat banyak buat warga di tanah Papua melalui AUM.

Di tanah Cenderawasih, Muhammadiyah mempunyai Perguruan Tinggi, serta beberapa sekolah TK-SMA dan panti asuhan yang tersebar di wilayah Papua-Papua Barat. Praktik membumikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itulah, sehingga Muhammadiyah di usianya yang ke 107 tahun ini, masih tetap tiada henti menyinari negeri, mencerahkan semesta, dan memajukan Indonesia.

Editor: Yahya FR

Hendra Hari Wahyudi

Guru, jurnalis dan penikmat sepakbola asal Lamongan.

Related post

1 Comment

    Avatar
  • I just want to say I’m newbie to blogging and certainly liked this website. Almost certainly I’m want to bookmark your blog post . You absolutely come with impressive articles and reviews. Thanks for sharing your web page.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.