Post Khilafah dan Post Humanity

 Post Khilafah dan Post Humanity Ilustrasi: Pandasurya’s Review            

Siapa sangka, teknologi gadget telah mengubah peta dunia dalam satu genggaman—dunia dalam satu perintah, dua kata yang sangat sakral, bukan sabda dari kitab suci, tapi kata : ‘terpasang’ dan ‘terhubung.’ Pada era inilah ‘khilafah’ diuji dan dipertaruhkan.

Dunia Baru

Dua jenis perkembangan sains dan teknologi—rekayasa genetik, biologi-quantum; dan teknologi-nano—diyakini telah menciptakan lompatan revolusioner berskala peradaban, sehingga memungkinkan tubuh manusia dan lingkungan-dunianya diredesain. Teknologi-teknologi mutakhir itu diyakini bisa membuat manusia mencapai umur ratusan hingga ribuan tahun, bahkan selama-lamanya. Di sebuah dunia baru yang juga akan didesain ulang oleh teknologi.

Buku-buku sains populer mutakhir sangat optimistik menceritakan bagaimana ‘kecerdasan buatan’ (AI, artificial intelligence) memungkinkan dunia sepenuhnya dikuasai komputer. Diperkirakan tinggal beberapa puluh tahun saja lagi percepatan perkembangan teknologi akan mencapai titik singularitas. Fase ketika jagad raya bisa dikontrol sepenuhnya oleh manusia-komputer yang sangat cerdas dan sudah menjadi imortal. Jenis manusia dengan kecerdasan-komputer itulah yang bakal menguasai dan mengatur jagad raya. Itulah yang disebut zaman ‘pasca-manusia.’

Digagas dan dipopulerkan oleh Ray Kurzweil, seorang utopianis yang meyakini bahwa titik singularitas itu akan terjadi pada tahun 2045. Manusia mampu melewati titik singularitas akan memperoleh manfaat sains dan teknologi untuk hidup abadi dengan tubuh yang tak tersentuh kematian—dikutip dari AE Priyono.

Jika khilafah dimaknai sebagai satunya tatanan, satunya perintah, New Order yang disebut ‘Kerajaan Tuhan’ tidak mengenal batas wilayah dan ruang, maka sesunguhnya sains pun juga sedang menyiapkan datangnya ‘khilafah artificial intelligence’ dengan bentuk dan perangkat yang berbeda.

Khilafah mendesakkan tegaknya seperangkat aturan yang disebut syariat dalam satu perinta—yang ‘terpasang’ dan ‘terhubung’ sehingga semua makhkuk di bumi mentaati syariat itu tanpa kecuali—yang berbeda mungkin saja adalah pada ‘konten.’ Perintah-perintah itu diisi apa dan oleh siapa yang berhak dan berkewenangan mengisi sebagai otoritas mutlak (absolut-order).

Baca Juga  Penyempitan dan Perluasan Pemahaman Agama: Gagasan Abdul Karem Soroush

Lantas, bagaimana dengan masa depan kemanusian itu? Apakah klaim semacam itu cukup meyakinkan? Banyak orang yang menilai, diskursus Kurzweilian sesungguhnya didasarkan pada ideologi ‘anti-manusia.’

Tantangan Khilafah

Khilafah dalam tantangan besar—bukan hanya karena diperdebatkan secara internal, tapi juga perlawanan sains eskatologi humanitas. Tapi di situlah menariknya. Bukankah manusia ditakdirkan untuk ‘menunggu.’ ‘Menunggu.’ Dan ‘menunggu’ itu selalu misteri—termasuk menunggu datangnya mati. Juga menunggu datangnya Imam Mahdi yang memimpin khilafah, atau menunggu datangnya kiamat.

Sikap oposisional yang keras terhadap diskursus Kurzwelian ini dikemukakan antara lain oleh Charles T. Rubin dalam bukunya, Eclipse of Man. Ironisnya, manusia suka pada rentang itu. Diana Schaub menilai, aspirasi radikal tentang ‘trans-humanisme’ ala Kurzweil untuk menciptakan masa depan dunia yang ‘beyond-human,’ adalah sebuah gagasan nihilistik untuk mempercepat kepunahan manusia.

Lantas, di manakah gagasan khilafah tegak?

Editor: Arif & Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Ust. Nurbani Yusuf

Komunitas Padang Mahsyar, Batu, Jawa Timur

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *