Review Novel: Gadis Pantai Karya Pram - IBTimes.ID
Resensi

Review Novel: Gadis Pantai Karya Pram

4 Mins read

Novel Gadis Pantai

Tulisan Pak Pram kali ini membuat saya seperti menyelami masa lampau dengan sangat nyata. Entah apakah memang tulisan Pak Pram ini benar-benar diambil dari kisah nyata atau memang fiksi.

Ya, Novel roman yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer tentang kehidupan Gadis Pantai yang polos hingga menjadi korban kawin percobaan oleh seorang Bendoro ini membuat saya mengerti bagaimana sikap gupuh, aruh, suguh kepada orang yang dihormati pada masa itu.

Pada mulanya, Gadis Pantai tidak tahu menahu perihal orang tuanya yang akan membawanya ke kota kemudian akan menjodohkan dengan seorang Pembesar di kota.

Ketidaktahuanya tersebut diperparah dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada ayahnya tetapi selalu tidak mendapatkan jawaban.

“Kamu di sini akan mendapatkan apa yang kamu mau nduk”. Itulah jawaban yang selalu dilontarkan oleh ayahnya ketika Gadis Pantai itu bertanya mengapa aku dibawa ke kota dan dijodohkan dengan seorang Bendoro (Hal. 13).

Gadis Pantai ditemani seorang pembesar kampung untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan keluarga Gadis Pantai ke rumah Bendoro. Kemudian setelah dinyatakan diterima gadis pantai merasa ada keanehan di dalam rumah itu.

Ketika gadis Pantai sampai di rumah Bendoro, dia menengok suasana rumah yang cukup besar dan belum pernah ia lihat dikampungnya.

Gadis Pantai yang diceritakan Pram ini masih sangat polos. Terlihat ketika sosok bendoro menanyakan apakah Gadis Pantai sudah haid?

Ternyata, Gadis Pantai tidak tahu apa itu haid atau datang bulan. Ditanya ibunya dengan penjelasan yang paling sederhanapun juga tetap tidak tahu dan tidak paham.

Akhirnya, ibunya memutuskan untuk memberikan jawaban sendiri dengan memberitahu kepada Bendoro bahwasanya anakanya sudah mengalami haid.

Proses pernikahan antara Gadis Pantai tidak seperti zaman sekarang. Saya membacanya sangat simpel sekali dan dalam hal ini sosok perempuanlah yang datang lebih dulu ke rumah seorang laki-laki.

Baca Juga  Kemurahan Hati Buya Hamka terhadap Pramoedya Ananta Toer

***

Setelah ia dinyatakan diterima kemudian Gadis Pantai dibiarkan sendiri di kamar. Emak dan Bapaknya disuruh oleh seorang bujang atau pembantu untuk menempati ruangan lain yang sudah disediakan. Ketika berada di dalam kamar, Gadis Pantai ditemani seorang bujang.

Mas Nganten, itulah seketika panggilan yang dilontarkan pembantu itu kepada Gadis Pantai. Yang membuat Gadis Pantai terheran-heran adalah sosok pembantu yang pada mulanya baru beberapa menit tadi bersikap biasa dengan panggilan yang datar. Tapi yang diherankan Gadis Pantai adalah sikap dan bahasa pembantu itu berubah seketika. Ada apa ini? Begitulah pikiran Gadis Pantai pada saat itu.

Pada saat dan hari itu juga, kehidupan baru Gadis Pantai dimulai. Dengan ditemani seorang bujang yang bertugas sebagai penuntun dan mengarahkan apa yang harus dilakukan oleh Gadis Pantai.

Sebelum tidur, gadis pantai disuruh untuk mandi dan memakai parfum. Pakaian, parfum, dan kamar mandi yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh Gadis Pantai itu memunculkan pikiran kagum yang tiada henti namun itu hanya sebatas di dalam angan-angannya.

Malam itu juga, Gadis Pantai menikamati malam pertamanya dengan suaminya. Sosok Gadis pantai yang sebelumnya tinggal di desa dengan ditemani suasana laut, ikan dan riuhnya nelayan kini menikmati malam yang sebelumnya tidak pernah ia lewati.

Seiring berjalanya waktu, Gadis Pantai merasa keberatan dengan kebiasaan-kebiasaan disiplin sikap yang harus diterapkan di rumah Bendoro.

Gadis Pantai merasa ada hal yang berat untuk dipelajari sehingga pernah pada suatu waktu dia meminta untuk pulang ke kampung halamanya saja.

Di rumah bendoro itu, Gadis Pantai diajari tentang banyak hal. Mulai dari mengaji, menjahit, dan juga beberapa disiplin kesopanan tentang bagaimana bersikap dan berbuat di rumah Bendoro.

Seiring berjalanya waktu, Gadis Pantai terpisah dengan orang tuanya dan hanya memiliki sosok simbok yang dijadikan sebagai teman curhat setiap saat jika Gadis Pantai merasa ada hal yang ia inginkan.

Baca Juga  Negeri 5 Menara: Novel Terbaik tentang Pesantren

***

Namun, kebersamaan dengan Simbok itu tidak berangsur lama. Setelah simbok mengadu kepada Bendoro tentang adanya kasus pencurian kepada Bendoro, justru malah diusir dari rumah.

“Mbok, kau mau lawan kejahatan ini dengan tanganmu, tapi kau tak mampu. Maka kau itu lawan dengan tanganmu, Kau pun tak mampu. Kemudian kau melawan dengan hatimu. Setidaknya kau melawan..” (Hal. 119).

Sehingga, pada saat itu, si Mbok yang biasa menemani Gadis Pantai, kini digantikan oleh Mardinah. Gadis Pantai yang pada masa itu seringkali ditinggalkan sosok Bendoro mulai tidak merasa nyaman dengan sikap Mardinah yang jauh dari sikap si Mbok sebelumnya.

Waktu berlalu. Suatu saat Gadis Pantai ingin pulang menemui orang tuanya. Pada saat meminta izin kepada Bendoro, Gadis Pantai diijinkan dengan syarat diantar oleh Mardinah.

Tentu pada awalnya, Gadis Pantai menolak. Namun apalah arti perempuan yang melawan kepada Bendoro. Di rumah tersebut, tidak ada yang boleh melawan Bendoro.

Gadis Pantai kembali ke kampung halaman disambut oleh orang kampung. Kemudian singkat cerita, Gadis Pantai mendapatkan sikap yang berbeda dari orang-orang di sekitar kampungnya. Hal ini terjadi karena Gadis Pantai sudah menjadi istri seorang pembesar.

Yang membuat saya mengerutkan dahi dalam kisah ini adalah ketika Gadis Pantai melahirkan anak dari Bendoro, Gadis Pantai diceraikan begitu saja oleh Bendoro.

Belum juga bayi itu menghisap air susu dengan cukup. Gadis Pantai ketika sudah diceraikan juga harus meninggalkan bayinya di rumah pembesar itu.

Inilah yang kesadaran membuat Gadis Pantai sadar bahwasanya dirinya hanya menjadi istri percobaan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati seorang ibu yang ketika melahirkan malah disuruh pergi dari rumah kemudian bayinya tidak diperkenankan dibawa.

Akhirnya hancur sudah perasaan Gadis Pantai. Dia merasa tidak ada gunanya lagi hidup.   

Baca Juga  Syair Yatim Mustafa: Romansa Penuh Intrik dan Drama

Kata-Kata Mutiara dalam Novel Gadis Pantai

Dalam Novelini, pembaca juga akan menemukan kata-kata di dalam cerita yang penuh dengan makna filosofis khas Pramoedya Ananta Toer. Di antaranya terdapat sebagai berikut:

  • “Kemalasan adalah barang paling aneh di kampung.. (Hal. 198).
  • “Memang gede-gedenya bedug
    Obral amanat muluk-muluk
    Di depan khalayak beralim-alim
    Debelakang paling lalim… (Hal. 201).
  • “Waktu anaknya bunting, dia mencabut hidup-hidup kaki kepiting, sehingga kaki tanganya lumpuh tidak bekerja… (Hal. 202)
  • “Ia ingin berdoa pada Tuhan, mengadu tentang ketidakadilan yang dirasai, tapi ia tak mampu melakukanya… (Hal. 249).

Narasi-narasi di atas tidak lengkap rasanya jika kita tidak membaca buku ini secara utuh. Maka dari itu, segera lengkapi rak buku kita dengan buku yang satu ini jika belum tersedia sebebelumnya,

Secara keseluruhan, novel Gadis Pantai ini sangat recomennded bagi semua kalangan. Karena selain menceritakan tentang kisah roman, buku ini juga mengkisahkan bagaimana Roman ini juga menusuk feodalisme Jawa pada masa itu yang tak mempunyai adab dan jiwa kemanusiaan, seperti yang terdapat pada sinopsis di bagian sampul belakang buku.

Saya menyarankan ketika membaca buku ini sebaiknya sesegera mungkin untuk menyelesaikanya, karena pada setiap lembar pembaca akan dibawa pada beberapa kisah yang akan terjadi pada lembar selanjutnya yang tidak terduga.

Jika saran ini tidak diindahkan, maka akan mengalami hal seperti saya. Ketika berhenti karena adanya kesibukan membuat pertanyaan-pertanyaan disela-sela aktivitas duniawi.

Akhirnya, dengan mengucap Alhamdulillah, buku ini bisa memberikan saya pemahaman bagaimana sikap yang tidak seharusnya tertanam pada setiap pribadi manusia kepada manusia lainya.

Meskipun kita lebih unggul dari segi harta, namun itu bukan alasan untuk menempatkan harta di atas kemanusiaan. Mari kita membaca dan mulai merenung akan isi dari buku ini.

Editor: Yahya FR

Avatar
3 posts

About author
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Articles
Related posts
Resensi

Bagaimana Kebebasan Berfikir dalam Islam?

2 Mins read
Antara Iman dan Akal Bagaimana mendudukan iman dengan akal? Apakah akal terlebih dahulu? Atau akal terlebih dahulu? Saya sering sekali mendapati diskusi…
Resensi

Dilarang Mengutuk Hujan: Buku Penuh Esai Reflektif

4 Mins read
“Dilarang Mengutuk Hujan” begitulah Iqbal Aji Daryono melahirkan karya terbarunya. Dia seorang kolomnis esai di berbagai media ternama. Tulisan-tulisannya yang tersebar di…
Resensi

Francis Fukuyama Bicara Masalah Politik Identitas

3 Mins read
Buku Indentitas: Tuntutan atas Martabat dan Politik Kebencian Dunia modern telah membawa manusia pada peradaban yang sangat revolusioner seperti bagaimana dunia modernitas…

Tinggalkan Balasan