Zaid bin Ali, Penggagas Sistem Kredit dalam Islam - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Zaid bin Ali, Penggagas Sistem Kredit dalam Islam

2 Mins read

Bicara perekonomian tidak lepas dari perdagangan. Di era klasik Islam, bisnis ini sangat dekat dengan sosok Nabi Muhammad. Beliau pernah berdagang sebelum menikah dengan Sayyidah Khadijah. Sahabat-sahabat beliau juga banyak yang dikenal sebagai pedagang sukses seperti Utsman bin Affan.

Jiwa bisnis ini kemudian menurun kepada keturunannya, yakni Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah binti Nabi Muhammad. Zaid bin Ali inilah yang mengenalkan penjualan secara kredit. Beliau lahir pada tahun 80H /699 M. Sejak belia sudah terdidik di lingkungan para pecinta ilmu dan senang berfikir. Guru-guru beliau berasal dari keluarga dan para ulama di era tabi’in yang menyelenggarakan pengajian di masjid Nabawi. (Adiwarman:2014)

Guru utama Zaid bin Ali bukan lain adalah ayahnya sendiri, Ali Zainal Abidin, seorang fakih dan perawi hadis yang sangat gandrung dengan ilmu dan menjauhi politik. Pada tahun 25 Muharram 95 H/ 713 Masehi ayahnya wafat, beliau kemudian diasuh oleh saudara tertua ayahnya, yaitu Muhammad al–Baqir (57–113 H/677–732 M), ayah Imam Ja’far as–Sidiq. Selain itu, beliau juga dididik oleh Abdullah bin Husain bin Fatimah binti Nabi Muhammad, guru Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Sufyan as-Sauri.

Zaid bin Ali juga belajar kepada Muhammad bin Hanafiyah bin Ali bin Abu Thalib, seorang pakar ilmu kalam pada zaman itu. Kecintaan pada ilmu pengetahuan dan semangatnya dalam menyebarkan kebaikan membuatnya berkeliling ke berbagai daerah. Tujuannya untuk bertemu dengan para alim saat itu guna memperdalam ilmu di bidang akidah, fikih dan hadis. Di Basrah, Zaid bin Ali sempat berjumpa dengan seorang pemuka Mu’tazilah, yakni Wasil bin Atha’.

Berbagai kota telah dikunjungi oleh Zaid bin Ali; Hijaz, Basrah, dan Syam. Majelis-majelis ilmu pada saat itu hampir tidak pernah kosong dari nama besarnya. Sehingga mendapat pujian dan sanjungan dari banyak ulama dan berbagai pihak. Karena kealimannya, golongan Syi’ah sampai-sampai membaiatnya menjadi Imam.

Baca Juga  Siapakah Pengusul Nama Organisasi Aisyiyah?

Popularitas Zaid bin Ali menjadi anacaman tersendiri bagi penguasa pada Dinasti Umayah. Oleh sebab itu, tidak jarang aktivitas dan kegiatannya selalu dihambat dan dibatasi. Akhirnya, ketidaksukaan penguasa kepada Zaid bin Ali memuncak sampai akhirnya Zaid bin Ali terbunuh di Kufah dalam pertempuran dengan Khalifah Hasyim bin Abdul Malik.

Penggagas Awal Sistem Kredit

Keunikan sosok Zaid bin Ali adalah selain seorang yang alim dalam bidang agama, beliau juga seorang pebisnis. Diyakini beliau adalah penggagas awal penjualan sistem kredit, di mana suatu komoditi dapat diperjual-belikan dengan pembayaran secara angsuran.

Meskipun dengan harga lebih tinggi, sistem kredit cukup meringankan bagi pembeli yang tidak memiliki uang tunai yang besar. Pemikiran tersebut terlihat jelas pada pandangannya. Bahwa penjualan secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dari pada harga tunai merupakan salah satu bentuk transaksi yang sah. Ini dikarenakan selama transaksi tersebut dilandasi oleh prinsip saling rida (terdapat kesepakatan, red) antara kedua belah pihak.  (Abdul : 1996).

Penjualan secara kredit dengan harga yang lebih dari pada jual beli secara tunai, hal tersebut memperingan dan mempermudah pembeli dan juga meningkatkan permintaan pasar. Dimana dengan menciptakan harga yang lebih rendah dari pada harga pembelian dengan maksud untuk menghabiskan stok. Dalam arti lain, stok barang yang kemukinan bisa saja naik maupun turun karena permintaan pasar harga yang diproleh tetap stabil dan memperoleh uang tunai. Dengan demikian, pendapat seperti itulah bukanlah riba.

Dengan demikian, dalam lingkup syariah setiap kontrak baik buruknya ditentukan oleh kontrak itu sendiri, tidak dihubungkan dengan kontrak lainnya. Hal tersebut setiap penjualan yang pembayaran ditangguhkan adalah suatu kontrak tersendiri dan memiliki hak tersendiri untuk di periksa hak itu adil atau tidak, tanpa dihubungkan kontra lain.

Baca Juga  Siti Chamamah Soeratno: Srikandi Budaya yang Teguh dan Ulet

Pemeriksaan tersebut apakah kontrak tersebut benar atau tidak. Fatwa yang ada dalam suatu kontrak yang terpisah harga yang dibayar tunai yang lebih rendah, hal ini tidak mempengaruhi keabsahan akad jual beli kredit dengan pembayaran yang lebih tinggi, dikarenakan kedua akan tersebut berbeda antara satu sama lain. ( Nur: 2010)

Begitu hebatnya Zaid bin Ali yang hidup di era klasik sehingga pemikirannya tentang kredit masih bertahan hingga sekarang dalam perekonomina kontemporer. Pemikirannya di era sekarang dalam jual beli melalui kredit guna mempermudah pembeli.

Editor: Dhima Wahyu Sejati

Moch Jamilul Latif
1 posts

About author
Lahir di Prambon Nganjuk, Mahasiswa AFI (Aqidah Filsafat Islam) Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Santri Ponpes Mahasiswa Darul Arqom Surabaya.
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Islam Mazhab Ukhuwah: Mengenang Jalaluddin Rakhmat

4 Mins read
Salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib, Imam Al-Askari, pernah menyebutkan bahwa di antara tanda-tanda pengikut Ali adalah, “Orang yang berjuang di…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Selamat Jalan Dr. Najamuddin Ramli, Kader Militan Muhammadiyah

5 Mins read
“Muhammadiyah kehilangan kader yang militan serta memiliki pemikiran dan pergaulan yang luas”. Demikian ungkapan duka yang mendalam dari Ketua Umum PP Muhammadiyah…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan

6 Mins read
Pembahasan pada bagian sebelumnya telah menyinggung beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat. Selain itu, diulas pula pendapat Jalaludin Rakhmat tentang peran agama di era…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa