Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri*

IPM sebagai anak bungsu Muhammadiyah menjadi organisasi otonom Muhammadiyah yang selalu dinanti kiprahnya oleh keluarga besar persyarikatan ini. Hasnan Bachtiar bahkan menisbatkan dan berharap besar proyek penyiapan pemimpin persyarikatan kepada IPM, bukan kepada ortom yang lain.

Hal ini secara faktual sudah terbukti dengan banyaknya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang merupakan alumni dari organisasi otonom ini. Sebut saja Haedar Nashir, Noorjanah Djohantini, Dahlan Rais, Busyro Muqoddas, dan lain-lain. Dengan begitu, IPM mengemban beban moral yang begitu berat.

IPM sebagai organisasi kepemudaan, mempunyai dimensi kerja yang begitu luas. Banyak sekali isu yang diangkat di forum-forum IPM untuk diselesaikan permasalahannya sebagai bentuk kepedulian terhadap problem bangsa. Isu yang menjadi ciri khas IPM yang paling menonjol setidak-tidaknya adalah isu literasi dan penyampaian dakwah keagamaan.

Kata “penyampaian” yang disandarkan kepada kata “dakwah” ini penting untuk dicatat, karena kata “dakwah” secara umum memiliki implikasi makna yang sangat luas. Literasi dari masa ke masa menjadi salah satu isu kebanggaan IPM yang selalu digaungkan di forum apapun. Hal ini tidak mengherankan jika mengingat semboyan IPM adalah ayat 1 dalam surat Al-Qolam.

Selain dua isu tersebut di atas, IPM dengan segenap idealismenya juga mencoba menginisiasi banyak isu yang lain, seperti: ekologi, advokasi pelajar, kewirausahaan, seni budaya, olahraga, vandalisme, kebijakan publik, kebencanaan, sosial masyarakat, komunitas, big data, kesehatan, dan lain-lain. Semua permasalahan diatas akan menjadi kebanggaan bagi kader-kader IPM di seluruh Indonesia jika berhasil diselesaikan dengan baik, atau minimal ada perubahan pasca persentuhan IPM dengan isu tersebut diatas.

Isu diatas sering disuarakan di forum-forum sehingga menjadi putusan resmi di Muktamar, Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, dan lain-lain. Namun hal ini juga sekaligus menjadi beban berat bagi kader IPM mengingat banyaknya kompetensi yang harus dimiliki dalam menyikapi berbagai isu.

Disparitas antara Elit dengan Grassroot

Penulis akan mencoba berbicara dalam tataran yang sangat teknis, terutama yang terjadi di grass root (akar rumput). Nyawa gerak nadi IPM berada di cabang dan ranting. Apabila cabang dan ranting di suatu tempat tidak ada, maka IPM dipastikan tidak dikenal di tempat tersebut. Maka, penting bagi elit untuk terus memperhatikan tingkatan ini.

Dalam hal ini, yang paling berperan strategis adalah daerah. Mengingat daerah dalam hirarki kepemimpinan di IPM berada tepat di tengah. Daerah tidak terlalu sulit menjangkau pusat, sekaligus mampu turun gunung ke ranting. Faktanya, banyak dijumpai bahwa yang menghidupkan cabang ranting adalah selalu daerah, bukan wilayah apalagi pusat. Maka, ada 3 tingkat kepemimpinan yang menjadi ujung tombak pergerakan IPM, yaitu ranting, cabang, dan daerah.

Sampai disini, terdapat 1 problem yang cukup krusial, selain disparitas yang begitu tinggi antara elit dengan grassroot, yaitu bahwa daerah sering kehilangan identitas secara substansial ketika mencoba menerjemahkan isu IPM yang begitu banyak.

Semangat kader-kader di daerah tentu tidak bisa diragukan. Keikhlasan mereka berjuang tanpa mendapatkan fee apapun adalah keistimewaan tersendiri. Namun, semangat mereka membawa kepada percobaan penyelesaian semua isu secara bersamaan dalam satu atau dua periode saja. Contohnya adalah sebagaimana termaktub dalam tanfidz Muktamar XXI. Dalam tanfidz tersebut ada setidak-tidaknya 4 agenda aksi yang diangkat oleh IPM. Yaitu ekologi (Student Earth Generation), sosial (campaign inklusi sebagai manifestasi gerakan teman sebaya), wirausaha (studentpreneur), dan kesehatan (gerakan pelajar sehat).

Bias Identitas 

Seharusnya hal ini menjadi ideal mengingat usia IPM yang sudah lebih dari setengah abad dengan basis massa seluruh siswa sekolah Muhammadiyah yang berjumlah ribuan. Namun pada tataran praksis, terutama pada tingkatan daerah, justru yang terjadi adalah bias identitas secara substansial.

Yang dimaksud dengan bias identitas secara substansial adalah sulitnya pelajar secara umum, atau bahkan masyarakat secara umum, untuk mendefinisikan identik IPM, atau sulit mengatakan IPM identik dengan apa. Jika IPM diidentikkan dengan literasi, maka itu adalah identik simbolis, sama juga ketika IPM diidentikkan dengan dakwah secara penyampaian langsung (tabligh).

Maka, sebagai alternatif, mencermati tanfidz Muktamar XXI, sangat penting bagi daerah untuk berkolaborasi dengan cabang ranting guna memasifkan gerakan dalam opsi-opsi agenda aksi di tanfidz Muktamar XXI. Namun, mengingat keterbatasan rata-rata dari daerah-daerah yang ada, terlalu sulit untuk menggerakkan keempat opsi tersebut diatas secara berbarengan.

Dalam tulisan kedua artikel ini, akan diberikan satu alternatif gerakan yang mencoba untuk memecah stagnasi gerakan IPM yang sering terjebak pada formalitas, simbol, eksistensi, dan asatirul awwalin (mengekor kegiatan-kegiatan periode sebelum-sebelumnya).

Benar bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang sangat modern pada awal berdirinya, namun ia berpotensi menjadi gerakan kuno di era sekarang, jika tidak disertai dengan inovasi-inovasi yang segar, lebih-lebih mengingat masuknya gerakan Islam transnasional pasca reformasi yang membuka ruang publik menjadi lebih luas dan lebih bebas.

*Ketua Pimpinan Wilayah IPM Jawa Tengah

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda