Beranda Feature Inspiring Sejak Kapan Muhammadiyah Shalat Id di Lapangan?

Sejak Kapan Muhammadiyah Shalat Id di Lapangan?

Oleh: Mu’arif

Praktik penyelenggaraan Shalat Id di tanah lapangan yang sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah hingga kini tidak ditemukan dalam rekam jejak kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, sejak kapan Muhammadiyah mempraktikkan penyelenggaraan Shalat Id di tanah lapangan?

Memang sulit untuk menjawabnya. Tapi sebagai fakta historis, sesulit apapun pertanyaan ini tentu tersedia jawabannya, sekalipun mungkin masih perlu diverifikasi kembali. Hasil penelusuran beberapa dokumentasi Muhammadiyah periode awal memang tidak menemukan indikasi, apalagi bukti, bahwa praktik penyelenggaraan Shalat Id di tanah lapangan pada masa K.H. Ahmad Dahlan, tetapi pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim.

Sampai sejauh ini, sumber-sumber primer maupun sekunder yang memuat informasi praktik penyelenggaraan Shalat Id di tanah lapangan pada masa K.H. Ahmad Dahlan belum ditemukan.

Dalam artikel ”Agama Islam” yang ditulis langsung oleh K.H. Ahmad Dahlan di majalah Soewara Moehammadijahno. 2 tahun 1915 tidak ditemukan penjelasan praktik Shalat Id di tanah lapangan. Begitu juga artikel ”HARI-RAIA” yang ditulis oleh Junus Anis di majalahSoewara Moehammadijah(edisi no. 5 & 6 th. 1923) tidak menyebutkan indikasi tentang pelaksanaan Shalat Id di tanah lapangan. Termasuk sumber sekunder riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan yang ditulis oleh Junus Salam (2009) juga tidak ditemukan penjelasan praktik Shalat Id di lapangan.

Ketika menyebut tentang Shalat Id, dalam artikelnya, K.H. Ahmad Dahlan memaparkan: ”Sunat ’Ainitu, seperti: Shalat Hari Raya dua (Hari Raya Haji dan Hari Raya Fitri), dan Shalat Gerhana ada dua (gerhana matahari dan bulan)…” (lihat Soewara Moehamamdijahno. 2 th. 1915).

Sedangkan Yunus Anis ketika menulis artikel ”HARI-RAIA” tidak menyinggung sama sekali pelaksanaan Shalat Id di tanah lapangan. Berikut saya kutip sepenggal tulisannya: ”Ketika terbit MATAHARI-RAIA, jang ditoenggoe-toenggoe oleh segenap kaoem Moeslimin dari moelai petang hari, bergilang-goemilanglah mereka itoe dari senang dan girang dari moelai tjahaja sinarnja menerangi Doenia Islam. Karena telah selesih dan tjoekoep bolehnja mendjoendjoeng beban kewajiban jang diperintahkannja oleh Toehan Allah Jang Maha Koeasa jang akan memberi anoegerah dan pahla bagai di Doenia dan Acherat…”

Penelusuran dokumentasi Muhammadiyah yang memuat informasi tentang praktik penyelenggaraan Shalat Id di tanah lapangan mulai menemukan kejelasan ketika dalam Almanak Muhammadiyah 1394 H/1974 Mterdapat tulisan kronik peristiwa dengan judul ”Peristiwa-peristiwa Bersejarah dalam Muhammadiyah” yang ditulis oleh H. Surono W. Dengan sangat kreatif, Surono menginventaris peristiwa-peristiwa berdasarkan urutan tahun, dimulai dari tahun 1918 hingga 1971. Pada tahun 1926, Surono menulis peristiwa ”SHALAT ’IED DI TANAH LAPANG: Kongres ke-15 di Yogya memutuskan: menjalankan Sholat ’Ied di tanah-tanah lapang” (lihat Almanak Muhammadiyah1394 H/1974 M: 19). Informasi seputar awal pelaksanaan Shalat Id di tanah lapangan dalam sejarah Muhammadiyah ’hampir’ menemukan titik terang.

Kenapa hampir? Bukankan sudah jelas dan tegas kronik yang disusun oleh Surono itu? Kita janganlah gegabah menerima dan langsung mencerna data sejarah tanpa proses verifikasi. Kekuatan sejarah terdapat pada bagaimana suatu sumber diverifikasi secara ketat sehingga menjadi data yang valid.

Berdasarkan sumber Surono (1974), sangat jelas disebutkan dua jenis data: pertama, Kongres ke-15 di Yogya. Kedua, keputusan kongres tentang pelaksanaan shalat Id di tanah lapang. Jika dianalisis kedua data tersebut menggunakan sumber-sumber sejarah yang lain, maka ditemukan hubungan yang tidak singkron antara keduanya. Terutama karena data pertama tidak sesuai dengan data kronologi peristiwa kongres-kongres Muhammadiyah yang disusun oleh Djarnawi Hadikusuma (1977).

Kongres Muhammadiyah ke-15 yang diselenggarakan pada tahun 1926 sudah benar, tetapi tempat pelaksanaannya tidak di Yogyakarta—merujuk sumber Surono, tetapi di Surabaya—merujuk sumber Djarnawi Hadikusuma. Kongres Muhammadiyah ke-15 pada tahun 1926 di Surabaya diselenggarakan pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim.

Dengan demikian, sejarah pertama kali Shalat Id di tanah lapangan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah pada tahun 1926, melalui keputusan Kongres ke-15 di Surabaya, pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim.

*Penulis adalah Pengkaji Sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah

4 KOMENTAR

  1. Kaji lebih dlm sejarah mulai sholat ditanah lapang.lapAsri salah satu tempat yg disebut sebagai tempat pertama sholat dilapangan.

  2. saya kelahiran 1973, dan kakak saya yang sulu kelahiran 1953 menceritakan klo semasa kecilnya dulu sudah sholat ied di tanah lapang ….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Antropologi Islam: Pendekatan Talal Asad

Muhamad Rofiq* Diskusi tentang bagaimana mengkonseptualisasikan Islam sebagai obyek penelitian (the object of inquiry) telah banyak menyita perhatian para pengkaji Islam dari luar (outsider). Pertanyaan...

Prabowo dan Sandiaga Imbau Pendukungnya Tak Kerahkan Massa ke MK

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengimbau pendukungnya untuk tidak mengerahkan massa dalam jumlah besar ke Mahkamah Konstitusi (MK) saat persidangan sengketa pemilihan presiden nanti....

Bapakku dan Pak Wakidi: Praktik Nahi Munkar dengan Amar Ma’ruf

Oleh : Ahmad Muttaqin Alim*   Saya tumbuh di sebuah kampung abangan. Jauh sebelum saya lahir dan bertempat tinggal di situ, tingkat keabangan kampung itu cukup...

Jangan Bikin Susah Muhammadiyah

Oleh : Nurbani Yusuf*   Nomor baku Muhammadiyah sudah saya dapatkan sejak dari kakek buyut saya---meski saya juga tak tahu kegunaannya dari kartu ini. ^^ Masuk menjadi anggota...

Sejarah Metode Hisab Muhammadiyah

Oleh Mu’arif Penentuan hilal Ramadhan maupun Idul Fitri dan Idul Adha menggunakan metode hisabmerupakan tradisi praktik keagamaan peninggalan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri dan Presidentpertama Hoofdbestuur(HB)...