Oleh: Dani Ismantoko

Banyak orang tahu Muhammadiyah dan NU. Tetapi tidak tahu secara detail bagaimana Muhammadiyah dan NU. Terutama di kalangan akar rumput. Hal ini juga mempengaruhi hubungan Muhammadiyah dan salafi di akar rumput.

Ketidaktahuan secara detail itu biasanya akan menimbulkan semacam analisis singkat tentang perbedaan antara Muhammadiyah dan NU. Salah satu yang sering dikatakan oleh kalangan akar rumput jika ditanya “Apa perbedaan Muhammadiyah dan NU?” jawabannya adalah Muhammadiyah tidak tahlilan dan NU tahlilan.

Tahlilan Menurut Muhammadiyah

Kenyataan itu harus kita akui. Dalam keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah dijelaskan bahwa tahlilan itu membaca laa ilaaha illallah. Dan untuk hal itu Muhammadiyah tidak melarang.

Yang dilarang Muhammadiyah adalah upacara peringatan kematian 3, 7, 40, 100, 1000 hari. Karena dianggap masih ada unsur animisme, dinamisme dan ajaran Hindu di dalamnya. Selain itu dalam tahlilan dalam artian upacara peringatan kematian sering terjadi peristiwa pemubadziran makanan. Juga tidak jarang orang yang kurang mampu harus berhutang untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Dalam konteks itu, terjadi semacam mis-komunikasi. Bagaimanapun di kalangan akar rumput, yang dimaksud dengan kegiatan tahlilan itu adalah upacara peringatan kematian dengan tujuan mendoakan orang meninggal tersebut. Jika diselenggarakan oleh sebuah keluarga biasanya akan mengikuti standarisasi waktu yang sudah turun temurun dipakai, 3, 7, 40, 100, 1000 hari.

Ada juga varian tahlilan di mana diselenggarakan masyarakat sebagai kegiatan rutin. Salah satu tujuannya, selain mendoakan para lelurhur juga untuk silaturahmi. Ada yang seminggu sekali setiap malam Jumat, atau satu bulan sekali yang biasanya juga malam Jumat, entah itu malam Jumat pertama, kedua, ketiga atau keempat.

Muhammadiyah dan Salafi di Akar Rumput

Sejauh yang saya amati apa yang dilakukan masyarakat itu sekadar mendoakan leluhur. Permasalahan hari, mulai dari 3, 7, 40, 100, 1000 itu hanya untuk mempermudah penentuan waktu. Daripada menentukan secara acak kapan waktunya, mengikuti yang sudah-sudah saja lah. Kira-kira seperti itu alasannya.

Sikap tentang tahlilan itulah yang membuat orang Islam berpaham salafi (tekstual) berbondong-bondong masuk ke Muhammadiyah. Agaknya karena memiliki semacam kesamaan. Sama–sama melarang tahlilan dalam artian upacara peringatan kematian yang tujuannya adalah mendoakan leluhur dengan standarisasi waktu tertentu.

Kader–kader semacam ini biasanya akan kuat mempertahankan argumennya terkait apa itu Islam menurut versi mereka. Alih-alih mencoba memahami Islam menurut versi Muhammadiyah. Bukan hanya tentang tahlilan itu tadi, tetapi juga bagian-bagian yang lain.

Dan mohon maaf, selanjutnya terkesan bahwa orang-orang salafi (tekstual) ini ingin mensalafikan Muhammadiyah (secara tekstual). Seakan-akan mereka ingin mengambil alih Muhammadiyah. Sebagaimana HTI yang terobsesi untuk mengkhilafahkan Indonesia menurut versi mereka.

Salafi Anti Budaya, Muhammadiyah Tidak Anti Budaya

Muhammadiyah lahir di lingkungan keraton. Oleh karenanya Muhammadiyah akrab dengan keraton dan budaya Jawa. Maka banyak sekali masjid Muhammadiyah di wilayah keraton yang model arsitekturnya mirip-mirip dengan gaya arsitektur Keraton. Cara berpakaian warga Muhammadiyah di lingkungan Keraton pun biasa saja. Sebagaimana umumnya umat Islam di Indonesia.

Itu bukan sebuah generalisasi bahwa potret Muhammadiyah yang sebenarnya adalah seperti itu. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa Muhammadiyah itu tidak anti budaya. Muhammadiyah sadar bahwa antara budaya dengan agama itu tidak bisa terpisah satu sama lain.

Dan salafi sejauh yang ditunjukkan kepada masyarakat selama ini terkesan anti budaya, khususnya Jawa. Kita akan segera tahu, biasanya kader-kader Muhammadiyah yang salafi (tekstual) bagi yang laki-laki akan berjenggot, bercelana cingkrang. Seakan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka itu ikut Nabi Muhammad secara kaffah sampai mau mengikuti gaya, mode fashion yang menurut mereka sesuai dengan hadis. Dan yang perempuan memakai cadar.

Sebenarnya urusan fashion tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika mereka memaksakan sesuatu kepada masyarakat. Misalnya, ingin menghapuskan budaya tahlilan di sebuah dusun yang memang sudah secara lama melaksanakan budaya tersebut.

***

Saya kira gerakan awal Muhammadiyah sangat sadar dengan kentalnya budaya di wilayah sekitarnya. Kalau tidak, ya akan ditolak seperti Muslim United yang mau bikin acara di Kauman itu. Apakah orang-orang Salafi yang menyusup itu menginginkan Muhammadiyah menjadi seperti itu di masyarakat? Tanyakan kepada mereka.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda