Transformasi Perkaderan Pemuda Muhammadiyah - IBTimes.ID
Moderasi

Transformasi Perkaderan Pemuda Muhammadiyah

3 Mins read

Pemuda Muhammadiyah (PM) telah mencatatkan diri sebagai organisasi kepemudaan yang bertujuan menghimpun, membina, dan menggerakan potensi pemuda Islam sejak 89 tahun silam. Begitulah harapan KH. Ahmad Dahlan terhadap kelompok pengajian Siswo Proyo Prio (SPP) pada waktu itu.

Kelompok pengajian tersebut kemudian bertransformasi menjadi bagian kepemudaan dalam struktur Muhammadiyah. Bagian kepemudaan ini mendapatkan sambutan yang luar biasa, hingga akhirnya pada tanggal 2 Mei 1932, pada sidang Tanwir di Makassar, ditetapkan sebagai Organisasi Otonom (Ortom) Pemuda Muhammadiyah. Sejak saat itulah PM mandiri mengurusi rumah tangganya sendiri.

Banyak hal yang telah berubah dalam tubuh PM, tapi tujuan utamanya menghimpun, membina, menggerakan potensi pemuda Islam masih ajeg dan kokoh terpatri dalam AD/ART. Bahkan dalam keputusan Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII tahun 2018 di Yogyakarta, tujuan tersebut diperjelas lagi dalam Garis Besar Haluan Gerakan (GBHG).

Tertulis dalam misi GBHG bahwa salah satu tugas PM adalah “mendorong dan memfasilitasi kader Pemuda Muhammadiyah untuk mengembangkan potensi diri.Untuk mewujudkan hal tersebut, Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PM membuat sebuah grand design transformasi Sistem Perkaderan Pemuda Muhammadiyah (SPPM).

Perubahan Asas Perkaderan

Selama ini, perkaderan identik dengan ideologisasi. Hal ini menyebabkan nuansa perkaderan menjadi sangat sakral dan kaku. Proses kaderisasi lebih akrab dengan indoktrinasi yang kurang memperhatikan pengembangan potensi diri.

Padahal era sekarang telah terjadi perubahan-perubahan besar yang begitu cepat. Muncul generasi baru yang disebut dengan kaum milenial dengan karakter yang unik perlu disikapi dengan bijak. Jika proses kaderisasi tidak mengalami perubahan, bisa jadi PM tidak dapat mengambil peran dalam proses pembinaan pemuda Islam secara lebih luas.

Proses perkaderan harus mempertimbangkan hal tersebut. Proses perkaderan di PM harus menjadi solusi permasalahan Sumber Daya Manusia, baik yang diharapkan persyarikatan, umat, dan bangsa.

Baca Juga  Apa Salahnya Mencari Hidup di Muhammadiyah?

Dari narasi itulah, asas perkaderan Pemuda Muhammadiyah harus berubah. Semula, proses kaderisasi level awal menekankan pada ideologi, pada era sekarang menitik beratkan pada perubahan mental, karakter, dan jati diri. Jadi yang digembleng di awal adalah perubahan mindset berpikir, jati diri, dan orientasi hidup seorang pemuda Islam. Baru kemudian internalisasi ideologi, peningkatan skill, dan wawasan ditanamkan.

Oleh sebab itu, di gerbang awal perkaderan Pemuda Muhammadiyah bobot character building mendapatkan porsi 40%, ideologi 30%, skill 20%, dan wawasan 10%. Harapannya perkaderan menjadi sekolah kepribadian. Menghasilkan sosok pemuda yang memiliki cita-cita besar, prinsip hidup yang kuat, dapat berkolaborasi dengan siapapun, dan cepat beradaptasi dengan segala perubahan zaman.

Perubahan Filosofi dan Metode Perkaderan

Konsekuensi dari perubahan asas perkaderan sebagaimana digambarkan di atas, membawa perubahan pada filosofi sekaligus metode perkaderan. Dalam Semiloknas Perkaderan yang diselenggarakan tahun 2012 di Hotel Syahida UIN Jakarta, filosofi perkaderan Pemuda Muhammadiyah menggunakan filosofi pembelajaran orang dewasa (andragogy) dan metode pembelajaran (active learning).

Dua hal ini masih relevan untuk digunakan. Namun, untuk menjawab tantangan zaman dan kondisi kader Pemuda Muhammadiyah yang sangat heterogen (majemuk), perlu penambahan dan penguatan yang sesuai dengan keadaan. Metode pembelajaran kolaborasi (collaborative learning) merupakan pilihan yang tepat menjawab hal tersebut.

Pembelajaran kolaboratif adalah sistem pembelajaran yang bertujuan memadukan potensi-potensi individu menjadi sebuah kekuatan dalam sistem belajar. Dalam sistem ini, ada sebuah pengakuan dan dukungan terhadap potensi yang unik dan berbeda pada setiap individu untuk berkembang.

Kecerdasan majemuk dalam setiap individu menjadi kekuatan dalam proses belajar. Semua individu dapat bertukar pengalaman dan pengetahuan, tanpa kompetisi yang negatif. Dalam proses tersebut, terjadi interdependensi yang positif.

Baca Juga  Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK): Pendidikan Karakter ala Islam Modernis

Artinya, setiap individu yang terlibat dalam proses tersebut, akan menyadari betapa pentingnya membangun relasi sosial untuk sukses bersama, maju bersama, dan hebat bersama. Model pembelajaran inilah yang mendasari proses kaderisasi Pemuda Muhammadiyah era sekarang.

Perubahan Perangkat Perkaderan

Dalam implementasi perkaderan Pemuda Muhammadiyah, tidak dapat dimungkiri selalu mengalami kendala di lapangan. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya buku panduan operasional pelaksanaan perkaderan. Dampaknya, dalam proses kaderisasi di setiap daerah selalu berbeda bentuk dan polanya.

Di era sekarang, diupayakan panduan pelaksanaan tersebut lahir dan dapat dijadikan rujukan pelaksanaan perkaderan. Sehingga, dalam pelaksanaannya tidak ada lagi kegamangan. Buku panduan pelaksanaan tersebut juga terintegrasi dengan sistem digital dan jaringan yang akan memudahkan pelaksanaan perkaderan dan membantu pendataan kader.

Paperless administration merupakan ikon perkaderan Pemuda Muhammadiyah. Selain untuk menekan biaya, sistem ini lebih efektif dan efisien dalam pendataan organisasi. 

Inilah beberapa transformasi perkaderan Pemuda Muhammadiyah. Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut rakornas Pemuda Muhammadiyah yang akan diselenggarakan bulan September 2021. Semoga tulisan ini menjadi pemantik ide dan gagasan perkaderan Pemuda Muhammadiyah di era disrupsi seperti saat ini. Wallahu’alam bishawab.

Editor: Yahya FR

Avatar
24 posts

About author
Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Ketua MPK PWM DIY, Sekretaris Pendidikan dan Kaderisasi PP Pemuda Muhammadiyah.
Articles
    Related posts
    Moderasi

    Teologi Moderat: Mirip Mu’tazilah atau As’ariyyah

    3 Mins read
    Di tengah beragamnya pemahaman akan dalil dalam beribadah di Indonesia, sikap moderat ini sangat diperlukan. Alih-alih paham ini mengombinasikan dua gagasan pemikir…
    Moderasi

    Muhammadiyah Bukan Gerakan Populisme Islam

    3 Mins read
    Menguatnya populisme Islam, telah memberi gambaran baru model gerakan Islam Indonesia. Para akademisi menjuluki populisme Islam merujuk pada aksi gelombang besar dimulai…
    Moderasi

    Milad 108 Tahun Muhammadiyah: Ikhtiar Mengarungi Batas Internasional

    2 Mins read
    Sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi munkar, Muhammadiyah mampu mempertahankan eksistensinya hingga memasuki umur 1 abad lebih. Ketegasan organisasi serta kegigihan kader…