Neo-Tradisionalisme Islam, Sukidi akan Berhasil atau Gagal? - IBTimes.ID
Perspektif

Neo-Tradisionalisme Islam, Sukidi akan Berhasil atau Gagal?

3 Mins read

Sukidi mengkritik metode pembaruan Islam ala generasi Nurcholish Madjid dan Ahmad Syafii Maarif. Sukidi tentu bukan yang pertama mengajukan kritik.

Ada Kuntowijoyo, Dawam Rahardjo, Moeslim Abdurrahman, dan Amin Abdullah yang telah merintis jalan alternatif metode pembaruan Islam.

Sukidi menawarkan metode pembaruan dengan cara kembali pada tradisi. Tapi gagasan pokoknya adalah Al-Qur’an merupakan teks tanpa konteks. Bagi Sukidi, ini adalah pembeda penting dirinya dengan pembaharu Islam dekade 1980 hingga 1990an di Indonesia.

Sukidi Mulyadi menyelesaikan studi doktoral di universitas Harvard tahun 2019. Ia menulis disertasi berjudul The Gradual Qur’an: Views of Early Muslim Commentators. Disertasi ini mengulas teori pewahyuan Al-Qur’an dalam perdebatan mufasir era formatif Islam.

Menurut Sukidi, teori Al-Qur’an turun secara gradual merupakan unsur penting polemik wacana monoteisme di masa-masa awal Islam. Polemik itu memainkan peran penting dalam kontestasi wacana monoteisme antara Islam, Yahudi, dan Kristen.

Ia menyimpulkan bahwa mufasir era formatif Islam berperan mendalam untuk memformulasikan landasan intelektual dan keagamaan komunitas muslim. Keimanan kaum muslim sebagian besar adalah wujud dari warisan tradisi tersebut.

Bagi para pembaca studi Al-Qur’an kontemporer, disertasi Sukidi punya nada serupa dengan akademisi muslim kewarganegaraan Indonesia lain seperti Mun’im Sirry.

Keduanya misalnya menganggap betapa krusialnya era formatif Islam (antara tahun 700-800 Masehi) untuk memahami perdebatan keagamaan di dunia muslim kontemporer.

Historisitas bagi mereka berdua bukan untuk menggali konteks, sebagaimana Fazlur Rahman misalnya mengajukan teori gerakan ganda (double movement). Tapi untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah teks dengan jejak polemik keagamaan di masa lalu.

Bedanya, Sukidi kemudian mengajukan metode pembaruan Islam dengan jalan tradisi. Alih-alih memanfaatkan jargon “kembali pada Al-Qur’an” (back to Qur’an).

Baca Juga  Membela Agama, Membela Planet Bumi

Pada kuliah umum virtual 5 Oktober 2021 di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Sukidi memaparkan proposal metode pembaruan Islam yang diklaimnya baru. Anda bisa mencermati sendiri di kanal Youtube. Tapi saya akan meringkaskannya menjadi tiga fokus utama.

Tiga Metode Pembaruan Islam ala Sukidi

Pertama, Sukidi menganggap bahwa teks tak punya disposisi apapun kecuali teks itu sendiri.

Sukidi yakin hanya komunitas penafsir era formatif Islam yang secara kebetulan punya bagian dalam diskursifitas teks Al-Qur’an.

Kedua, Sukidi meyakini teks-teks Al-Qur’an tak punya inheritas apa pun di luar teks itu sendiri. Dia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah teks tanpa konteks.

Ketiga, dengan demikian, lokus makna tidak mengada dan eksis dalam teks-teks Al-Qur’an tapi pada komunitas penafsir.

Neo-Tradisionalisme dan Pembaruan Islam

Istilah tradisi yang digunakan oleh Sukidi merujuk pada diskursifitas pelembagaan landasan intelektual dan keagamaan pada abad awal dan pertengahan Islam.

Diskursifitas itu mewujud berupa gerakan formasi pemikiran keagamaan melalui kemunculan komunitas penafsir Al-Qur’an. Mulai sejak masa mufasir pertama dalam sejarah Islam, yaitu Ibnu Abbas.

Kemudian berlanjut ke masa Imam Ath-Thabari (839-923 M) dan Imam As-Suyuthi (1445-1505 M). Ini adalah salah satu masa paling produktif dalam dunia muslim. Perlahan surut seiring kekalahan Islam dalam dunia politik dan ilmu pengetahuan.

Jadi, maksud metode pembaruan Islam melalui tradisi adalah kembali dari awal. Tidak cukup sekadar kembali pada teks Al-Qur’an. Tapi betul-betul kembali pada masa-masa paling krusial dalam dimensi historis Islam.

Di sanalah semuanya berawal. Konstruksi-konstruksi intelektual dan keagamaan paling fundamental yang dikenal hari ini ada di sana.

Pembacaan saya, metode kembali pada tradisi adalah serangkaian pengujian landasan intelektual dan keagamaan dunia muslim. Pengujian ini mensyaratkan analisis inter-diskursus yang berkembang pada masa ketika teks Al-Qur’an diformasikan.

Baca Juga  Covid-19: Ujian Nalar dan Kesadaran

Jadi cara mencari makna Al-Qur’an bukan dengan membenturkan kondisi aktual hari ini terhadap teks-teks kitab suci. Melainkan mencari dimensi diskursifitasnya di masa lalu.  Bagaimana teks-teks tertentu bereaksi atau berkembang di ruang diskursif.

Akan Berhasil atau Gagal?

Ketika Sukidi menguraikan metode tradisi, dia membuat tesis pokok bahwa Al-Qur’an adalah teks tanpa konteks. Mungkin maksudnya adalah Al-Qur’an tak bisa bicara konteks.

Kita juga bisa bertanya, apakah itu berarti Al-Qur’an adalah teks atas teks? Apakah Al-Qur’an sebagai teks hanya mungkin diperdebatkan sejauh hubungannya dengan formasi teks?

Ya, tesis ini sepintas, tak terhindarkan lagi, mengingatkan kita pada metode kritisisme dekonstruktif ala Jacques Derrida dalam On Grammatology (1967). Derrida mengingatkan kita bahwa kajian makna terhadap teks akan berujung sia-sia.

Derrida menegaskan bahwa tidak ada apa-apa di balik teks (there is nothing outside the text). Cara paling baik untuk mencari sesuatu di balik teks adalah menghubungkannya dengan teks-teks yang lain.

Dalam konteks metode tradisi, tidak ada cara menemukan makna atau konteks teks Al-Qur’an jika tidak dihubungkan dengan teks-teks lain.

Teks-teks itu bisa berupa naskah-naskah keagamaan yang berkembang selama masa penyusunan mushaf Al-Qur’an. Juga bisa mengacu pada teks-teks lain yang terhubung dengan Al-Qur’an yaitu taurat atau injil.  

***

Di sini ada satu masalah yang tak bisa Sukidi hindari. Tesis teks tanpa konteks itu tanpa disadari menciptakan ekstrapolasi konteks ke dalam teks. Apa yang terjadi malahan mengintrodusir ruang diskursifitas komunitas penafsir di masa lampau senyata-nyata ke dalam syarat kita menginterpretasi teks-teks Al-Qur’an di masa kini.

Jadi alih-alih mendeklarasi tak ada konteks di dalam teks, yang terjadi sebaliknya, menanam satu kenyataan yang dianggap punya relasi internal dengan teks itu sendiri.

Baca Juga  Covid-19: Menjadi Muslim Tanpa Masjid?

Jadi ketika pembaca aktual hari ini menginterpretasi Al-Qur’an dengan metode tradisi, apakah Ia berhasil mencari makna atau melihat kenyataan tentang bagaimana teks mengada?

Berulang kali dalam diskusi kuliah umum Sukidi menuturkan gejolak awal dari metode tradisi adalah kontradiksi. Bahwa produksi makna atas teks-teks Al-Qur’an sangatlah beragam sejak abad awal dan pertengahan Islam.

Tawaran metode tradisi ala Sukidi ini menarik karena membangkitkan lagi perdebatan tentang teks sebagai teknologi paling fundamental dalam sejarah keagamaan modern.

Apakah proposal pembaruan Islam ala Sukidi membangkitkan lagi perdebatan keagamaan di Indonesia? Inilah bagian pentingnya.

Editor: Yahya FR

Avatar
44 posts

About author
Penggiat Rumah Baca Komunitas (RBK), Yogyakarta. Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Articles
Related posts
Perspektif

Asal Usul dan Masa Depan Kementerian Agama Indonesia

4 Mins read
Dalam acara Webinar Santri Membangun Negeri, yang diadakan Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan PBNU, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Menteri Agama Yaqut…
Perspektif

Kemal Ataturk Tak Sebanding dengan Bung Karno

3 Mins read
Polemik Nama Jalan Kemal Ataturk Saat ini terjadi polemik tentang rencana pemberian nama sebuah jalan utama di Jakarta dengan nama Jl. Kemal…
Perspektif

Maulid Nabi: Keteladanan Nabi Muhammad dan Semangat Nilai Profetik

4 Mins read
Tepat pada 19 Oktober kemarin, umat Islam dunia menyambut gembira hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ya, peringatan Maulid Nabi, begitu umat Islam…

Tinggalkan Balasan