Inspiring

Yunahar Ilyas: Wajah Islam Moderat ala Muhammadiyah

6 Mins read

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Peribahasa Indonesia

Profesor Yunahar Ilyas, telah meninggalkan kita semua menuju alam keabadian, pada saat keahlian dan ilmunya masih sangat dibutuhkan oleh umat Islam Indonesia. Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia, tengah mengalami sebuah kehilangan besar. Kehilangan wajah Islam moderat ala Muhammadiyah pada sosok Profesor Yunahar Ilyas.

Kepergian seorang alim selalu menyisakan kesedihan yang mendalam. Bukan hanya karena itu bermakna matinya sebuah obor atau pelita pengetahuan, tetapi juga karena seorang alim adalah produk dari sebuah proses dialektika yang panjang dan tak sederhana. Maka wajar belaka, ketika seorang alim wafat, pertanyaan tentang penerus dan penggantinya selalu menjadi menyertai.

Cara Allah Mencabut Ilmu

Barangkali inilah wujud dari hadits yang menyebutkan bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu dari hati manusia dengan sekali intiza’an atau menghilangkan ilmu begitu saja. Tetapi Allah mencabut ilmu dari dunia melalui wafatnya para ulama’. Karena itulah, kesedihan mendalam yang mengiring setiap kewafatan para ulama’ sangat mudah untuk difahami.

Proses panjang seorang alim membangun dan menemukan reputasinya, sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan sulitnya menemukan “pengganti” dan “penerus” tadi. Tetapi dalam dirinya sendiri, proses panjang itu menjadikan seorang alim, intelektual, atau pemikir memiliki banyak sisi yang sangat mungkin tidak bisa difahami secara baik, manakala ia hanya dibaca dari satu aspek saja. Dalam diri setiap alim, pemikir, atau intelektual selalu terdapat spektrum, sehingga membaca pemikiran seseoran dengan pendekatan ini menjadi tak terelakkan.

Profesor Yunahar Ilyas tentu bukan pengecualian dalam hal ini. Beragam pandangan tentang posisi pemikiran Profesor Yunahar seringkali bermunculan. Tak jarang, aneka pandangan itu saling bersilangan.

Bagi sebagian kalangan, baik di Muhammadiyah, maupun kalangan Muslim lain, Profesor Yunahar tampak sebagai seorang alim dengan orientasi pemikiran literal. Kesan seperti ini muncul dari sikap tegasnya terhadap isu-isu kontemporer yang belakangan ini menjadi bagian dari wacana Islam di tanah air, misalnya pluralisme agama, nikah beda agama, dan sekularisme.

Tetapi pada saat yang sama, ketika membaca pandangan-pandangannya tentang perempuan dalam perspektif Islam, terutama dengan pendekatan tafsir yang menjadi salah satu keahliannya, maka akan muncul kesan yang sebaliknya. Bahwa Profesor Yunahar bukanlah sekaku yang dibayangkan. Bahkan bisa dikatakan ia justru mengusung pandangan-pandangan progresif terhadap masalah-masalah tertentu dalam pemikiran Islam.

Pandangan Islam Moderat

Secara mendasar, pandangan-pandangan keagamaan Profesor Yunahar Ilyas sebenarnya bisa dikelompokkan ke dalam pandangan Islam moderat (Islam wasathiyah). Menurutnya, salah satu makna terpenting dari wasathiyat al-Islam atau Islam wasathi atau Islam wasathiyyah adalah al-tawasuth (lurus dan tengah-tengah).

Baca Juga  Asy-Syahrastani (1): Ulama yang Dikenal Cerdas dan Gemar Meneliti

Lebih lanjut, ia menawarkan sebuah pemahaman tentang Islam moderat (wasathiyah) itu sebagai “Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW secara lurus, bukan yang disimpang-simpangkan.” Secara sosiologis, memang mudah ditemukan pelaksanaan agama yang cenderung “menyimpang” dari ajaran Nabi Muhammad. Profesor Yunahar mengidentifikasi bentuk penyimpangan atas ber-Islam yang sejalan dengan contoh Nabi itu adalah tatharruf (ekstrem kanan), ghuluw (overdosis, berlebihan), ithraf (ke kiri, kurang) dan ibahiyah (serba boleh). “Jadi, beragama itu harus lurus-lurus saja, tidak boleh lebih-lebih,” tegasnya.

Ia kemudian memberikan sebuah contoh. Tiga orang datang ke rumah Nabi Muhammad dan ditemui ‘Aisyah, karena pada saat itu Rasulullah tidak berada di rumah. Kepada ketiga tamu itu, ‘Aisyah bertanya tentang kepentingan mereka.

Lalu mereka menjawab dengan pertanyaan pula: “Manakah yang lebih baik keberagamaan kami atau Nabi Muhammad?” ‘Aisyah pun kembali bertanya: “Apakah yang menjadikan kalian bertanya demikian dan merasa kalian lebih baik dari Rasulullah?” Orang pertama menjawab: “Saya selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka.” Lalu, orang kedua merespons: “Saya selalu shalat malam dan tidak pernah tidur.” Sementara orang ketiga memberikan informasi: “Saya tidak menikah, karena pernikahan hanya akan mengganggu ibadah saya.”

Ketika Rasulullah pulang, ‘Aisyah menyampaikan hal itu kepada Rasulullah. Maka pada suatu kesempatan, ketika Rasulullah bertemu dengan ketiga tamu tadi, Rasulullah menjawab: “Aku yang terbaik di antara kalian. Aku berpuasa, tetapi aku juga berbuka. Aku melaksanakan shalat malam, tetapi aku juga tidur. Dan, aku juga menikah, serta memiliki anak.”

Hukum dan Dakwah

Gejala-gejala seperti ini, dengan mudah ditemukan dalam kehidupan nyata. Maka, sangatlah menarik menelusuri bagaimana Profesor Yunahar Ilyas menawarkan pandangan tentang bagaimana membawa prinsip-prinsip Islam moderat ini ke dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Secara sosiologis, umat Islam utamanya di Indonesia, sedang mengalami satu fase yang boleh dibilang tidak ada presedennya di masa lalu. Gairah keberagamaan umat akhir-akhir ini menunjukkan tingkat eskalasi yang semakin meningkat. Jika tidak hati-hati, gejala seperti ini memiliki potensi untuk mengarah kepada ghuluw tadi.

Dalam hal ini, Profesor Yunahar Ilyas menunjukkan kelas kebijaksanaannya sebagai seorang alim. Dalam sebuah ceramahnya yang beredar semakin luas setelah kepergiannya, Profesor Yunahar mengajak umat Islam pada umumnya dan para juru dakwah, khususnya, untuk membedakan antara pendekatan dakwah dan pendekatan hukum. Jika dalam hukum berlaku pendekatan yang tegas dan bersifat hitam putih, dalam dakwah harus berlaku pendekatan yang multiwarna dan lentur.

Baca Juga  Syaikh Khatib Al-Minangkabawi: Maha Guru Tokoh-Tokoh Gerakan Islam Reformis di Nusantara

Ia memberikan contoh kasus tentang seseorang yang tidak (atau belum) menjalankan salat fardlu, tetapi menjalankan ibadah puasa. Pendekatan hukum yang dianut para qadli, kata Profesor Yunahar, akan dengan mudah mengatakan bahwa ibadah puasa tidak akan diterima. Karena syarat diterimanya ibadah seorang Muslim adalah salat. Salat adalah kunci dari semua amal ibadah seorang muslim, dan adalah salat pula yang akan dihisab pertama kali dihitung pada hari kiamat nanti.

Sebaliknya seorang da’i akan menggunakan pendekatan dakwah yang bersifat menggembirakan dan tidak menakut-nakuti. Misalnya, seorang da’i harus mengatakan bahwa sudah baik mau menjalankan puasa. Pada saat yang sama juga memberikan pemahaman pelan-pelan dan sesuai kadar pengetahuan objek dakwah tentang sentralnya posisi salat dalam ajaran Islam dan fungsinya sebagai pembuka amal-amal ibadah lainnya.

Pandangan seperti ini tidak hanya bersifat progresif, tetapi juga sangat relevan dengan situasi keberagamaan. Ketika tidak sedikit pendakwah yang menggunakan pendekatan hitam putih dalam menghadapi realitas keberagamaan di masyarakat. Bahkan terhadap pendekatan hukum yang bersifat hitam putih sekalipun, elemen-elemen spiritual juga harus dimunculkan agar hukum tidak bersifat kaku.

Islam Moderat dalam Muhammadiyah

Jika ditarik pada konteks Muhammadiyah, pandangan moderatisme Islam yang dikemukakan Pofesor Yunahar Ilyas di atas jelas merupakan ekspresi dari pandangan dan prinsip keberagamaan Muhammadiyah. Pertama, washatiyah dalam arti menjalankan Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah merupakan pandangan keberagamaan Muhammadiyah yang paling mendasar.

Inilah salah satu bentuk kontekstualisasi prinsip al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah. Meskipun bisa dimaknai dengan berbagai konteks, prinsip al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah sesungguhnya merupakan ekspresi wasathiyah Islam itu. Selama ini, saya sangat sering mengutip pandangan Profesor Kuntowijoyo yang memaknai prinsip al-ruju ila al-Qur’an wa al-Sunnah tadi sebagai “pembebasan” dan “pembatasan.” Maka, saya menemukan makna ketiga dari prinsip ini melalui pandangan Profesor Yunahar, yaitu sebagai ekspresi wasathiyah al-Islam.

Kedua, prinsip dakwah Islam yang “menggembirakan dan bukan menakut-nakuti”, dan “memberikan kemudahan bukan mempersulit,” juga memperoleh kontekstualisasinya dalam dakwah Muhammadiyah. Jargon Muhammadiyah yang menyatakan ber-Islam dengan gembira, menurut Profesor Yunahar merupakan bukti nyata bahwa Muhammadiyah menganut prinsip moderatisme dalam beragama.

Tidak hanya itu, dalam konteks tertentu, Profesor Yunahar juga terlihat sangat lentur dalam memaknai agama. Misalnya, dalam sebuah ceramah, ia melemparkan soal tentang di mana harus tinggal selama menjalankan ibadah haji. Menurutnya, jika ada hotel yang nyaman, kenapa harus tinggal di luar.

Baca Juga  M. Dawam Rahardjo, Pemikir Ekonomi yang Dituduh Liberal dan “Dipecat” dari Muhammadiyah

Jika ada di antara pilihan hotel yang nyaman dan tenda di luar yang kurang nyaman, seseorang yang memiliki kemampuan untuk membayar hotel tetapi memilih tinggal di tempat yang kurang nyaman dengan alasan bahwa dengan memilih bersusah-susah payah itu supaya mendapatkan pahala yang lebih besar, Profesor Yunahar dengan tegas menyatakan hal yang seperti itu tidak berlaku dalam ajaran Islam.

Sekilas pandangan ini terlihat sederhana. Tetapi jika direnungkan lebih mendalam, pandangan ini sebenarnya tidak hanya sejalan dengan prinsip-prinsip wasathiyah ajaran Islam, tetapi juga menunjukkan pemikiran progresif dan kontekstual Profesor Yunahar. Sisi-sisi seperti inilah yang akan sangat menarik diungkap dalam upaya penelusuran pemikiran keagamaan Profesor Yunahar yang lebih komprehensif.

Penutup

Pada bulan Ramadhan 1440 H, saya mendapatkan kehormatan yang luar biasa besar. Pada Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya tampil dalam satu sesi bersama Profesor Yunahar Ilyas dan Profesor Syafiq A Mughni membahas sebuah topik besar tentang “Risalah Pencerahan bagi Umat Islam.”

Berbicara di depan pimpinan Muhammadiyah se-Indonesia, apalagi bersama dua tokoh senior Muhammadiyah ini tentulah saya tidak menempatkan diri sebagai panelis. Lebih tepatnya, saya justru menjadikan kesempatan itu sebagai proses magang. Secara tidak langsung saya belajar kepada dua tokoh ini tentang bagaimana menyampaikan gagasan dalam kemasan-kemasan yang membumi namun tetap tidak kehilangan kualitas dan substansinya.

Pada kesempatan itu, sangat jelas bagaimana Profesor Yunahar Ilyas memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk wacana keagamaan warga Muhammadiyah. Pengetahuan keagamaannya yang sangat ensiklopedis dan pengalaman dakwahnya di lapangan yang sangat kaya, menjadikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit bisa dijabarkan dengan gamblang dan mudah dicerna. Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan kelihatan sepele, justru mendapatkan pembobotan dari jawaban Profesor Yunahar yang komprehensif.

Kini Profesor Yunahar telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Ceramah-ceramah dan percikan-percikan pemikirannya tak mungkin lagi bisa kita ikuti secara langsung. Namun, gagasan-gagasan dan spektrum pemikirannya tentang Islam yang moderat, tengahan, wasatiyyah, akan selalu menjadi warisan tak ternilai bagi umat Islam Indonesia, dan khsusunya Muhammadiyah.

Menjadi kewajiban bagi generasi muda Muslim Indonesia, untuk tidak hanya menghidup-hidupi pemikirannya, tetapi juga melanjutkan dan mengembangkannya demi menciptakan wajah Islam yang ramah, memihak dan memberdayakan. Selamat jalan, Profesor Yunahar Ilyas.

Editor: Nabhan Mudrik Alyaum
Print Friendly, PDF & Email
34 posts

About author
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Articles
Related posts
Inspiring

Aceng Zakaria, Ulama Jago Baca Kitab Kuning dengan Segudang Karya

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Ribuan orang berkumpul di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat untuk ikut mensalati jenazah alm. KH Aceng…
Inspiring

Fariduddin Attar, Inspirator Dunia Sastra Global

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sastra Islam pada generasi awal banyak dibanjiri oleh karya-karya bernuansa sufistik. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena hampir…
Inspiring

Von Goethe, Sastrawan Jerman Pengagum Nabi Muhammad

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sepanjang lebih dari empat belas abad, entah sudah berapa ribu sajak yang digubah maupun ditulis oleh umat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *