back to top
Sabtu, September 5, 2026

Yang Membuat Manusia Lalai

Lihat Lainnya

Imaduddin Fadhlurrahman
Imaduddin Fadhlurrahman
Seorang pengajar di salah satu kampus di Kota Palu. Tertarik pada isu Politik, Pancasila, serta Filsafat

Untuk kali pertama air di kompleks kami mati total seharian penuh. Keran kamar mandi tidak meneteskan air setetes pun. Kondisi semacam itu beberapa hari ke belakang pernah terjadi, tapi belum pernah sampai seharian penuh.

Saya mencoba memutar seluruh keran yang ada di rumah. Barangkali masih ada keran yang dialiri air. Saya memutar hingga mentok. Nihil. Yang keluar hanya bunyi berdesis, seperti napas yang sudah habis.

Biasanya air mengalir begitu lancar. Beberapa pekan terakhir memang air sempat mati di jam-jam tertentu, lalu hidup lagi setelahnya. Sehingga saya sering menganggapnya sebagai hal biasa. Tapi hari itu berbeda. Air mati total.

Di Makassar kemarau pelik memang berlangsung cukup lama. Hampir tiga bulan rasanya hujan tak kunjung turun. Teriknya matahari terkadang membuat siang berlangsung lebih lama dari biasanya. Barangkali hal itu yang menjadi penyebab air menjadi sulit belakangan ini.

Kondisi itu diperburuk dengan isu yang beredar mengatakan akan ada pemadaman bergilir oleh PLN karena adanya pemeliharan. Dan benar saja, persis ketika air mati, listrik ikut padam.

Sebagai perantau yang tinggal seorang diri, saya baru pertama kali merasakan hal semacam ini. Yang terasa saat itu bukan sekadar perasaan kesepian. Ada sesuatu yang lebih mendasar, semacam perasaan tidak berdaya. Dua hal paling mendasar dalam hidup sehari-hari, air dan listrik, ternyata sepenuhnya berada di luar kuasa saya.

Hari itu, untungnya bertepatan dengan hari libur. Saya tidak perlu ke mana-mana. Karena tidak bepergian ke mana pun, saya banyak menghabiskan waktu dengan rebahan sambil menanti air dan listrik kembali menyala.

Baca Juga:  Memuliakan Guru untuk Pendidikan Bermutu

Di sela-sela waktu menunggu, entah tidak terhitung berapa kali saya mengonsumsi video pendek. Mulai dari sketsa komedi, potongan podcast, hingga ceramah singkat. Ragam jenis tontonan itu hampir saya lahap dalam satu kali rebahan. Hingga tulisan ini dibuat, saya sendiri bahkan tidak menyadari betapa tidak berdaya kala itu melawan rasa malas.

Sejujurnya, ada perasaan kesal mengingat kejadian itu. Bukan hanya sebagai manusia dewasa, tetapi juga sebagai seorang muslim. Bahwa saya menghabiskan waktu dengan cara yang paling tidak masuk akal. Tidak melakukan apa pun selama sehari.

Di sela-sela kebosanan itu, yang membuat saya bangkit untuk bergerak hanya dua hal. Waktu salat dan panggilan perut.

Berkat air yang mati, saya kembali rajin menginjakkan kaki di masjid pada waktu zuhur dan asar. Terkadang, rasa malas lebih besar pada dua waktu tersebut. Cuaca terik dan rasa kantuk yang hebat di siang hari kerap menjadi alasan untuk membuat saya mendirikan salat cukup di rumah saja.

Yang paling merepotkan lagi ketika ingin buang air bukan pada momen salat. Jika bertepatan dengan waktu salat, saya bisa sekalian bepergian ke masjid. Karena bukan pada waktu salat maka, mau tidak mau, saya harus mencari sumber air. Sebab perut saya segera minta dikosongkan, sementara di rumah tidak tersisa setetes pun air. Beruntung masjid di kompleks kami memakai sumur bor sehingga tidak terpengaruh dengan jalur air milik kompleks.

Maka, berangkatlah saya siang-siang. Dengan langkah malas dan menahan sembelit saya terpaksa pergi ke masjid, bukan untuk salat, tapi hanya untuk buang air.

Baca Juga:  Baca Doa Ini Agar Dijauhkan dari Segala Masalah

Saya menempuh jalan yang sama seperti saat mendengar azan. Melangkah menuju rumah ibadah yang sama. Menggunakan kamar mandi dengan keran yang sama. Bedanya, kali ini yang menggerakkan saya bukan panggilan Tuhan, tetapi desakan perut. Rupanya saya lebih patuh pada perut sendiri daripada azan.

Setelah selesai, saya langsung balik ke rumah. Seperti manusia urban pada umumnya, saya berjalan sembari menunduk menatap layar. Membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas. Di sini lalu saya kemudian tersadar, bisa jadi teguran dari Tuhan datang dari cara-cara yang tidak terduga.

Di sela-sela membuka media sosial, potongan video melintas di lini masa. Berisi tentang kondisi warga di NTT yang terdampak bencana. Mereka mengungsi dengan kondisi kesulitan air dan listrik. Sama seperti yang saya alami pada saat itu. Hanya saja mereka tidak punya rumah untuk pulang, tidak punya masjid dengan sumur bor beberapa puluh langkah dari pintu, dan tidak punya kemewahan untuk rebahan seharian sambil mengeluh.

Pada momen itu, saya seperti merasa terpukul. Baru sedikit mendapat cobaan sudah begitu banyak mengeluhnya.

Yang paling menohok justru teguran itu datang lewat benda yang sepanjang hari menenggelamkan saya. Layar yang sama. Jempol yang sama. Barangkali begitu cara Tuhan menegur manusia, lewat dari arah yang paling tidak disangka-sangka.

Ketika tulisan ini dibuat, saya baru benar-benar tersadar betapa tidak berdayanya saya pada hari itu. Bukan hanya karena air dan listrik yang mati. Itu memang di luar kendali siapa pun. Yang lebih memalukan justru ketidakberdayaan terhadap diri sendiri. Terhadap rasa malas. Terhadap jempol yang tidak berhenti menggulir. Terhadap godaan untuk menunda salat sampai tubuh sendiri yang memaksa keluar rumah.

Baca Juga:  Krisis Air di Perkotaan, Fikih Air Solusinya!

Padahal jelas-jelas empat belas abad silam, Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan terdapat dua nikmat yang kerap membuat manusia merugi, yakni kesehatan dan waktu luang. Ternyata, saya sendiri terjebak tak berdaya dalam tipuan dunia itu.

Hari libur dengan tubuh yang sehat seharusnya dapat berubah menjadi sebuah keuntungan. Tetapi saya mengabaikannya begitu saja. Waktu yang saya kira sedang saya miliki, ternyata habis tanpa benar-benar menghasilkan apa pun.

Akhirnya, hal itu yang membuat saya menjadi abai terhadap hal yang patut disyukuri. Itu mungkin mengapa manusia seringkali tidak bersyukur bukan karena kekurangan, melainkan karena terlanjur merasa memegang kendali. Kita mengira hidup ini kita yang mengatur, sampai suatu hari air berhenti mengalir dan kesadaran itu muncul.

Rupanya kita memang perlu kehilangan sedikit untuk mengerti bahwa selama ini kita memang tidak punya apa-apa. Air yang mengalir setiap hari bukan hak, melainkan titipan yang bisa ditarik kapan saja.

Saya menyadari itu dalam tulisan ini.

Sebagai penutup, barangkali pertanyaan yang lebih pantas untuk diajukan bukan tentang kapan air mengalir atau kapan listrik kembali menyala, melainkan siapa yang selama ini mengizinkan agar air itu terus mengalir dan listrik tetap menyala.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru