Muhammadiyah dan Salafisme (3): Salafisme sebagai Orientasi Pemikiran Keagamaan

 Muhammadiyah dan Salafisme (3): Salafisme sebagai Orientasi Pemikiran Keagamaan

Ilustrasi. Sumber: IBTimes/Galih Qoobid Mulqi

Pada tulisan terdahulu tentang Muhammadiyah dan salafisme, saya membahas tentang salafisme sebagai fase sejarah. Pemikir Muslim seperti Said Ramadhān al-Būthi dan Abdullah al-Bukhāri cenderung tidak setuju menganggap salafisme sebagai kelompok keagamaan, dengan sejumlah pertimbangan. Namun demikian, secara faktual, kita tidak bisa memungkiri bahwa salafisme pada hari ini telah menjadi suatu orientasi keagamaan khas yang memiliki corak dan sikap tersendiri atas berbagai persoalan.

Karena itu, perlu kiranya memahami salafisme sebagai orientasi pemikiran ini dengan menampilkan anatomi pemikiran kelompok tersebut. Tentu saja, sebagai kelompok atau gerakan, salafisme juga bukan komunitas yang bersifat tunggal. Namun, ada doktrin dan anatomi dasar yang bisa ditemukan pada semua kelompok salafi. Pada tulisan ini, saya akan membahas anatomi dasar salafisme sebagai orientasi pemikiran, lalu secara sekilas membandingkannya dengan konteks Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Salafisme

Perbandingan dengan Muhammadiyah merupakan hal yang penting, karena sebagaimana telah disinggung pada tulisan terdahulu, seringkali terjadi identifikasi Muhammadiyah dan salafisme secara serampangan. Perbandingan ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang relatif gamblang tentang hubungan Muhammadiyah dan salafisme, pada titik mana keduanya memiliki persamaan, dan pada titik mana keduanya tidak memiliki persamaan sama sekali.

Para ahli tidak selalu sama dalam mendeskripsikan salafisme. Menurut Syaikh Muhammad al-Shalih Utsaimin, al-Salafiyatu hiya ittibā’u manhaji al-nabīy shalla Llahu alaihi wa sallam wa ashābihi, liannahum salafuna taqaddamu ‘alainā, fa ittibū’uhum huwa al-salafiyyah, wa amma ittakhādu al-salafiyati ka manhajin khāsin yunfaridu bihi al-insānu.

Bahwa yang dimaksudkan dengan salafisme adalah mengikuti manhaj (metode) Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya karena mereka lebih dahulu dari kita. Maka mengikuti mereka, itulah yang disebut dengan salafisme. Sedangkan menjadikan salafisme sebagai metode khusus, akan menjadikan seseorang berbeda dengan orang lainnya.

Mohammed bin Ali dan Muhammad Saiful Alam Shah bin Sudiman (2016), dalam Salafis and Wahhabis: Two Sides of the Same Coin? Memberikan batasan tentang salafisme sebagai berikut:

“The ideology of Salafism and Wahhabism is built upon a narrowly defined religious text. Methodologically, they are literalist and puritanical in their approaches to Islamic theology and law. In matter of jurisprudence, Salafis and Wahhabis subscribe to the Hanbali mazhab (school of law) and law. (Ideologi Salafisme dan Wahhabisme dibangun di atas teks keagamaan yang difahami secara sempit. Secara metodologis, mereka adalah kalangan yang menganut pendekatan literalis dan puritan dalam hal teologi dan hukum Islam. Dalam hal hukum Islam, Salafi dan Wahhabi pada umumnya menganut Mazhab Hanbali).

Gambaran di atas memberikan sedikit pemahaman tentang apakah Salafisme sebagai orientasi kegamaan itu. Lebih detail lagi, dalam berbagi studi dan kajian, sejumlah ciri salafisme diungkapkan. Di antara ciri-ciri salafisme adalah: a) penolakan atas segala sesuatu yang berbau bid’ah pada doktrin dan praktik beragama di kalangan umat Islam; b) penolakan terhadap penafsiran hukum Islam oleh madzhab apapun termasuk empat madzhab fiqih, dan sebagai alternatifnya mengajukan penafsiran dan pemahaman literal atas al-Qur’an dan Sunnah; c) prinsip yang kaku dalam hal pakaian dan penampilan (jenggot bagi laki-laki dan cadar bagi perempuan); d) penolakan pada segala sesuatu yang oleh penafsiran literal Qur’an cenderung akan ditolak, seperti foto, musik, bank konvensional, dan pemilihan umum; e) Salafisme juga menolak afiliasi pada organisasi dalam bentuk apapun, karena kesetiaan kepada organisasi akan menjauhkan Muslim dari Islam (ICG, 2004: 1-3).

Pemberantasan TBC

Pembatasan seperti ini tentu saja masih mengundang perdebatan. Tetapi sekurang-kurangnya, apa yang dimaksudkan dengan salafisme itu bisa sedikit terungkap. Sekali lagi dalam konteks salafisme sebagai orientasi pemikiran. Dalam konteks sebagai orientasi pemikiran keagamaan ini sarjana-sarjana Barat pada abad ke-20 dan 21 cenderung memiliki pemahaman yang kurang tepat terhadap istilah salafi.

Sebagaimana diidentifikasi oleh Frank Giffel (2015), di mata para sarjana Barat, salafi seringkali diartikan sebagai: a) gerakan pembaruan Islam yang didirikan oleh Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh; dan b) salafisme dihubungkan dengan gerakan pembaruan Islam yang melakukan kritik terhadap manifestasi Islam Sunni yang didasarkan pada Sufisme, teologi Asy’ariyah dan afiliasi pada madzhab fiqih yang empat.

Tentu contoh-contoh penjelasan tentang anatomi gerakan salafisme sebagai orientasi pemikiran keagamaan di atas belum memadai. Tetapi, dari beberapa pandangan tentang ciri-ciri salafisme di atas, mari kita gunakan sebagai parameter untuk mengukur tren salafisme di Muhammadiyah.

Sebagai orientasi pemikiran keagamaan, salafisme menolak segala sesuatu yang berbau bid’ah. Sekilas, tentu saja doktrin ini sejalan dengan doktrin dasar Muhammadiyah yang menolak segala bentuk bid’ah. Salah satu doktrin penting Muhammadiyah adalah pemberantasan takhayul, bid’ah dan (c)khurafat yang lazim dikenal dengan akronim TBC.

Sikap Terhadap Bid’ah

Namun tentu saja, harus dilihat lebih dalam tentang hakikat penolakan bid’ah oleh Muhammadiyah dan salafisme. Di atas telah disinggung pula bahwa salah satu ciri orientasi keagamaan salafisme adalah kaku dan sempit dalam memaknai doktrin-doktrin keagamaan. Dengan sendirinya, itu juga berlaku pada cara salafisme memahami bid’ah.

Sebaliknya, doktrin anti-bid’ah Muhammadiyah tidak bisa difahami semata-mata dalam kaitannya dengan bid’ah an sich dalam maknanya yang sempit, tetapi harus pula dihubungkan sikap Muhammadiyah terhadap realitas sosial, modernitas dan pembaruan pemikiran keagamaan. Maka dari situ akan tergambar dengan jelas bagaimana sesungguhnya faham anti-bid’ah Muhammadiyah berbeda dengan salafisme.

Benar bahwa dalam Muhammadiyah, menghindari bid’ah merupakan satu kata kunci yang membedakan Muhammadiyah dengan gerakan lainnya. Namun, sepanjang yang saya fahami dan saksikan, bid’ah yang dimaksudkan dalam konteks Muhammadiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan ibadah.

Maka, sepanjang menyangkut ibadah, jika tidak ditemukan contoh dari Rasulullah, ibadah itu haram atau terlarang. Satu kaidah fiqih yang bisa digunakan untuk menggambarkan sikap Muhammadiyah ini adalah: al-ashlu fī al-ibādati al-tahrīm bahwa hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang menunjukkan kepada kewajibannya.

Di sisi lain, teramat jelas bahwa Muhammadiyah tidak menganut prinsip bid’ah dalam hal inovasi sosial sebagaimana diyakini oleh kalangan salafi. Kalangan salafi cenderung defensif terhadap inovasi sosial. Sementara salah satu letak rahasia kelanggengan gerakan Muhammadiyah hingga hari ini, adalah karena inovasi-inovasi sosial yang dikembangkan oleh Muhammadiyah ketika berhadapan dengan berbagai realitas masyarakat yang berubah.

Dalam hal ini, barangkali kalimat yang tepat untuk menggambarkan prinsip Muhammadiyah adalah sebagaimana ungkapan Muhammad Ridla Abd al-Alīm al-Kafrawi dan Abd al-Azīz Abd al-Ghaffar al-Syadzili Laisa Kulla Jadīdin Bid’atun, tidak semua yang baru adalah bid’ah. Inovasi sosial yang dijalankan oleh Muhammadiyah tentu adalah bid’ah dalam arti yang lughawi dan sempit, jika bid’ah dimaknai semata-mata sebagai hal yang tidak ada pada masa Nabi Muhammad SAW.

Sikap Terhadap Teks

Sikap terhadap teks adalah contoh lain yang bisa digunakan untuk membandingkan Muhammadiyah dan salafisme. Salafisme hanya mengenal satu orientasi, yaitu literalisme. Sementara dalam Muhammadiyah aneka ragam pendekatan pada teks bisa ditemukan. Dengan menggunakan kerangka teori Abdullah Saeed, sikap umat Islam terhadapat teks ada tiga, yakni literalis, kontekstualis dan semi-kontekstualis.

Jika dipelajari lebih mendalam, ketiga orientasi itu sama-sama bisa ditemukan di Muhammadiyah. Maka mereka yang menganut pendekatan literalis berarti memiliki titik singgung dengan salafisme. Sementara pendekatan semi-kontekstual dan kontekstual sama sekali tidak memiliki persinggungan dengan salafisme.

Padahal kita tahu, Kiai Dahlan mempraktikkan pendekatan kontekstual dalam menafsirkan al-Qur’an, dan hingga hari ini pendekatan kontekstual masih merupakan pendekatan dominan dalam pembacaan al-Qur’an di kalangan Muhammadiyah. (Bersambung)

Pradana Boy ZTF

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Duta Perdamaian Antaragama Internasional.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *