back to top
Senin, April 6, 2026

Ancaman El Nino, Gejolak Global dan Risiko Krisis Pangan di Indonesia

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Ancaman El Nino yang diprediksi melanda Indonesia mulai pertengahan tahun 2026 semakin menambah kekhawatiran akan terjadinya guncangan pangan nasional. Fenomena cuaca ekstrem ini datang bersamaan dengan gangguan pasokan pupuk akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, sehingga berpotensi menekan produksi pertanian secara signifikan dan mengancam ketahanan pangan masyarakat Indonesia.

Konflik berkepanjangan di berbagai kawasan dunia telah mengacaukan pasar energi global, yang langsung berdampak pada ketersediaan dan harga pupuk. Saat petani di seluruh Indonesia mulai mempersiapkan musim tanam mendatang, perhatian utama kini beralih dari sekadar harga minyak ke sumber daya yang tak kalah krusial, yaitu pupuk dan ketersediaan air irigasi. Ancaman El Nino diperkirakan akan memperburuk kondisi ini dengan mendatangkan musim kemarau yang lebih panjang, lebih kering, dan mengurangi curah hujan di berbagai sentra produksi pangan utama seperti Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

Dalam dua tahun terakhir, lembaga-lembaga dunia seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Bank Dunia telah berulang kali menyampaikan peringatan serius. Mereka menegaskan bahwa krisis pangan global saat ini tidak lagi disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan oleh kombinasi mematikan antara konflik geopolitik dan perubahan iklim. Lonjakan harga energi yang terjadi sejak tahun 2022, ditambah gangguan rantai pasok akibat berbagai konflik, telah menyebabkan harga pupuk dunia melonjak lebih dari 70 persen dibandingkan rata-rata sebelum pandemi. Situasi yang belum sepenuhnya pulih ini kini kembali terancam oleh ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Tarsono, seorang petani padi dari Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, Jawa Barat, mengungkapkan kondisi terkini di lapangan. Menurutnya, untuk musim tanam pertama tahun 2026, perkembangan tanaman padi masih cukup baik dan memberikan harapan positif.

“Perkembangan tanaman padi sejauh ini cukup menggembirakan, untuk musim tanam pertama masih aman,” katanya saat dihubungi pada Minggu (5/4/2026).

Namun, Tarsono menyatakan kekhawatirannya terhadap musim tanam kedua yang biasanya berlangsung pada bulan Juni hingga Juli.

Baca Juga:  Komunikasi Berkemajuan APIK PTM

“Kalau pupuk langka dan ditambah ancaman El Nino yang membuat cuaca lebih kering, pasti akan sangat berpengaruh terhadap produksi padi kami,” ujarnya sebagai anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim.

Kekhawatiran yang dirasakan Tarsono sebenarnya mencerminkan situasi yang lebih luas di tingkat global. Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi melonjak tajam, yang kemudian mengganggu rantai pasok pupuk kimia dan pestisida. Selat Hormuz, yang dikenal sebagai urat nadi perdagangan internasional, menjadi semakin rentan. Data menunjukkan bahwa hingga 30 persen perdagangan pupuk global melewati selat tersebut, termasuk pasokan gas alam cair (LNG) yang menjadi bahan baku utama pupuk urea, serta sekitar 27 persen minyak dunia.

Produksi pupuk nitrogen melalui proses Haber-Bosch sangat bergantung pada energi. Sekitar 70 hingga 80 persen biaya produksi urea berasal dari gas alam. Oleh karena itu, setiap kenaikan harga energi hampir selalu langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga pupuk di pasar dunia.

Meskipun demikian, PT Pupuk Indonesia (Persero) memberikan keyakinan bahwa pasokan pupuk di dalam negeri masih relatif aman. Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Kamis (2/4/2026), menyatakan bahwa kebutuhan pupuk urea nasional sebagian besar dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Indonesia sendiri memiliki kapasitas produksi urea operasional sebesar 8,8 juta ton, dengan kapasitas terpasang mencapai 9,4 juta ton.

“Saya ingin meyakinkan bahwa terkait stok pupuk di Indonesia semuanya aman. Indonesia adalah negara eksportir urea, sehingga suplai yang terganggu di pasar global tidak akan terlalu berdampak,” tegas Rahmad.

Ia juga memastikan bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak akan mengalami kenaikan meski terjadi gejolak di Selat Hormuz.

Namun, pakar pertanian dari IPB University, Prof. Dr. Suryo Wiyono, memberikan pandangan yang lebih hati-hati. Menurutnya, meskipun pasokan urea relatif aman karena diproduksi di dalam negeri, secara keseluruhan pasokan pupuk Indonesia tetap rentan. Proses produksi urea tetap membutuhkan energi dari gas alam. Jika pasokan energi terganggu atau harganya melonjak, biaya produksi pupuk dalam negeri akan ikut terdorong naik.

Baca Juga:  Islam dan Kristen: dari Kata Bersama ke Aksi Bersama

Suryo menambahkan bahwa pupuk fosfor dan kalium sebagian besar masih bergantung pada bahan baku impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026 menunjukkan bahwa 42,89 persen impor bahan fosfor dan kalium berasal dari negara-negara Eropa seperti Rusia, Belarus, Jerman, dan Norwegia, serta Mesir dan Jordania. Rusia dan Belarus menguasai lebih dari sepertiga pasokan fosfor global, sehingga gangguan di negara-negara tersebut langsung berdampak pada harga pupuk dunia.

Harga pestisida juga diprediksi naik antara 20 hingga 30 persen. Jika pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan HET pupuk subsidi, maka beban anggaran subsidi pupuk yang selama ini sudah mencapai Rp 30-40 triliun per tahun berpotensi semakin membengkak.

Ancaman El Nino yang semakin mendekat semakin memperburuk situasi ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal dan bersifat lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Secara historis, fenomena El Nino selalu memberikan dampak serius terhadap produksi pangan Indonesia, terutama melalui penurunan curah hujan dan peningkatan risiko kekeringan di lumbung-lumbung padi.

El Nino kuat pada tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan 1996. Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional. Sementara itu, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April, atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Pelarangan Ideologi Khilafah: Tanggapan Muhammadiyah, NU dan MUI?

Dampak ancaman El Nino akan semakin besar jika terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya produksi akibat gangguan pupuk dan energi. Untuk mengantisipasi kondisi ini, diperlukan strategi adaptasi yang lebih kuat di tingkat petani maupun kebijakan pemerintah.

Suryo Wiyono merekomendasikan penerapan teknologi budidaya yang lebih ekologis dan berkelanjutan.

“Kita harus melakukan penghematan penggunaan pupuk dan pestisida pabrikan dengan menerapkan teknik budidaya biointensif dan peningkatan bahan organik tanah,” jelasnya.

Teknik biointensif yang telah dikembangkannya terbukti mampu mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30 persen dan pestisida hingga 70 persen tanpa menurunkan hasil panen. Pendekatan ini juga meningkatkan kandungan bahan organik tanah, sehingga tanaman menjadi lebih tahan terhadap kekeringan yang disebabkan oleh ancaman El Nino. Selain itu, peningkatan bahan organik juga membantu menghemat penggunaan air irigasi dan mengurangi ketergantungan pada pompa air berbahan bakar minyak.

Pendekatan berkelanjutan ini sejalan dengan rekomendasi FAO yang mendorong pertanian ramah lingkungan di seluruh dunia. Di tengah krisis ganda yang melibatkan perang, krisis energi, dan perubahan iklim, saatnya Indonesia mempercepat transisi menuju pupuk dan pestisida ekologis, serta memanfaatkan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa, dan tenaga angin di sektor pertanian.

Krisis yang dihadapi saat ini bukanlah ancaman tunggal, melainkan pertemuan dari tiga faktor besar yang saling memperkuat: perang, energi, dan iklim. Bagi petani seperti Tarsono di Indramayu, semua ini bukan sekadar data statistik atau proyeksi, melainkan kekhawatiran nyata sehari-hari. Apakah pupuk akan tersedia tepat waktu? Apakah air irigasi cukup? Dan apakah panen masih bisa diandalkan di tengah ancaman El Nino yang semakin nyata?

Dengan persiapan yang matang, penerapan teknologi ramah lingkungan, dan kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan dapat meminimalkan dampak ancaman El Nino serta gejolak global, sehingga ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tahun 2026 dan seterusnya.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds