Nafsiyah

Karya Sastra Ulama (4): Tiga Bagian Puisi Gus Mus

5 Mins read

Doa yang dibacakan Menteri Agama pada peringatan HUT RI ke-76 lalu, sebagaimana sudah disebutkan di serial awal tulisan ini, merupakan puisi Gus Mus yang bisa kita jadikan contoh teranyar.

Dari puisi itu, kita bisa menemukan berbagai lapisan muatan yang dikandungnya dan karena itu pula puisi ini tak sebatas kumpulan permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta tetapi sehimpun percik permenungan yang berharga untuk dipikirkan oleh umat beragama di Indonesia.

Di bawah ini, saya salin puisi-doa tersebut secara utuh. Dari karya ini, kita bisa mendapat begitu banyak lapisan-lapisan muatan. Namun, saya hanya akan mencoba menunjukkan beberapa kemungkinan yang bisa kita raih.

Tiga Bagian Puisi

Saya mencoba membagi puisi-doa ini menjadi tiga bagian untuk menunjukkan setidaknya tiga lapisan muatan yang dikandungnya.

Dalam tahap pembacaan selanjutnya, saya percaya, pembaca bakal mendapatkan lapisan-lapisan makna yang beragam.

Bagian Pertama Puisi Gus Mus

Pada bagian pertama, Gus Mus menegaskan soal makna Sang Pencipta sebagai Keindahan Tertinggi sekaligus sebagai Sumber Keindahan itu sendiri.

Dengan begitu, segala yang kita miliki bersama, seperti negeri yang merdeka dan bangsa yang hidup bersama ini, hanyalah percikan dari Keindahan Tertinggi.

Sekagum-kagum dan seharu-harunya kita pada keindahan alam, kepermaian negeri, dan kebersamaan hidup, semua itu bukanlah puncak tertinggi dari apa pun yang disebut indah.

[BAGIAN I]

Ya Allah, ya Tuhan kami. Wahai Keindahan yang menciptakan sendiri segala yang indah. Wahai Pencipta yang melimpahkan sendiri segala anugrah. Wahai Maha pemurah yang telah menganugerahi kami negeri sangat indah dan bangsa yang menyukai keindahan. Ya Allah, yang telah memberi kami kemerdekaan yang indah. Demi nama-nama agungmu yang Maha Indah. Demi sifat-sifat suci-Mu yang Maha Indah. Demi ciptaan-ciptaan-Mu yang serba indah. Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami dan bangsa kami kepekaan menangkap dan mensyukuri keindahan anugerah-Mu.

Selanjutnya, dari penggalan di atas, kita bisa menemukan bahwa setelah mengetengahkan konsep Keindahan Tertinggi, Gus Mus kemudian menuliskan permohonan kepada Sang Keindahan itu sendiri.

Namun, permohonan itu tidak sekadar permohonan. Di dalamnya juga terkandung suatu makna ideal dari seorang pemimpin. Kita dapat menemukan makna tersirat bahwa pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang menggunakan kekuasaannya untuk menjaga keindahan di dunia agar tetap terhubung dengan Keindahan Tertinggi.

Baca Juga  Potret Pembelajaran Islam di Rusia

Keindahan di dunia tidak boleh terputus dari Keindahan Tertinggi. Keindahan di dunia yang terputus dari Keindahan Tertinggi akan menjadi keindahan yang menghancurkan.

Bagian Kedua Puisi Gus Mus

Apa itu keindahan di dunia? Di bagian kedua puisi-doa Gus Mus, seperti di bawah ini, Gus Mus menyampaikan konsepsinya tentang keindahan di dunia. Dari larik-larik puisi-doanya, kita mendapat pemahaman bahwa dasar utama dari keindahan dunia adalah sikap hidup dan perilaku manusia.

Keindahan itu tidak cuma apa yang sudah disediakan Sang Pencipta (alam, nature) sebagaimana selama ini sering kita pahami, tetapi juga mesti dibangun dari cara hidup manusia itu sendiri (budaya, culture).

Jadi, keindahan dunia merupakan suatu harmonisasi antara keindahan alam dan keindahan perilaku manusia.

[BAGIAN II]

Keindahan merdeka dan kemerdekaan keindahan hidup dan kehidupan. Keindahan manusia dan kemanusiaan. Keindahan kerja dan pekerjaan. Keindahan sederhana dan kesederhanaan. Keindahan kasih sayang dan saling menyayang. Keindahan kebijaksanaan dan keadilan. Keindahan rasa malu dan tahu diri. Keindahan hak dan kerendahan hati. Keindahan tanggung jawab dan harga diri. Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami dan bangsa kami. Kemampuan mensyukuri nikmat anugerah-Mu dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridhai. Selamatkanlah jiwa-jiwa kami dari noda-noda yang mencoreng keindahan martabat kami. Pimpinlah kami, pemimpin-pemimpin kami dan bangsa kami ke jalan indah menuju cita-cita indah kemerdekaan kami kuatkanlah lahir batin kami untuk melawan godaan keindahan-keindahan imitasi yang menyeret diri-diri kami dari keindahan sejati kemanusiaan dan kemerdekaan kami. Merdekakanlah kami dari belenggu penjajahan apa saja selain Allah. Termasuk penjajahan diri kami sendiri. Kokohkanlah jiwa raga kami untuk menjaga keindahan negeri kami. Yaa Maalik al-Mulk yaa Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur. Jangan kuasakan atas kami, karena dosa-dosa kami, penguasa-penguasa yang tak takut kepada-Mu dan tak mempunyai belas kasihan kepada kami.

***

Bila di separuh awal penggalan bagian dua di atas berisikan konsepsi tentang keindahan dunia, maka di separuh akhirnya berisikan permohonan-permohonan kepada Sang Pencipta agar kita sebagai umat manusia ini diberi kekuatan agar tetap bisa menjaga keindahan dunia.

Baca Juga  Karya Sastra Ulama (2): Kenapa Ulama Perlu Menulis Karya Sastra?

Namun, sebagaimana bagian pertama, permohonan di bagian kedua ini  tidak sekadar permohonan belaka. Gus Mus juga menyuratkan kepada kita perihal sesuatu yang ia sebut sebagai “keindahan imitasi”.

Apa itu keindahan imitasi? Bila kita rujuk kembali ke konsepsi keindahan sebelumnya, maka sangat jelas bahwa keindahan imitasi adalah keindahan yang tidak membangun harmonisasi antara manusia-alam dan keindahan dunia yang tidak terkoneksi dengan Keindahan Tertinggi.

Gus Mus memberikan contohnya, yaitu “keindahan yang jauh dari kemanusiaan dan kemerdekaan” dan “keindahan yang mengandung belenggu penjajahan”, serta “keindahan yang dibawa oleh penguasa yang tak takut kepada Tuhan serta tak berbelas kasihan kepada rakyat”.

Dengan kata lain, segala keindahan yang merusak tatanan harmonis manusia-alam dan memutuskan koneksi dengan keindahan Tertinggi adalah keindahan imitasi.

Bagian Ketiga Puisi Gus Mus

Kini kita masuk ke bagian tiga sebagai bagian akhir dari puisi-doa ini. Pada dua bagian sebelumnya kita menemukan dua pokok isi, yakni konsepsi tentang keindahan [dengan huruf kecil] dan keindahan [dengan huruf besar] dan permohonan agar kita selalu berada dalam makna ideal dari keindahan tersebut. Di bagian terakhir ini kita menemukan permohonan, sebagaimana dapat dibaca berikut ini:


[BAGIAN III]

Yaa Nuur, wahai cahaya di atas segala cahaya. Pancarkanlah cahaya-Mu di mata dan pandangan kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di telinga dan pendengaran kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di mulut dan perkataan kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di hati dan keyakinan kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di pikiran dan sikap kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di kanan dan kiri kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di atas dan bawah kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di dalam diri kami. Pancarkanlah cahaya-Mu yaa Maha Cahaya! Agar kami dapat menangkap ciptaan-Mu dan meresapinya. Dapat menangkap keindahan anugerah-Mu dan mensyukurinya. Dapat menangkap keburukan jalan sesat setan dan menghindarinya. Pancarkanlah cahaya-Mu yaa Maha Cahaya! Agar kami dapat menangkap keindahan kebenaran dan mengikutinya. Dapat menangkap keburukan kebatilan dan menjauhinya. Agar kami dapat menangkap kejujuran dan menyerapnya. Dapat menangkap keburukan kebohongan dan mewaspadainya. Pancarkan Cahaya-Mu yaa Maha Cahaya. Sirnakan dan jangan siksakan, jangan sisakan sekelumit pun kegelapan ke batin kami. Yaa Maha Cahaya Yaa Maha Cahaya di atas segala cahaya. Jangan biarkan sirik dan dengki, ujub dan takabur, keji dan nekat, kejam dan serakah, dusta dan kemunafikan, gila dunia dan memuja diri, lupa akherat dan takut mati, serta bayang-bayang hitam lainnya menutup pandangan mata batin kami dari keindahan wajah-Mu. Menghalangi kami mendapatkan Kasih-Mu. Menghambat sampai kami kepada-Mu. Yaa Allah, kami berdoa dengan menyebut nama-nama indah-Mu seperti yang engkau perintahkan. Maka kabulkanlah doa kami. Seperti yang Engkau janjikan dan ampunilah yaa Allah, segala dosa dan kekhilafan kami. Amin.

***

Permohonan di bagian ketiga ini bukanlah pemohohan yang terpisah dari dua bagian sebelumnya. Di bagian sebelumnya terdapat begitu banyak pemaknaan tentang keindahan.

Baca Juga  Sastra dan Simbolisme Agama: Narasi Dakwah Termutakhir

Sementara itu di bagian ini berfokus pada cahaya [dengan huruf kecil] dan Cahaya [dengan huruf besar].

Mengapa bagian ketiga ini ditutup dengan pemaknaan Tuhan sebagai Cahaya Maha Cahaya dan apa hubungannya dengan pemaknaan Tuhan sebagai Keindahan Tertinggi?

Ikhtiar manusia untuk menciptakan harmoni antara alam dan perilaku hidup (demi terciptanya keindahan dunia) bukanlah perkara yang gampang, apalagi menjaga koneksi keindahan dunai dan Keindahan Tertinggi.

Dengan suatu dan lain cara, selalu ada tantangan yang bakal dihadapi umat manusia. Salah satu tantangan terbesarnya, sebagaimana disebutkan tadi, adalah “keindahan imitasi”, keindahan yang palsu.

Manusia membutuhkan kepekaan hati dan pikiran yang tinggi untuk bisa membedakan keindahan murni dan keindahan imitasi. Dalam konteks itulah, sebagaimana permohonan di bagian tiga di atas, manusia sangat memutuhkan pertolongan Tuhan, Sang Cahaya Maha Cahaya.

Hanya dengan Cahaya Maha Cahaya-lah manusia bisa mendapatkan kekuatan untuk tidak terperdaya oleh keindahan imitasi. Dan karena Cahaya Maha Cahaya-lah umat manusia mendapatkan kekuatan spiritual untuk menjaga keindahan dunia tetap terkoneksi dengan Keindahan Tertinggi.

Bagaimana pun juga, sebagaimana disiratkan dalam puisi-doa di atas, di sebalik keindahan imitasi selalu terkandung “sirik dan dengki, ujub dan takabur, keji dan nekat, kejam dan serakah, dusta dan kemunafikan, gila dunia dan memuja diri, lupa akherat dan takut mati, serta bayang-bayang hitam lainnya.” Tanpa pancaran Cahaya Maha Cahaya, kita akan melihat “keindahan imitasi” sebagai “keindahan murni”. Nauzubillahiminzalik.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
5 posts

About author
Heru Joni Putra lahir 13 Oktober 1990 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Lulusan Sastra Inggris FIB Universitas Andalas dan Cultural Studies FIB Universitas Indonesia. Buku pertamanya berjudul Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017) beroleh penghargaan sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah TEMPO 2018 serta Wisran Hadi Award 2019 dan telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh George A Fowler dengan judul Will Badrul Mustafa Never Die: Verse from the Front (2020). Tahun 2019 ia mengikuti Residensi Penulis di Bristol (UK) atas dukungan Komite Buku Nasional. Buku terbarunya berjudul Suara yang Lebih Keras: Catatan dari Makam Tan Malaka (2021). Ia kini tinggal dan bekerja di Jogjakarta serta bisa dihubungi via IG @heru.joniputra |
Articles
Related posts
Nafsiyah

Islam: Melebur dalam Seni dan Budaya Indonesia

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Islam Budaya | Indonesia dengan puluhan ribu pulau dari Sabang sampai Merauke memiliki beragam budaya dan adat…
Nafsiyah

Empat Penyebab Intoleransi kepada Minoritas

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia sering kali dilanda oleh berbagai macam fenomena keagamaan, terutama pada umat Muslim….
Nafsiyah

Potret Pembelajaran Islam di Rusia

1 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Dilansir dari World Population Review, jumlah pemeluk agama Islam di muka bumi ini pada tahun 2020 yakni…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *