Tulisan ini semacam tanggapan atas polemik yang terjadi di media sosial mengenai Muhammadiyah dan Salafi. Beberapa waktu ini muncul banyak tulisan yang membahas eksistensi salafi dalam tubuh persyarikatan. Termasuk penulis sendiri menulis artikel yang ternyata dibaca 12.000 warganet dan menyebar di Whatsapp.

Tulisan Membentengi Muhammadiyah dari Paham Salafi ditulis dengan spirit objektivitas bukan sentimen kebencian. Buktinya, dalam tulisan tersebut, Muhammadiyah sebagai pihak yang dibela tak luput juga dari otokritik. Begitupun dengan tulisan yang muncul setelahnya dari alumni PUTM saudara Niki Alma dan Ilham Ibrahim.

Hal tersebut hanya akan terlihat jika tulisan tersebut dibaca dengan jernih, bukan dengan ‘ain sukht atau pandangan kebencian. Jika kita sudah terlanjur tidak suka dengan penulis, atau terlanjur curiga dengan isi tulisan, maka responnya pasti negatif. Penulis berpegang teguh terhadap QS. Al-Maidah : 8 yang berisi larangan agar ketidaksukaanmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak objektif.

Selanjutnya ada yang menganggap masifnya perkembangan salafi di Muhammadiyah hanyalah isu yang dibesar-besarkan. Menanggapi hal ini, penulis mengajak untuk mengamati media sosial. Penulis menemukan beberapa kali fanpage resmi persyarikatan Muhammadiyah memposting fatwa tarjih. Lalu di kolom komentar netizen memposting ulang situs salafi berisi fatwa salafi.

Penulis juga menerima laporan di grup whatsapp dari kader di beberapa daerah bahwa banyak masjid Muhammadiyah yang “dikuasai” salafi. Tentu pengamatan medsos dan laporan di whatsapp tidak bisa dikatakan valid membuktikan perkembangan salafi di Muhammadiyah.

Namun dalam penelitian yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta tahun 2016, disebutkan bahwa banyak anak muda Muhammadiyah dan PERSIS yang tertarik dengan salafi.

Bukan Anti Salaf-Wahabi

Tanggapan selanjutnya adalah menuduh penulis sebagai anti wahabi, kemudian tuduhannya melebar kemana-mana. Padahal dalam tulisan tersebut penulis hanya menegaskan bahwa jika salafi mau harmonis dengan Muhammadiyah, tolong hargai dan hormati fatwa tarjih Muhammadiyah. Apakah pendapat seperti itu dikatakan anti wahabi?

Muhammadiyah suka atau tidak suka punya kesamaan dengan salafi, yakni soal purifikasi dalam akidah dan ibadah mahdah. Penulis tidak memungkiri hal ini dan menafikannya. Penulis tidak marah kalau disebut wahabi hanya karena tidak tahlilan.

Namun yang perlu disadari selain dimensi purifikasi, Muhammadiyah juga mengandung dimensi dinamisasi dalam perkara muamalah duniawiyah. Inilah konsep tajdid Muhammadiyah. Landasannya bisa kita temukan dalam himpunan putusan tarjih Muhammadiyah bab masalah lima. Di dalamnya diterangkan definisi agama dan perkara dunia.

Perkara agama adalah apa yang diturunkan Allah SWT dalam Alquran dan yang diteladankan Nabi Muhammad SAW dalam as-sunnah berupa perintah, larangan dan petunjuk guna kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Perkara dunia sebagaimana hadits antum a’lamu bi umuri dunyakum adalah hal-hal yang bukan menjadi tugas utama diutusnya Rasulullah SAW.

Itulah mengapa dalam matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah poin tiga dikatakan bahwa Muhammadiyah mengamalkan Islam berdasarkan Alquran dan sunnah dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam. Muhammadiyah memberi peran kepada akal pikiran dalam hal-hal yang bukan akidah dan ibadah mahdah.

Jati Diri Muhammadiyah

Maka dari itu jati diri kader Muhammadiyah adalah puritan dalam persoalan akidah dan ibadah mahdah. Namun fleksibel dalam persoalan sosial kemasyarakatan. Sebagaimana menurut kaidah yang populer, asal dari ibadah adalah terlarang kecuali ada perintahnya. Asal dari muamalah adalah mubah, kecuali ada larangannya.

Jangan aneh kalau dalam kegiatan Muhammadiyah ada paduan suara dengan musik atau penampilan tari-tarian perempuan (tentu saja berhijab dan menutup aurat). Bagi Muhammadiyah dua hal tersebut adalah Islami dalam rangka menggembirakan dakwah dan syiar Islam.

Jadi Muhammadiyah tidak anti wahabisme dalam spiritnya untuk pemurnian akidah dan ibadah mahdah. Namun Muhammadiyah mungkin tidak mengikuti ideologi wahabisme jika ingin memurnikan juga persoalan sosial kemasyarakatan ke zaman salaf. Bagi Muhammadiyah persoalan soslal kemasyarakatan adalah mengikuti perkembangan zaman dan berorientasi ke depan.

Muncul tanggapan bahwa membahas salafi di Muhammadiyah sama dengan mengulang-ulang perdebatan masa lalu. Kemudian Muhammadiyah seharusnya tidak membahas ini karena nanti tidak bisa lagi menjadi tenda besar bagi semua golongan seperti yang dikatakan Kang Moeslim Abdurrahman Allahu yarham.

Penulis mengakui memang polemik terkait hal ini bukan sesuatu yang baru di Muhammadiyah. Namun menurut penulis perkembangan teknologi informasi dan fenomena eskalasi religiusitas di kalangan anak muda hari ini belum ditemukan pada era sebelumnya. Maka membahas salafi dalam kaitannya dengan era youtube dan era hijrah menjadi aktual dan relevan hari ini, bukan mengulangi perdebatan lama.

Tentu seperti yang penulis tegaskan dalam tulisan sebelumnya, pembahasan ini bukan dalam rangka mencari musuh, namun dalam rangka melakukan konsolidasi organisasi agar bisa bersikap dengan tepat di tengah perkembangan yang terjadi hari ini. Muhammadiyah harus responsif terhadap dinamika sosial keagamaan yang terjadi. Polemik yang terjadi ini mari kita pandang positif sebagai respon untuk mencari solusi, bukan hanya ribut-ribut tidak jelas.

Muhammadiyah Sebagai Tenda Besar

Soal tenda besar umat Islam bagi penulis Muhammadiyah lebih dari itu. Di Kupang dan Sorong mayoritas mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah bukanlah umat Islam. Maka Muhammadiyah adalah tenda besar juga untuk non-Islam. Karena itu mari kita jaga tenda ini agar tetap bisa jadi tenda besar, jangan sampai karena kelalaian kita kemudian ada pihak yang melakukan infiltrasi lalu sang tenda akhirnya menjadi ekslusif dan sektarian.

Jika dalam polemik hari ini seolah kader Muhammadiyah yang menulis tentang salafi terlihat sektarian, namun justru kita ingin mencegah ekslusifisme dan sektarianisme itu muncul di dalam persyarikatan karena pengaruh dari luar. Jika ada ikhwan salafi yang silaturahim lalu saling memahami posisi Muhammadiyah dan salafi, kami akan senang sekali.

Sekali lagi yang kami permasalahkan bukan soal faham salafi, namun perilaku oknum salafi yang menjadikan warga Muhammadiyah sebagai objek dakwah, bukan partner dakwah. Perilaku oknum salafi yang menganggap bahwa Muhammadiyah hari ini kurang Islami dibanding mereka. Perilaku oknum salafi yang menganggap bahwa Muhammadiyah hari ini menyimpang, harusnya Muhammadiyah yang benar adalah ikut mereka. Oknum ini yang kita lawan!

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda