Tantangan Muhammadiyah Setelah 107 Tahun

 Tantangan Muhammadiyah Setelah 107 Tahun

Ilustasi. Sumber: Times Indonesia

Kelembaman yang diakibatkan oleh keberhasilan Muhammadiyah di abad yang lampau mungkin akan segera hilang atau bahkan menjadi sebuah beban birokratis yang membayangi masa depannya (2017: 421). Ungkapan tersebut diungkapkan Mitsuo Nakamura, peneliti asal Jepang yang sejak lama memiliki perhatian yang amat besar terhadap gerakan persyarikatan Muhammadiyah, dalam bukunya Bulan Sabit terbit di Atas Pohon Beringin (Suara Muhammadiyah, 2017).

Tak begitu berlebihan, apa yang diungkapkan oleh guru besar emeritus Universitas Chiba ini. Mengingat, memasuki abad keduanya, Muhammadiyah kini telah melakukan banyak transformasi di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, kesejahteraan sosial, voluntarisme, filantropi, dan lainnya.

Meski begitu, catatan Nakamura ini patut pula menjadi pengingat. “Guna mengejar kemajuan lebih lanjut di abad XXI, Muhammadiyah tampaknya membutuhkan revitalisasi yang menyelruh, sampai ke taraf, bahkan melebihi semangat, ketabahan, dan sebuah visi yang jelas seperti yang dicontohkan pendirinya, KH Ahmad Dahlan.” (2017: 421).

Kehadiran Muhammadiyah yang kini sudah menginjak 107 tahun di bumi Nusantara—dan telah merambah pula di dunia internasional, merupakan sumbangsih nyata atas apa yang diharapkan sang founding father, KH Ahmad Dahlan. Ini juga merupakan konsekuensi bagi organisasi Islam terbesar di Asia ini untuk terus menjawab berbagai tantangan zaman. Jika berbicara pada masa awalnya, Muhammadiyah hadir dengan spirit kepedulian sosial. Perubahan sosial, dalam perspektif Muhammadiyah, merupakan aksiologi nilai-nilai Al-Quran. Seperti yang dikenal dengan teologi al-Maun.

Renungan Al-Maun

Dalam catatan Nakamura, “Surah yang bertajuk Barang-Barang yang Berguna itu mendesak manusia untuk mencurahkan perhatian dan bantuan kemanusiaan untuk orang miskin dan yatim piatu, dalam hal ini mereka yang lemah dan menderita, sebagai sebuah tindakan yang saleh.” (2017: 421). Surah al-Maun, yang selama berabad-abad ditangkap dalam dimensi teologis (bahkan mistis) belaka, di tangan KH Ahmad Dahlan menjadi sebuah renungan filosofis dan gerakan praktis.

Maka, tak heran jika Merle C Ricklefs, profesor emeritus the Australian National University, menyebut Muhammadiyah bukan sekadar sebuah organisasi pemurnian agama, melainkan sebuah organisasi kesejahteraan sosial. Muhammadiyah, kata Ricklefs, sudah sejak lama dianggap sebagai model bagi aktivisme sosial bercorak nonpemerintah dan yang terinspirasi oleh agama (2017: xvii).

Berbagai catatan para peneliti dan pemerhati sejarah bangsa Indonesia, khususnya terkait gerakan Islam, akan menjadi pijakan bagi persyarikatan Muhammadiyah untuk mampu menyongsong abad keduanya dengan kegemilangan, sebagaimana telah diletakkan oleh KH Ahmad Dahlan hingga Muhammadiyah mampu bertahan satu abad lebih. Mencapai kegemilangan di usia yang sudah satu abad lebih menjadi suatu keniscayaan. Sekaligus, mengandung risiko dan tantangan yang akan amat berbeda dengan masa lampau.

Haedar Nashir, guru besar Ilmu Sosiologi UMY yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam buku Muhammadiyah Abad Kedua (Suara Muhammadiyah, 2016) mengatakan, Muhammadiyah pasca-Muktamar ke-46 berada dalam pusaran dinamika kehidupan bangsa dan dunia global yang penuh masalah, tantangan, dan tarik-menarik yang kompleks di sleuruh bidang kehidupan. Muhammadiyah tentu akan banyak mengalami situasi baru yang tidak sama dan jauh lebih kompleks ketimbang masa sebelumnya (2016: 125). Pandangan ini amat beralasan, karena Muhammadiyah akan dan tengah memasuki abad 21, yang mana kehidupan telah banyak berubah secara fundamental.

Di sini, terdapat pandangan-pandangan yang amat nyata bahwa kehadiran Muhammadiyah di era terbuka ini, menjadi amat dinanti. Tidak hanya oleh khalayak Indonesia, tapi juga dunia. Mengigat berbagai persoalan global, mulai dari isu kemanusiaan, krisis pangan, ekologi, Islamofobia, dan sebagainya, telah berlangsung dengan amat memilukan. Misalnya saja soal Muslim Rohingya yang termarjinalkan dan terusir, Palestina yang terus ditindas, perubahan iklim global, dan sebagainya

Setelah 107 Tahun

Tema milad ke-107 tahun Muhammadiyah, yang jatuh pada 18 November 2019, yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Sebetulnya tema yang diambil dari penggalan paragraf Pembukaan UUD 1945 itu sudah bukan hal yang baru bagi Muhammadiyah. Bahkan, di bidang pendidikan, Muhammadiyah telah menjadi pelopor, misalnya dalam hal mengejawantahkan pendidikan modern.

Sejak awal kehadirannya, Muhammadiyah memang telah mereformasi sekolah dari bentuk tradisional ke bentuk modern. Dari yang memisahkan ilmu pengetahuan dengan ilmu agama, ke integrasi keilmuan (sains dan agama) dengan kemajuan teknologi. Maka, dari Muhammadiyah lahirlah sekolah-sekolah, SMA, SMK, TK, PAUD, pesantren, universitas, dan boarding school.

Poin penting yang ditanamkan KH Ahmad Dahlan ketika mengawali gerakan Muhammadiyah adalah gerakan tajdid (pembaruan/dinamisasi). Tajdid berimplikasi pada watak keterbukaan yang kemudian dimiliki Muhammadiyah. Sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah kunci bagi umat Islam untuk mampu menjawab tantangan zaman di era modern. Tantangan itu akan terus berlanjut, yang artinya mengharuskan Muhammadiyah untuk terus menghidupkan spirit tajdid secara terus-menerus.

Haedar Nashir mencatat, “Muhammadiyah saat ini maupun gerakan-gerakan Islam lain dihadapkan pada masalah atau tantangan kehidupan yang multidimensi atau kompleks. Abad kedua ketika Muhammadiyah memasuki tahap baru perjalanannya berada dalam kehidupan umat manusia sejagad yang bercorak pascamodern atau postmodern yang menunjukkan perubahan-perubahan epsktakuler dalam segala lapangan kehidupan di berbagai penjuru dunia.” (2016: 145).

Gejala-gejala perubahan spektakuler itu sebenarnya telah mulai terlihat. Sehingga, tantangan ke depan akan makin menguras pikiran dan tenaga. Tak luput pula dengan tantangan menunaikan amanah UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang sekarang menjadi tema milad Muhammadiyah.

Kini, di era serbateknologi, tantangan gerakan Muhammadiyah di bidang pendidikan juga kian berat. Mulai dari pelurusan pandangan filosofis pendidikan, pendidikan yang dapat dijangkau semua kalangan, manajemen lembaga pendidikan yang makin praktis dan berkualitas, hingga sumber daya insani yang makin melek terhadap perkembangan teknologi mutakhir.

***

Namun, percayalah selama terus berusaha “… sampai ke taraf, bahkan melebihi semangat, ketabahan, dan sebuah visi yang jelas …” seperti diungkapkan Prof Nakamura di atas, Muhammadiyah akan bisa melewati berbagai tantangan zaman itu. Dan, Muhammadiyah sudah lebih dari cukup memiliki modal untuk menghadapi itu semua. Selamat milad ke-107 tahun persyarikatan Muhammadiyah.

Ahmad Soleh

Sekretaris Bidang RPK DPP IMM

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *