Muhammadiyah dan NU Jangan Terpecah Gara-Gara “Salafi”

 Muhammadiyah dan NU Jangan Terpecah Gara-Gara “Salafi” Gambar: kabarmuhammadiyah.com            

Tanggal 15 Januari 2019, di Auditoriun PP Muhammadiyah, kami mempresentasikan hasil penelitian tentang Peran Muhammadiyah dan NU dalam Menangkal Ekstremisme Kekerasan di Indonesia. Penelitian ini berangkat dari keyakinan bahwa masa depan Indonesia sebagian besar ditentukan bagaimana kehidupan keislaman di Indonesia saat ini dikelola.

Dari seluruh penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa di tahun 2019 (dan diperkirakan akan mencapai 269,6 juta jiwa di tahun 2020), 207,2 juta (87,2%) adalah Muslim. Mengingkari besarnya pemeluk agama Islam di Indonesia dalam seluruh kerangka kebijakan pembangunan berarti menutup mata atas faktor penting dalam mencapai kesuksesan pembangunan.

Hal ini tidak harus dipahami sebagai pengabaian atas hak-hak kelompok non-Muslim. Justru mempertimbangkan besarnya jumlah Muslim di Indonesia dalam proses pembangunan salah satunya adalah untuk memastikan bahwa pembangunan tidak jatuh pada proses penyingkiran, baik kepada kelompok mayoritas maupun minoritas.

Tidak mungkin membayangkan kesuksesan sebuah pembangunan jika kelompok-kelompok keagamaan tidak dikelola dengan baik. Berbagai peristiwa konflik komunal berbasis agama dan etnis telah memberi pelajaran bahwa pembangunan akan gagal di tengah jalan akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik komunal berbasis etno-relijius. 

Kekuatan Moderasi Muhammadiyah-NU

Dari sinilah penelitian itu bermula. Keberislaman yang sanggup menopang keindonesiaan yang ditenun oleh kemajemukan etnis dan agama adalah keberislaman yang dibangun di atas spirit moderatisme, atau yang saat ini lebih dikenal dengan istilah ‘Islam wasathiyah’ (Islam moderat). Tidak mungkin untuk diingkari bahwa pilar penting Islam wasathiyah di Indonesia adalah Muhammadiyah dan NU.

Keberadaan dua organisasi ini menjadi sangat penting karena jumlah anggotanya yang sangat besar. Sekalipun tidak ada ada data konkret yang bisa diacu, namun berdasarkan beberapa data survey akhir-akhir ini diperkirakan bahwa anggota kedua organisasi ini nyaris mencapai 60% dari total Muslim di Indonesia.

Baca Juga  Apa Keuntungan Perang di Abad 21?

Tepatnya adalah 58,9% atau sekitar 122,04 juta jiwa. Jika moderasi ke-Islaman Muhammadiyah dan NU mampu mewarnai kehidupan keagamaan (ke-Islaman) di Indonesia, maka bisa dipastikan intoleransi dan kekerasan agama yang menjadi slilit dalam proses pembangunan bangsa akan selesai.

Berangkat dari pertimbangan itu, salah satu rekomendasi penting dari penelitian itu adalah “Membangun dan memperkuat jaringan kerja antara Muhammadiyah dan NU (serta ormas-ormas moderat lain) untuk bersama-sama dalam menangkal intoleransi, radikalisme, terutama dalam bidang pendidikan, media, dan pengembangan sumber daya manusia.

Setelah presentasi, beberapa peserta menyalami saya dan menyatakan bahwa mereka sangat setuju dengan rekomendasi itu. Bagaimanapun juga, di tengah situasi keislaman yang semakin mengeras dan tidak jarang disertai dengan cacian dan kekerasan, Muhammadiyah dan NU harus bergandengan tangan untuk memperkuat Islam moderat di Indonesia. Mereka menyatakan bahwa saat ini hanya Muhammadiyah dan NU-lah yang bisa diandalkan untuk menjaga Indonesia.

Masuknya Salafi di Muhammadiyah dan NU

Sayangnya, kata mereka, hubungan Muhammadiyah dan NU akhir-akhir ini tidak jarang dihiasi ketegangan karena kesalahpahaman. Kesalahpahaman itu dipicu oleh kehadiran dakwah kelompok salafi-takfiri yang cenderung menyerang amalan-amalan orang NU yang dianggap bid’ah. Statemen ini sepenuhnya saya setujui.

Harus diakui bahwa pernah ada suatu masa di mana hubungan warga Muhammadiyah dan NU dipenuhi ketegangan. Ketegangan ini terutama karena perbedaan paham terkait dengan amalan-amalan keislaman yang dipraktikkan orang NU, misalnya, pelafalan ushalli menjelang shalat, jumlah rakaat shalat tarawih, jumlah azan jum’at, bacaan qunut shalat subuh, ziarah kubur, pembacaan barzanji, selamatan, dsb. Kisah ketegangan itu masih bisa dilihat sisa-sisanya berupa keberadaan masjid Muhammadiyah dan masjid NU dalam satu desa.

Tapi kisah itu telah lama berlalu. Muhammadiyah dan NU akhirnya tumbuh menjadi Muslim-Muslimah yang lebih dewasa. Hal-hal furu’-khilafiyah itu tidak lagi menjadi alasan ketegangan, sekalipun di beberapa daerah masih ada segelintir orang yang menjadikan hal remeh-temeh itu sebagai alasan untuk tidak membangun hubungan sosial yang baik.

Baca Juga  Perlukah Muhammadiyah Memiliki ‘Dana Abadi’? (Bagian 1 dari 5)

Namun, secara umum, hubungan Muhammadiyah dan NU terjalin dengan baik. Muhammadiyah berjalan dengan keyakinannya tanpa mengolok keislaman NU, begitu juga sebaliknya. Bahkan, perbedaan waktu Idul Fitri saja sudah menjadi bahan gurauan. Sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi di dasarwa 60-an/70-an.

Kalaupun sesekali ada ketegangan antara dua organisasi itu, itu bukan karena keyakinan keagamaan, tapi lebih karena masalah kompetisi berebut kue kekuasaan, misalnya, jatah menteri atau jabatan-jabatan keduniaan lain. Sesuatu yang lumrah.

Namun hubungan baik ini akhir-akhir ini mulai terganggu dengan agresifnya dakwah kelompok salafi. Kelompok salafi yang sangat puritanis, dan dalam beberapa hal suka mengkafirkan kelompok Muslim yang berbeda dengan dirinya, membangkitkan kembali kenangan ketegangan antara Muhammadiyah dengan NU.

Kelompok salafi yang tidak mengikatkan dirinya dalam sebuah organisasi formal seperti Muhammadiyah dan NU cenderung sulit untuk diidentifikasi secara komunal. Identifikasi terhadap salafi seringkali didasarkan pada caranya dalam berislam dan agresifnya dalam berdakwah yang cenderung nyesat-nyesatkan kelompok lain. Tentu saja yang seringkali menjadi korban dari dakwah takfiri kelompok salafi adalah NU.

Sebuah Keresahan Bersama

Ketika orang-orang NU bereaksi terhadap dakwah kelompok salafi, mereka seringkali salah tuding dengan menyamakan antara Muhammadiyah dengan salafi. Tidak setiap orang NU memahami bahwa kelompok salafi berbeda dengan Muhammadiyah. Sekalipun sama-sama berslogan al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah, namun salafi dengan Muhammadiyah jelas berbeda.

Sejak era Ahmad Dahlan hingga kini, sikap resmi keislaman Muhammadiyah adalah moderat. Muhammadiyah memang tidak mau mengamalkan praktik keislaman populer ala NU, namun mereka sama sekali tidak takfiri, apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan. Inilah yang membedakan antara Muhammadiyah dengan salafi.

Orang NU juga banyak yang tidak tahu bahwa Muhammadiyah sangat resah dengan infiltrasi kelompok salafi ke dalam tubuh Muhammadiyah. Salah satu temuan penting dalam penelitian di atas adalah adanya infiltrasi muballigh-muballigh salafi dalam pengajian-pengajian Muhammadiyah. Temuan ini nyaris di-amini oleh semua peserta yang hadir. Fenomena ini jelas meresahkan mereka.

Baca Juga  Teologi Kasih Sayang untuk Pengidap HIV/AIDS

Karena itulah, rekomendasi di atas disambut dengan sangat baik. Rekomendasi itu akan menghilangkan kesalahpahaman antara Muhammadiyah dengan NU karena faktor salafi di satu sisi. Di sisi yang lain, Islam moderat yang dikembangkan oleh Muhammadiyah dan NU akan membawa misi Islam sebagai rahmatan lil alamin yang mampu mewujudkan Indonesia sebagai rumah damai bagi seluruh warganya.[]


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Ahmad Z. El-Hamdi

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *