IBTimes.ID – Komitmen menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang unggul terus diperkuat di lingkungan Persyarikatan. Pesantren Muhammadiyah menjadi fokus penguatan melalui kegiatan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Banjarnegara (PUSDAMU), Senin (3/8/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan pengelola pesantren dari Banjarnegara, Wonosobo, dan Purbalingga untuk memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan mutu pembelajaran Dirasah Islamiyah, serta membangun budaya kualitas yang berkelanjutan.
Sebelas Pesantren Muhammadiyah di Banjarnegara mengikuti kegiatan ini bersama perwakilan pesantren dari Wonosobo dan Purbalingga, unsur PDM Banjarnegara, serta akademisi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA).
Ketua LP2 PDM Banjarnegara, Drs. A. Saifudin Zuhri, M.Pd., menjelaskan pembinaan difokuskan pada penjaminan mutu melalui akreditasi, penguatan branding pesantren melalui media sosial, sosialisasi Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) UHAMKA, pelatihan metodologi pembelajaran hadis, hingga penerapan Cooperative Learning berbasis Outcome Based Education (OBE).
“Ikutilah kegiatan ini hingga selesai. Semoga ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk memajukan pesantren Muhammadiyah agar semakin berkualitas dan mampu menjawab tantangan zaman,” pesannya.
Selain itu, peserta juga mendapatkan apresiasi atas capaian sejumlah pesantren, termasuk MBS Wanayasa yang berhasil meraih peringkat kedua Terbaik Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat Kabupaten Banjarnegara.
Bangun Budaya Mutu dan Siapkan Pesantren Masa Depan
Ketua PDM Banjarnegara, Drs. H. Sobri, menekankan bahwa pesantren harus memperkuat penguasaan bahasa Arab sebagai kunci memahami ajaran Islam secara utuh. Ia juga mengingatkan pentingnya metode pembelajaran yang efektif.
Mengutip firman Allah QS Al-A’raf ayat 204, “Fastami’u lahu wa anshitu” (maka dengarkanlah dan diamlah), H. Sobri menjelaskan bahwa umat Islam tidak cukup hanya mampu membaca teks Arab, tetapi juga harus memahami makna dan kandungannya secara mendalam.
Ia juga mengutip kaidah pendidikan Arab, “Ath-thariqah ahammu minal maddah” (metode lebih penting daripada materi). Menurutnya, keberhasilan pembelajaran bahasa Arab sangat ditentukan oleh metode yang digunakan.
Sementara itu, Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. Masykuri, M.Ed., menegaskan bahwa tantangan terbesar pesantren saat ini bukan hanya memperbanyak jumlah lembaga, tetapi memastikan seluruh pesantren memiliki mutu yang terjaga melalui penguatan sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan.
“Pesantren Muhammadiyah harus mampu menyiapkan lembaga pendidikan masa depan. Selain Trensains, kita juga perlu mengembangkan pesantren berbasis eco-sains dan teknologi sehingga lahir kader Muhammadiyah yang memahami agama sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan LP2 PP Muhammadiyah telah mengembangkan sistem audit mutu yang menilai kualitas lulusan, kompetensi guru dan ustaz, kurikulum, hingga administrasi kelembagaan. Menurutnya, audit mutu menjadi bagian dari komitmen membangun pesantren yang profesional dan dipercaya masyarakat.
Menutup pemaparannya, Dr. Masykuri mengajak seluruh pengelola untuk menjadikan budaya mutu sebagai bagian dari identitas Pesantren Muhammadiyah.
“Kesadaran terhadap kualitas harus tumbuh dari diri kita sendiri. Islam Berkemajuan adalah amanah besar yang harus diwujudkan melalui kerja keras, inovasi, dan komitmen untuk menghadirkan pesantren Muhammadiyah yang unggul serta berdaya saing,” pungkasnya. (NS)


