Nietzche, Pandemi dan Transfigurasi Diri

 Nietzche, Pandemi dan Transfigurasi Diri
Gambar: philoshopy            

Oleh : Asratillah

Seperti yang dikatakan oleh BNPB, baru kali ini mereka secara kelembagaan menghadapi bencana kategori non-bencana alam. Sewaktu gempa mengguncang NTB dan Tsunami meluluhlantakkan Kota Palu, maka kerusakan yang dihasilkan lekas terlihat, sebab-sebabnya pun sedikit banyaknya bisa dijelaskan walaupun belum ada instrumen pengetahuan dan teknologi yang bisa meramalkan, begitu pula jumlah korban dan apa yang terjadi setelahnya, sedikit banyaknya bisa diperkirakan.

Tapi kali ini mereka, bahkan kita sebagai bangsa menghadapi hal yang lain, sesuatu yang belum kita kenal sebelumnya apalagi mengendalikannya, sesuatu itu kita labeli pendemi Corona.

Dalam sejarah umat manusia, bukan pertama kalinya kita menghadapi wabah berskala besar. Dalam sejarah kita mengenal wabah Flu Spanyol, Wabah hitam dll, selain skalanya yang lebih besar dan percepatan penularannya yang eksponensial, penedemi Corona hadir di tengah-tengah situasi global yang “angkuh-angkuh”-an.

Perang dagang AS dan RRT yang tak kunjung reda, konflik bersenjata antara AS dan Iran, situasi kawasan Timur-tengah yang belum juga membaik, konflik beragama di India, belum lagi kontroversi penerimaan eks-combatan ISIS oleh negara masing-masing. Pendemi Corona hadir di antara kita yang sementara euforia untuk membusungkan dada.

Saya teringat nasihat dari para orang tua di kampung (Maros, Sulawesi Selatan), ungkapan bahasa bugisnya kira-kira begini “aja’ mu micawa ladde’, terriko matu’….”, yang terjemahan bebasnya kira-kira “janganlah engkau tertawa terbahak-bahak, nanti engkau menangis…”.

Bagi saya, ungkapan tersebut adalah semacam wawasan psikologi yang sederhana, bahwa “diri” yang terlalu larut dalam adonan kebanggaan-kebahagiaan-kesenangan (yang secara fisik ditandai dengan tawa terbahak-bahak), maka itu menandakan ketidaksiapan “diri” nya untuk menghadapi kehilangan-rasa sakit-derita. Atau juga bisa diartikan, tawa terbahak-bahak justru menandakan diri yang tidak mampu mentransfigurasikan rasa sakit atau derita. Karena rasa sakit merupakan hal yang niscaya bagi manusia, yang masih berupa kemungkinan adalah, apakah kita bisa melampaui (aufhebung) rasa sakit-derita , apakah kita mampu menghadapi sekaligus belajar penuh khidmat dari rasa sakit ?.

Saya tiba-tiba teringat dengan perkataan Nietzche dalam la gaya scienza, “Bagi kita, hidup berarti : terus-menerus mengubah menjadi cahaya dan api apa saja yang ada pada diri kita; mentransformasikan apa saja yang menghantam diri kita, tidak ada cara lain lagi. Dan berkaitan dengan penyakit, kita akan tergoda untuk bertanya, mungkinkah kita terdispensasi darinya ?”. Yah, apa yang dikatakan oleh Nietzche ada benarnya, bahwa “tak ada cara lain”, selain “mentransformasikan apa saja yang menghantam diri kita”, baik “kita” sebagai “menusia secara generik” maupun “kita” sebagai “bangsa”.

Bahkan “manusia sebagai spesies” dalam perspektif paleontologi dan geologi sejarah, lahir dari serangkaian benturan-benturan, negosiasi-negosiasi antara dirinya dengan sesama maupun alam. Apatah lagi jika kita berbicara soal “bangsa”, dia lahir dari rangkaian perang, diplomasi, manuver politik dan hal-hal lain apapun namanya itu.

Tetapi, upaya mentransformasi segala hal “yang menghantam diri”, tentulah bukan perkara gampang. Selalu saja ada keragu-raguan yang mengiringi segala bentuk “upaya mentransformasi”, bahkan sebagai bangsa kita tidak selalu bersepakat dalam hal “upaya” mana yang paling tepat, mungkin karena dalam rasa sakit semisal pendemi yang mengancam, kita berupaya untuk memikirkan, menawarkan ataupun melakukan “upaya” yang tak “rata-rata”, upaya yang tak berada dalam zona nyaman.

Hanya rasa sakit yang dahsyat, derita panjang dan perlahan-lahan yang membakar diri kita seperti kayu basah, memaksa kita…untuk turun jurang yang terakhir, memaksa kita menanggalkan seluruh kepercayaan, segala rasa-perasaan-baik, semua bentuk penyamaran, segala penghalusan, seluruh solusi rata-rata, yang mana semua itu sebelumnya barangkali merupakan tempat kemanusiaan kita ditaruh”, ungkap Nietzche.

Saya tidak bisa memastikan, apakah pendemi Corona sudah bisa dikategorikan sebagai “rasa sakit yang dahsyat”  bagi kita sebagai bangsa ?, tetapi minimal kehadirannya membawa imaji kita ke sana. Lalu apa “upaya transformasi”  yang bisa kita lakukan ?, pendemi ini menyebabkan keluhan tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi korban, bahwa kekurangan perlengkapan medis. Masker dan hand sanitizer yang penting dalam memperlambat penularan semakin langka dan ada indikasi penimbunan, belum lagi birokrasi pemerintahan yang tak siap menjaga kinerjanya di tengah-tengah situasi genting.

Hikmahnya, mungkin pengadaan perihal pelayanan dasar warga perlu ditransformasi, pemerintah tak boleh lagi memberi hati kepada mafia untuk turut serta mengelolanya, pemerintah perlu mentransformasi diri. Birokrasi pemerintahan dalam menjalankan kinerja juga perlu bertransformasi, bahwa kini jumlah uang yang dianggarkan untuk kantor-kantor dinas yang mewah tak selamanya berbanding lurus dengan kinerja, kalau pekerjaan bisa selesai tanpa kantor buat apa mendirikan bangunan kantor ?.

Bahkan, rumusan teologi kita pun turut bertransformasi. Kaum beragama pun semakin mampu menilai mana fatwa yang tak memadai lagi saat ini, kita belajar bahwa “mengatas nama kan Tuhan” tidak senantiasa bijak. Nalar beragama yang didominasi oleh pendekatan tekstual-bayani pun ikut diuji, sains yang dulu punya citra anti agama dan agamawan yang anti sains, karena pendemi ini tiba-tiba saling bergandengan tangan walaupun memiankan peran yang berbeda.

Kita pun di ajak untuk mengevaluasi gaya hidup kita, bahwa kita masih bisa hidup tenang tanpa menghabiskan waktu seharian untuk berbelanja, dan belum tentu apa yang kita beli adalah yang kita butuhkan apalagi menyehatkan.

Nietzche lanjut berucap “saya sendiri tak yakin, apakah rasa sakit seperti itu membuat lebih baik- tapi saya tahu bahwa derita seperti itu membuat kita menjadi semakin dalam”. Yang dimaksud oleh Nietzche sebagai “menjadi semakin dalam” adalah semakin dimungkinkannya hidup dalam etos “cinta kepada kehidupan”. Bahwa kehidupan tak pernah menggaransi kita akan menjadi lebih kaya, menjadi lebih tenar, lebih popular atau kehidupan tak pernah menggaransi sebuah bangsa akan semakin baik pertumbuhan ekonominya, tak akan mengalami krisis dan tidak berujung pada situasi chaos.

Walaupun dalam situasi penuh resiko dan tidak ada jaminan itulah, kita semakin punya ketajaman dalam hal kemampuan mempertanyakan, mengevalusai secara mendasar serta terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Asratillah

Asratillah

Koordinator Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sulawesi Selatan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *