Wabah Covid: Kelekatan dan Pelepasan

 Wabah Covid: Kelekatan dan Pelepasan

Oleh: Ali Audah

Sudah seminggu terakhir ini saya merasakan suhu menghangat di Yogyakarta. Beberapa kali Merapi menyemburkan awan panas, pergerakan semu matahari, persebaran anomali suhu panas, kini ditambah isu Covid outbreak agaknya berkontribusi serius pada iklim panas ini. Meskipun volume AC sudah saya tambahkan ke level dua, tapi rasanya tak mampu mengusir udara panas di dalam mobil.

Konon, panasnya udara ini juga sedang dialami oleh banyak kota lain di Indonesia. Sempat ada isu bahwa cuaca panas seperti ini dapat membunuh Covid 19. Tapi negara “super panas” seperti Saudi Arabia tak luput juga terkena terjangan virus galak ini. Memang sulit menghilangkan panas selama tingginya radiasi atau energi dengan suhu tinggi tak mau berpindah atau pergi. Kelekatan energi panas atau kalor itu adalah penyebab suhu udara tak dapat menjadi dingin.

Dalam ilmu psikologi, istilah kelekatan atau attachment itu digagas pertama kali oleh seorang ahli ilmu kejiwaan Inggris bernama John Bowlby di tahun 1958, yang kemudian dikembangkan lagi oleh Mary Ainsworth sebelas tahun kemudian. Kelekatan didefinisikan sebagai suatu bentuk ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua.

Di usia Ahsan, anak ketiga saya, yang ke dua belas tahun, saya merasakan kelekatannya pada saya tak jua mengendur. Ibu saya sering mengingatkan untuk mengurangi kelekatan dengan anak bungsu kami ini. Sebenarnya kelekatan juga terjadi pada saya dengan anak saya itu. Saya lebih merasa tenang atau nyaman jika ia mengikuti atau mendampingi kemanapun saya pergi, bahkan hingga tidur. Entah siapa yang menjadi bantal gulingnya, kami sering tidur berpelukan.

Baca Juga  Setelah Dialektika; Refleksi atas Hari Buruh Internasional

Yang diserang Covid 19 saat ini sebenarnya tidak hanya alat-alat pernafasan kita, tetapi juga kelekatan-kelekatan antar manusia. Social harmony (suasana guyub dalam kebersamaan) kini diganti dengan social distance (menghindari kerumunan masal dan sentuhan fisik). Yang dulu dianggap mulia (kebaktian bersama di pura atau gereja, shalat berjamaah di masjid) kini mulai bergeser menjadi kegiatan yang mengandung resiko bahaya atau mengancam jiwa.

***

Selain pergeseran nilai seperti itu, penyebaran virus Corona pun mulai memaksa masyarakat dunia menjadi bergerak secara lebih intensif untuk memantapkan diri sebagai masyarakat digital. Perkuliahan di beberapa universitas terkemuka di beberapa kota besar telah dilaksanakan secara online. Kelekatan psikologis antara dosen dan mahasiswa pastilah akan sangat menurun drastis. Tradisi berbagai organisasi massa atau profesi untuk berkumpul dalam seminar atau kongres dan muktamar ada kemungkinan juga akan terdijitalkan.

Kita sedang diuji untuk mengurangi kelekatan-kelekatan sosial, ini suatu proses yang dapat dipandang sebagai suatu musibah atau justru keberuntungan. Ini adalah soal cara pandang. Dalam konsep ilmu komunikasi, ini disebut sebagai fase pelepasan ( decoupling).

Bagi umat muslim, jika sedang terkena musibah akan berucap: innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Artinya adalah sesungguhnya kita adalah milik Tuhan, dan kembali kepadaNya. Jadi hidup tak berhenti pada kematian. Bukan “dari tanah kembali ke tanah”, karena ini ungkapan yang meniadakan soul atau jiwa. Bagi kaum Nasrani, kematian juga kembali kepada Tuhan di syurga, menjadi cahaya yang dikasihiNya. Kematian bagi orang beragama adalah jalan melepaskan dunia untuk melekat kuat pada Tuhan.

Editor: Yahya FR

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *