Siti Noordjannah Djohantini, Sang Aktivis Perdamaian Anak - IBTimes.ID
Ulama

Siti Noordjannah Djohantini, Sang Aktivis Perdamaian Anak

3 Mins read

Kontribusi ‘Aisyiyah bagi perkembangan generasi bangsa berdasar pada tiga pilar; iman, ilmu, amal. ‘Aisyiyah menguatkan pendidikan karakter melalui iman, ilmu, amal. Iman, ilmu, dan amal merupakan upaya pembangunan manusia yang berkarakter.

Dr. Siti Noordjannah Djohantini, MM., M.Si., dalam peringatan seabad TK ABA setahun silam, menyampaikan bahwa di saat Indonesia belum merdeka, Kiai dan Nyai Dahlan sudah mempelopori perjuangan lewat pendidikan. Mereka mengetahui bahwa pendidikan adalah alat perjuangan terbaik sekaligus pemberian terbaik untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Termasuk menyiapkan generasi penerus dengan menyelenggarakan pendidikan kepada anak usia dini. Dari situlah lahir TK ABA (Aisyiyah Bustanul Athfal).

Keberadaan TK ABA, lanjut Noordjannah, memberikan harapan akan kebangkitan masyarakat, terutama masyarakat di pelosok 3T. Seperti Papua dan khususnya Indonesia Timur. Dan saat ini setidaknya ada sekitar 20 ribu lembaga pendidikan anak usia dini dan sejenis yang dikelola Aisyiyah, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Perdamaian untuk Anak

Dalam International Meeting Peace With No Borders: Religion and Culture in Dialogue di Madrid, Spanyol; Noordjannah mempresentasikan naskah dengan judul “Children Wants Peace” pada September 2019.  

Menurut Noordjannah, anak adalah anugerah Tuhan yang berharga untuk dikembangkan potensinya sebagai generasi pembangun peradaban. Sejak kecil anak-anak harus hidup dalam pola  asuh dan lingkungan yang positif.

Dunia yang damai, memberikan rasa aman , nyaman dan menyenangkan sangat diperlukan oleh anak-anak. Sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi insan yang hidup dalam suasana harmoni.

Setiap negara atau pemerintah juga memiliki kewajiban politik atau public goods untuk menciptakan ruang publik bagi terciptanya  kehidupan damai bagi anak-anak. Negara dan pemerintahan tidak boleh menciptakan perang serta segala bentuk konflik  dan kekerasan yang mengakibatkan hilangnya perdamaian.

Baca Juga  Rahmawati Husein, Pengawal Kerja-Kerja Kemanusiaan Muhammadiyah

Anak-anak yang lahir dari  dalam suasana konflik, perang dan kekerasan  akan memiliki trauma negatif yang dapat  melahirkan sikap keras, ekstrem dan kehilangan daya toleransi.

Agama Mewujudkan Perdamaian Anak

Menurut pandangan Noordjannah, setiap pemeluk agama harus menjadi role-model dalam menyebarkan dan mempraktikkan hidup damai untuk semua. Termasuk menciptakan perdamaian bagi anak-anak.

Islam adalah agama yang memilki arti damai dan selamat, yang menyebarkan misi rahmatan lil ‘alamin, membawa kebaikan untuk semesta alam. Perbedaan agama, suku, ras, golongan, jenis kelamin, dan lain-lain tidak menghalangi sesama umat manusia untuk hidup dengan damai.

Noordjannah mengungkapkan dalam pandangan Islam, anak-anak harus dilindungi dan dikembangkan potensi kehidupannya agar tidak menjadi generasi yang lemah “durriyatan dhi’afa”.

Dalam usaha mewujudkan perdamaian, anak-anak bukan hanya harus memperoleh perlakuan damai, tetapi juga harus mendapatkan edukasi sejak dini agar menjadi  pelaku hidup damai dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian dengan sesama dan lingkungannya.

Nilai-nilai hidup damai yang diajarkan agama, kata Noordjannah, memiliki kaitan kasih saying, toleransi, keadilan, dan kebaikan. Ajaran tentang perdamaian penting untuk ditanamkan kepada anak-anak di keluarga, sekolah, atau di lingkungan sosial.

 ‘Aisyiyah Wujudkan Agenda Perdamaian Anak

 ‘Aisyiyah adalah gerakan perempuan Islam di Indonesia yang berdiri pada tahun 1917 yang bergerak dalam berbagai bidang antara lain pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan program lain yang berbasis pada komunitas

Noordjannah menjelaskan dalam pidatonya di Madrid, bahwa ‘Aisyiyah memilki banyak pengalaman dan program perdamaian bagi anak-anak melalui pendidikan. ‘Aisyiyah memiliki lembaga pendidikan mulai dari tingkat anak usia dini, tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

‘Aisyiyah merupakan pelopor berdirinya pendidikan anak usia dini. Pada tahun 1917’Aisyiyah mendirikan kelompok bermain atau taman kanak-kanak Fröbel yang mnejadi cikal bakal Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal.

Baca Juga  Buya Syafii dan Bahasa Kritik tanpa Tedeng Aling-Aling

PAUD ‘Aisyiyah mengajarkan nilai-nilai keislaman, keagamaan dan kebangsaan yang luhur. Selain itu PAUD Aisyiyah mengajarkan berislam wasathiyah sejak dini sesuai pandangan Muhammadiyah agar kelak menjadi anak-anak yang terdidik cerdas dan berakhlak mulia.

Noordjannah mengingatkan bahwa komitmen dan peran ‘Aisyiyah dalam program mewujudkan ruang kehidupan yang damai yang antikekerasan dan perlakuan buruk terhadap anak merupakan usaha perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak yang dijamin oleh konvensi Internasional dan konstitusi di Indonesia.

Oleh sebab itu, Noordjannah mengajak semua pihak di seluruh negara-negara dan kekuatan civil society untuk bersama-sama mewujudkan dunia damai bagi anak, serta memberi harapan besar dan jalan kehidupan yang lebih baik dalam menciptakan perdamaian bagi kelangsungan masa depan kemanusiaan semesta.

Biografi Siti Noordjannah

Dr. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si. Lahir di Yogyakarta, 15 Agustus 1958. Ketua Bidang Ipmawati Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah 1983-1986. Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah 1990-1995. Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Aisyiyah 2000- 2005. Anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Republik Indonesia (2003-2008). Ketua Umum PP Aisyiyah, 2010-2020.

Siti Noordjannah Djohantini menikah dengan Haedar Nashir, seorang kader dan kini menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2015-2020). Dari perkawinannya dengan Haedar Nashir, Noordjannah dikaruniai dua anak.

Pendidikan formal yang ditempuh Noordjannah dimulai dari Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta, kemudian SMP Muhammadiyah Godean, dan selanjutnya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.

Siti Noordjannah mengambil kuliah program sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN Veteran) Yogyakarta, program magister (S2) Manajemen Keuangan di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, juga mengambil program Human Resource Management di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.  

Siti Noordjannah Djohantini berhasil meraih gelar doktor dalam Ujian Terbuka Disertasi (Promosi Doktor) yang digelar Program Studi Ilmu Ekonomi Program Doktor, Fakultas Bisnis dan Ekonomika Univ0ersitas Islam Indonesia (UII), pada Selasa (8/12/2020). Noordjannah berhasil mempertahankan disertasi yang berjudul “Dinamika Pembentukan Identitas Organisasi Studi Kasus RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.”

Baca Juga  Muhammadiyah itu "Salafi Reformis"

Editor: Yahya FR

Fauziah Mona Atalina
6 posts

About author
Pemimpin Redaksi Rahma.ID, Anggota Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Departemen KOMINMAS (2016-sekarang)
Articles
Related posts
Ulama

Seyyed Hossein Nasr: Alam itu Punya Dimensi Ketuhanan!

3 Mins read
Krisis lingkungan telah menjadi problem global di era kemajuan sains modern. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020 menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan air…
Ulama

Sayyid Ahmad Khan, Pembaru Islam Asal India

3 Mins read
Ahmad Khan lahir di Delhi pada 17 Oktober 1817. Ahmad Khan berasal dari keluarga berstatus tinggi, modernis, berorientasi Barat, dan cukup akrab…
Ulama

Mengapa Al-Fatihah Selalu Dibaca dalam Doa?

1 Mins read
Suatu saat saya sempat mendampingi Bupati Bojonegoro sekitar tahun 2012-an, untuk melatih seluruh perangkat kepala desa. Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk…

Tinggalkan Balasan