Inspiring

Syaikh Nawawi Al-Bantani: Nasionalisme di Tanah Rantau

4 Mins read

Nasionalisme adalah konsep, sedangkan negara merupakan tempat berbakti bagi segenap umatnya, Indonesia sendiri mengilustrasikan negara sebagai ibu pertiwi. Layaknya sebagai orang tua, berbakti serta merawat bangsa bagaikan suatu kewajiban yang tidak bisa dinafikan dalam dinamika kehidupan manusia. Al-Qur’an sendiri sampai mengabadikannya dalam surat Al-Balad.

Begitu pula dengan gagasan para founding fathers negeri ini. Soekarno menuturkan nasioanalisme (kebangsaan) ialah suatu I’tikad bersama dalam bentuk satu cita-padu. Membentuk integritas umat nasional (Zidni Nafi’ dalam Menjadi Islam, Menjadi Indonesia, 2018). Melihat betapa pentingnya spirit nasionalisme yang harus diaktualisasikan dalam bentuk kehidupan umat sosial, terlebih kondisi multikultural masyarakat Indonesia.

Mayoritas para sarjana-sarjana negeri menjabarkan betapa pentingnya menumbuhkan semangat kesadaran kebangsaan dalam benak umat. Mayoritas mereka menghadirkan para tokoh-tokoh nasionalis negeri pertiwi sebagai wadah refleksi ideal moral yang mereka miliki. Dalam mengimplementasikan semangat kebangsaan demi sebuah integritas yang solid di tengah-tengah kehidupan multikultural-kontemporer sekarang.

Diantara mereka sering kali mengeksplorasi spirit tokoh-tokoh nasional seperti Ir Soekarno, Drs. Moh Hatta, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Muhammad Dahlan serta para tokoh-tokoh yang lain, baik mereka dengan latar belakang nasionalis atau para ulama.

Kiranya terdapat salah satu sosok yang jarang terekspos di tengah-tengah masyarakat. Namun banyak memberikan kontribusi positif terhadap perjuangan bangsa dalam merebut hak dari tangan pemerintah kolonial. Ialah Syekh Nawawi Al-Bantani, putra bangsa yang berasal dari tanah Jawa, tepatnya daerah Banten.

Dari Banten Sampai Mekkah

Nawawi kecil di daerah Tanara, Tirtayasa, Serang Banten. Tepat pada tahun 1813 M bertepatan dengan tahun 1230 H ia lahir. Dari pasangan Umar bin Arabi dan Ibu Zubaedah, nama lengkapanya ialah Abu Abdul Mufti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi. Namanya masyhur di kalangan umat dengan laqob Nawawi Al-Bantani.

Baca Juga  Anak Nasionalis itu Bernama Santri

Mengawali masa muda dengan balajar dan berinteraksi di tanah Nusantara. Kemudian menimba ilmu selama tiga tahun di tanah suci Mekkah, membuat Nawawi kecil tumbuh bekembang dengan produktif dan progersif.

Setelah dirasa mumpuni ia banyak memberikan pelajaran bagi masyarakat sekitar. Terutama ketika ia pertama kali kembali ke tanah air setelah beberapa tahun bermukim di tanah Arab. Semangatnya yang konstruktif dalam memandang masa depan membuat para penjajah khawatir akan kedatangannya dan segala macam bentuk aktivitasnya.

Nawawi Al-Bantani sangat tidak suka dengan sikap Belanda yang pada waktu itu sangat superior. Ia mulai mendidik para pribumi akan pengetahuan. Ia yakin dengan ilmu pengetahuan akan membalik keadaan suatu umat, dari yang tertindas menuju yang merdeka dan mandiri.

Menyadari dengan gerak aktif Nawawi dalam menghimpun umat, Belanda memblokade segala macam bentuk kegiatan yang ia lakukan. Yang mana pada akhirnya ia memilih untuk hijrah kembali ke tanah suci. Lalu melanjutkan segala aktifitas seperti belajar, mengajar, dan juga menulis.

Setelah kurang lebih mengabdi di tanah kelahiran selam tiga tahun, Nawawi tidak kuat dengan desakan Belanda. Pihak Belanda berkolaborasi dengan sebagian warga pribumi dalam menghalangi dakwah Nawawi. Pada akhirnya ia kembali ke tanah perantauan Mekkah, sampai ia wafat dan disemayamkan di tanah haram Mekkah itu pula.

Hijrah yang Konstruktif dan Inovatif

Ketika Nawawi memilih hijrah meninggalkan tanah Nusantara, banyak yang beranggapan bahwa Nawawi tidak kuat dengan kekangan Belanda. Ia Terkesan kabur dari tanah kelahiran yang sedang dijajah kolonial.

Nawawi memilih untuk kembali ke tanah suci tidak lain karena ia merasa terkurung dengan adanya pembatasan gerak oleh pemerintah kolonial.

Nawawi berpikir untuk melawan penjajah tidak hanya dengan kekuatan fisik. Peralawanan juga dapat direalisasikan dengan perlawanan pemikiran dan gagasan. Lantas Nawawi kembali belajar dengan giat menekuni segala macam keilmuan khususnya dalam bidang agama. Dimana berkat ketekunannya tersebut, ia akhirnya dapat mentransformasikan ilmu-ilmu yang telah ia dapat kepada murid-muridnya.

Baca Juga  Fungsi KOKAM Sudah Selesai, Kenapa Tidak Bubar Saja?

Terdapat para putra- putra bangsa yang datang ke tanah suci Mekkah untuk menuntut ilmu kepadanya. Maka dengan cara inilah Nawawi Al-Bantani dapat mentrasfer dan mentransmisikan segala macam keilmuannya.

Juga spirit nasioanlisme kepada murid-muridnya yang berasal dari Nusantara. Yang kelak menjadi tokoh-tokoh vital para pejuang bangsa, seperti KH. Hasyim Asyari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Syaikhana Khalil Bangkalan, Syekh Soleh Darat as Samarani, KH. Arsyad bin Thawal, K.H. Asnawi, dan K.H. Asryad bin Alwan.

Ketiga tokoh terakhir merupakan para pejuang bangsa yang berperan penting dalam perjuangan melawan penjajah di tanah Banten. Hal ini tidak lepas dari usaha Nawawi tatkala ia berusaha menyampaikan dan menyalurkan spirit kebangsaan kepada murid-muridnya. Tentu harapannya dapat berperan aktif melawan kolonial.

***

Snouck Hugrounje berkesimpulan bahwa Syekh Nawawi adalah ulama yang ilmunya mendalam dan luas. Ia juga punya kepribadian rendah hati, tidak congkak dan selalu bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa. (Maragustam, Pemikiran Pendidikan Nawawi, 2007).

Jadi begitu nampak perlawanan Nawawi terhadap kaum kolonial, ia lebih memaksimalkan daya pikirnya (keilmuannya) dalam membasmi para penjajah bangsa. Nawawi juga berhasil membentuk suatu koloni Jawi di Mekkah yakni suatu komunitas muda-mudi Nusantara. Dengan koloni ini Nawawi dapat menanamkan jiwa patrionalisme dan nasionalisme dalam melawan menjajah kolonial baik di Banten atau di Nusantara.

Organisasi ini menjadi representasi dari peran Nawawi dalam upaya menghimpun golongan Nusantara yang sependeritaan dan seperjuangan dalam memberantas wabah kolonialisme. Adanya arus transmisi keilmuan yang disertai dengan spirit-spirit kebangsaan (nasionalisme) pada akhirnya mengundang kekhawatiran di kubu Belanda.

Hingga pada akhir abad 19 Belanda memberlakukan sebuah kebijakan, yakni membatasi perizinan pergi ke tanah Arab. Mereka yang ingin melakukan ibadah haji, atau mereka yang hanya sekedar hendak berniaga ke tanah Arab. Hal ini ditakutkan akan menjadi suatu sumber kekuatan yang dapat menggulingkan eksistensi pihak kolonial.

Baca Juga  Wardan Diponingrat, Sang Pengagas Hisab Hakiki

Eksistensi Spirit Nasionalisme di Tanah Rantau

Spirit nasionalisme dan patriotisme telah tertanam dalam jiwa Nawawi. Tercatat Nawawi sendiri tidak pernah melakukan tindakan kooperatif dengan pihak penjajah. Bahkan ia sangat menentang pendudukan penjajah di bumi Nusantara.

Meskipun ia berada jauh di negeri seberang gelora patriotisme dan nasionalisme tak pernah ia abaikan. Dengan selalu menyebarkan gagasan konstruktif Nawawi mengajak segenap umat bangsa untuk bahu-membahu bangun dari ketertinggalan.

Ejawantah akan hal ini ialah keterbukaan dan juga cinta akan pembaharuan. Termasuk penerimaan terhadap pluralisme agama dan bangsa yang telah diaktualisasikan oleh Nawawi dalam kehidupannya. Yang tidak kalah menarik ialah Nawawi tidak gampang terpeangaruh oleh sesuatu. Hal ini dapat dilihat dari sikap Nawawi yang tetap berusaha melestarikan kultur keislaman Nusantara. Meskipun ia hidup di tengah masyarakat Arab.

Nawawi Al-Bantani tidak terpengaruh dengan munculnya gerakan Muhammad bin Abdul Wahab. Pada waktu itu merajalela di tengah-tengah kehidupan banga Arab. Sehingga eksistensi kultur keislaman Indonesia tetap ia genggam. Ia menjunjung Islam yang ekslusif, moderat, plural, dan juga toleran dalam menyikapi keadaan bangsa yang multikultural.

Editor: Dhima Wahyu Sejati

Print Friendly, PDF & Email
3 posts

About author
Awardee PBSB Kemenag RI
Articles
Related posts
Inspiring

Aceng Zakaria, Ulama Jago Baca Kitab Kuning dengan Segudang Karya

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Ribuan orang berkumpul di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat untuk ikut mensalati jenazah alm. KH Aceng…
Inspiring

Fariduddin Attar, Inspirator Dunia Sastra Global

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sastra Islam pada generasi awal banyak dibanjiri oleh karya-karya bernuansa sufistik. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena hampir…
Inspiring

Von Goethe, Sastrawan Jerman Pengagum Nabi Muhammad

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sepanjang lebih dari empat belas abad, entah sudah berapa ribu sajak yang digubah maupun ditulis oleh umat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *