Pesan-pesan Etika dan Keadaban dalam Al-Hujurat

 Pesan-pesan Etika dan Keadaban dalam Al-Hujurat

Ilustrasi. Sumber : Baca.co.id

Surah al-Hujurat–sebagaimana ditegaskan di dua tulisan sebelumnya–memuat pesan yang kuat untuk orang yang beriman agar memiliki akhlak dan keadaban luhur. Pesan inti ini sebenarnya bertalian dengan kebutuhan menciptakan kehidupan masyarakat yang tercerahkan, damai, harmonis dan berperadaban tinggi.

Akhlak dan Keadaban dalam Al-Hujurat

Pesan untuk orang yang beriman adalah agar memiliki akhlak dan adab yang luhur. Termasuk dalam menyampaikan, mengelola, dan menyikapi informasi. Hal ini dapat dicermati dalam tema pokok surah al-Hujurat, tampak dimaksudkan untuk menghindarkan komunitas orang beriman dari situasi kehidupan bermasyarakat yang diwarnai fitnah, kebencian, kedengkian, prasangka buruk, perpecahan, permusuhan, dan pertikaian, yang akan menjauhkan manusia dari kebahagiaan dan kesejahteraan.

Masyarakat yang diterangi oleh cahaya keimanan menjunjung tinggi nilai persaudaraan, persatuan, perdamaian, keadilan, serta sikap saling menghargai dan menghormati. Karakter masyarakat yang menegakkan “kemanusiaan yang adil dan beradab” seperti itulah yang mesti menjadi konsekuensi dari tertanamnya keimanan dalam kehidupan masyarakat dan diraihnya kemenangan (fatḥ) oleh orang-orang yang beriman.

Keselamatan masyarakat dari bahaya kebencian, permusuhan dan perpecahan, terutama akibat akhlak buruk dalam penyampaian dan penyikapan informasi, terlihat jelas menjadi maksud atau tujuan dari edukasi moral di surah al-Hujurat. Ini misalnya tergambar dari ayat 6-7 serta sabab nuzulnya.

Kisah Zakat Bani Musthaliq

Allah Taala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ – وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bila datang kepadamu seorang fasik dengan membawa berita, maka selidikilah lebih dahulu (kebenaran berita itu), agar kalian jangan sampai mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan, sehingga kalian menjadi orang-orang yang menyesal atas apa yang kalian perbuat. Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kalian ada Rasulullah. Seumpama dia menuruti kalian dalam banyak hal, niscaya susahlah kalian. Akan tetapi, Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian.”

Latar belakang turunnya ayat ini adalah peristiwa diutusnya Walid bin ‘Uqbah oleh Rasulullah untuk menerima zakat dari warga kampung Bani Mushthaliq. Sayangnya, Walid memiliki dendam kepada warga desa tersebut. Dendam yang tertanam sejak zaman sebelum ia masuk Islam.

Baca Juga  Tingkatan Alquran dan Wahyu

Kedatangan Walid di kampung itu disongsong oleh segenap penduduk dengan upacara barisan penghormatan. Namun, karena Walid sudah lebih dahulu mempunyai benih ketakutan, maka sambutan mereka itu disangkanya lain. Ia mengira para warga akan membunuhnya. Sehingga, dengan segera ia melarikan diri, sebelum sempat bertemu dengan orang-orang yang dituju. Setiba di Madinah, ia melaporkan kepada Nabi bahwa dirinya terancam oleh penduduk Bani Mushthaliq.

Mendapat laporan demikian, Rasulullah seketika bertitah supaya menyiapkan balatentara untuk menundukkan Bani Mushthaliq. Akan tetapi, sebelum pasukan sempat berangkat, timbullah di hati Rasulullah keraguan atas kebenaran laporan itu. Maka, segera diutuslah Khalid bin Walid untuk menyelidiki benar tidaknya pengaduan Walid bin ‘Uqbah.

Sesampai di desa Bani Mushthaliq, Khalid bin Walid diterima dan disambut dengan gembira penuh kehormatan. Karena memang kedatangan utusan Rasulullah sudah sangat dinanti-nanti oleh para warga.

Pembentukan Masyarakat Berkeadaban

K.H. Mas Mansur (1939) mengomentari sebab turun ayat ini dengan menyatakan, “teranglah bahwa iman itu syarat terpokok di dalam keselamatan dan kebahagiaan masyarakat, karena iman itu adalah sesuatu pintu yang kokoh untuk menutup rapat terjadinya fitnah yang sering kali mengalirkan bahaya kepada masyarakat, mendatangkan perpecahbelahan, permusuhan, dan lain-lainnya.”

Sebagai wahyu Madaniyah, surah al-Hujurat tampak berorientasi pada pembentukan masyarakat yang berkeadaban di atas landasan keimanan yang kuat. Kokohnya iman adalah kunci bagi keadaban dalam bermasyarakat. Pada sisi lain, masalah iman sendiri telah menjadi tema banyak wahyu Makkiyah, sehingga sangat tampak bahwa keadaban bermasyarakat menjadi tagihan pembuktian iman yang perlu direalisasikan oleh orang-orang yang telah beriman.

Dengan demikian, surah al-Hujurat mengisyaratkan pesan yang amat penting bahwa keimanan harus memberi pengaruh nyata pada kehidupan sosial, sekaligus bahwa kehidupan bermasyarakat itu perlu dibangun di atas landasan keimanan yang mantap agar menghasilkan masyarakat yang benar-benar beradab.

Baca Juga  Islam Memandang "Kaum Lemah"

Keadaban dalam masyarakat itu sendiri adalah dalam rangka menjaga persatuan–yaitu persatuan di atas dasar akidah. Akhir surah al-Fath, yang terletak sebelum al-Hujurat, menguraikan sifat umat pengikut Nabi Muhammad, yang bersikap keras kepada orang-orang yang sangat ingkar, dan berkasih sayang (ruḥamâ’) di antara sesama orang beriman.

Orang-orang beriman bersatu dalam bingkai akidah, sehingga untuk menjaga persatuan atau kasih sayang ini, diterangkanlah di surah al-Hujurat peraturan dan etika apa saja yang diperlukan untuk menjamin ketertiban hidup yang menjadi syarat adanya persatuan. Sebagaimana nanti kita coba lihat, persatuan ini sangat bergantung pada adanya sikap yang tepat terhadap informasi dan dalam berkomunikasi.

Wallahu a‘lam.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Izza Rohman

Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *