Orang Mukmin sebagai Penangkap Api Islam

 Orang Mukmin sebagai Penangkap Api Islam Ilustrasi: ibtimes.id            

Api Islam

Dan di dalam kata-kata yang kuucapkan terhadap kepada saudara-saudara, di Baitur Rahim itu saya berkata, bukan saja ini kehendak daripada agama kita Islam, bukan ini tidak sesuai—jikalau kita mengkeret—kataku, dengan Sunnah Nabi kita, nabi yang terkenal sebagai manusia yang gagah, bukan sombong, bukan kurang ajar.

Tetapi orang yang sigap, orang yang gagah, bukan itu kehendak daripada agama Islam untuk menjadi manusia-manusia yang mengkeret, tetapi juga negara Republik Indonesia ini diadakan untuk membentuk bangsa Indonesia itu bangsa yang tegak, tidakkah tadi kukatakan bahwa kita punya revolusi ini adalah “a summing up of many revolution in one generation”?

Ya revolusi nasional, ya revolusi politik, ya revolusi sosial, ya revolusi kultural, ya revolusi membentuk manusia baru Indonesia. Supaya manusia baru Indonesia ini adalah manusia-manusia yang badannya sigap. Supaya manusia baru Indonesia ini adalah manusia-manusia yang hidup cinta kepada kemerdekaan.

Supaya manusia baru Indonesia adalah manusia-manusia yang cukup sandang, cukup pangan. Supaya manusia baru Indonesia ini hidup di dalam satu masyarakat yang adil dan makmur. Oleh karena itu, tidak bersikap sebagai manusia yang mengemis, yang meminta-minta, yang merintih, yang menangis, tetapi yang manusia hidup di dalam masyarakat yang adil dan makmur, manusia yang hidup bisa menjalankan agamanya dengan seluas-luasnya dan sebaik-baiknya.

Oleh kehendak daripada Proklamasi 17 Agustus 1945, maka oleh karena itu saudara-saudara, pesan saya pada ini malam kepada saudara-saudara sekalian, “Ayolah! Mari kita mencoba berusaha menangkap api daripada Islam itu.” Sebab, hanya orang yang menangkap “api Islam” ini adalah orang yang mu’min.

Dan orang yang mu’min akan mendapat “falakh” daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang yang mu’min mengetahui pula akan apa yang menjadi tugas amanah daripada negaranya.

Baca Juga  K.H. Asnawi Hadisiswaya (1905-1961): Guru Pembelajar Penggerak Perubahan

Orang mu’min mengetahui bahwa ada mempunyai kewajiban untuk beramal, menjalankan segala sesuatunya yang harus diamalkan.

Mari saudara-saudara, kita memperingati Nuzulul Quran pada ini malam dalam semangat yang saya maksudkan itu tadi.

Sekian, assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sumber: “Al-Quran Pembentuk Manusia Baru: Amanah Paduka yang Mulia Presiden Soekarno di Istana Negara pada tanggal 17 Ramadhan 1380 H (6 Maret 1961),”penerbitan oleh Jawatan Penerangan Agama Departemen Agama 1961, ditulis dengan Bahasa Arab Melayu.

.

Penerjemah: Arif

.

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Mu'arif

Redaktur Suara Muhammadiyah yang Aktif mengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota MPI dan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah. Sedang menempuh studi doktoral UIN Sunan Kalijaga dan bergabung dalam program riset Humanitas Global Indonesia.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *